Alkisah Jayakatwang mengirim pasukan untuk menyerbu Singasari dengan tujuan merebut tahta dari Kertanegara. Sang raja pun lalu mengutus menantunya untuk memimpin pasukan guna menangkal serangan Jayakatwang. Penyerangan ini sebenarnya adalah taktik pengalihan supaya ibu kota kosong. Di tengah kekosongan ini terjadilah peperangan yang mengakibatkan terbunuhnya Raja Kertanegara.
Akhirnya Jayakatwang berhasil menduduki singgasana.
Keruntuhan Singasari membuat Raden Wijaya yang saat itu merupakan panglima perang kerajaan tersebut melarikan diri dengan pasukan yang tersisa. Mereka memutuskan untuk pergi ke arah timur supaya tidak terus menerus dikejar oleh pasukan Kediri. Hingga kemudian ia bertemu dengan penguasa Songeneb (atau Sumenep) yang bernama Arya Wiraraja.
Arya Wiraraja dan Raden Wijaya lalu menyusun rencana untuk merebut tahta dari Jayakatwang. Raden Wijaya berjanji jika berhasil menjatuhkan Jayakatwang, ia akan membagi kekuasaan dengan Wiraraja.
Raden Wijaya yang masih dendam memakai taktik dengan bantuan Arya Wiraraja.
Arya Wiraraja menyampaikan bahwa Raden Wijaya sudah menyerah dan ingin mengabdikan diri pada Jayakatwang. Tanpa pikir panjang, Jayakatwang langsung menerimanya dan mengirim utusan untuk menjemput Wijaya.
Selanjutnya, Raden Wijaya meminta dibangun kawasan wisata perburuan di Hutan Tarik yang disetujui Jayakatwang. Lalu Raden Wijaya membabat hutan tersebut, menjadikannya desa, serta membentuk komunitas. Letak hutan dekat dengan aliran Sungai Brantas.
Di wilayah itu pula Wijaya menemukan buah maja yang ternyata memiliki rasa pahit. Dari sinilah ia menamai desa tersebut Majapahit. Sebuah desa yang terus berkembang dan menarik orang-orang untuk tinggal di sana.
Kesempatan balas dendam akhirnya tiba saat utusan pasukan Kaisar Mongolia datang.
Mereka diperintah oleh Kubilai Khan, penguasa kekaisaran kala itu. Singkat cerita, Raden Wijaya berjanji pada Kubilai jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang dengan bantuan pasukan Kaisar Mongolia maka ia akan tunduk pada Kubilai.
Serangan tersebut membuat pasukan Jayakatwang kalah.
Setelah berhasil, Raden Wijaya malah menyerang balik pasukan Mongol yang membuat mereka memutuskan meninggalkan Jawa. Keberhasilan Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol membuatnya berhasil mendirikan kerajaan Majapahit pada 1293.
Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti.
Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293. Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah menggulingkan dan membunuh Kertanegara.
Pada tahun 1293, pasukan Mongol sebanyak 20.000 orang yang dipimpin Ike Mese, Kau Hsing dan Shih Pi mendarat di Jawa untuk menyerang Kertanagara, karena pada tahun 1289 Kertanagara telah melukai utusan yang dikirim Kubilai Khan raja Mongol.
Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol ini untuk menghancurkan Jayakatwang. Ia pun mengajak Ike Mese untuk bekerjasama. Wijaya meminta bantuan untuk merebut kembali kekuasaan Wangsa Rajasa di Jawa dari tangan Jayakatwang, dan setelah itu baru ia bersedia menyatakan tunduk kepada bangsa Mongol.
Jayakatwang yang mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan oleh pihak Mongol. Selanjutnya, gabungan pasukan Mongol, Majapahit dan Madura bergerak menyerang Daha, ibu kota Kerajaan Kadiri. Jayakatwang akhirnya kalah dan ditawan bersama putranya Ardharaja dalam kapal Mongol.
Setelah Jayakatwang dikalahkan, Wijaya meminta izin pada pihak Mongol untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Canggu, Majapahit, Wijaya dan pasukannya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya.
Pada 19 April 1293, Raden Wijaya memimpin pasukannya menyerang tentara Mongol. Tentara Mongol yang sedang berpesta di Daha diserbu oleh pasukan Majapahit. Setelah kehilangan 3.000 orang tentaranya, Ike Mese memutuskan mundur. Sisa pasukan Mongol akhirnya meninggalkan Jawa pada 24 April 1293.
Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di negeri asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Kemudian Wijaya menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit yang pertama dengan gelar Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardana. Menurut Kidung Harsa Wijaya, penobatan tersebut terjadi pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka, atau bertepatan dengan 12 November 1293.
Sumber :
https://www.merdeka.com/trending/tempat-ini-jadi-lokasi-awal-raden-wijaya-dirikan-majapahit-dari-desa-jadi-kerajaan-raden-wijaya.html
https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/mengenal-raden-wijaya-sebagai-pendiri-kerajaan-majapahit-20fbrmJqWTq/full
https://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya
https://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit
No comments:
Post a Comment