Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Sunday, January 14, 2024

Misteri 11 Hari Hilang dalam Sehari

Pernah membayangkan sebuah hari tiba-tiba hilang dari kalender? Bahkan ini bukan 1 hari, melainkan 11 hari. Aneh?. Ya, kejadian aneh yang mengejutkan itu pernah terjadi pada tahun 1752, tepatnya pada bulan September.

Lho, hilang kemana 11 hari di bulan September tahun 1752?.

Sejarah menyimpan banyak kisah yang sering kali membingungkan dan mengundang perdebatan. Salah satu episode yang sangat kontroversial adalah perubahan kalender di Inggris pada tahun 1752, yang berdampak pada hilangnya sebelas hari dalam sejarah Inggris.

Pada bulan September tepatnya pada tanggal 2 tahun 1752 pernah terjadi keanehan yang luar biasa mengejutkan. Dari tanggal 2 september 1752 tersebut tidak ada tanggal 2 sampai dengan tanggal 13, namun langsung melompat ke tanggal 14 September 1752. 

11 hari menghilang secara misterius.

Kehebohan ini terjadi di Inggris pada waktu itu. Para penduduknya heboh ketika terbangun keesokan harinya setelah tanggal 2 september 1752, mereka terkejut karena mereka terbangun pada tanggal 14 bukannya tanggal 3 September, kemana 11 hari yang hilang itu?.

Apa mereka tertidur selama 11 hari lamanya?.

Keanehan hilangnya 11 hari pada tahun tersebut terjadi karena perubahan penanggalan yang semula menggunakan kalender ‘Julian’ menjadi kalender ‘Gregorian’. Sebenarnya kalender Gregorian ini sudah lama diperkenalkan dan dipakai di benua eropa yaitu sejak tahun 1582 namun di Inggris baru dipergunakan pada tahun 1752.

Sedangkan Inggris masih menggunakan sistem Kalender Julian. 

Kalender Julian merupakan salah satu perhitungan kalender tertua yang ada di dunia. Kalender Julian mulai digunakan pada 45 Masehi (M). Para astronom akhirnya menemukan bahwa kalender Julian adalah kalender dengan penanggalan yang cacat. Hitungan dari kalender ini memiliki kelebihan 10 hari antara 325 M dan 1582 M.

Setelah mengalami perdebatan panjang, akhirnya Inggris menerima kekeliruan penanggalan tersebut dan mengikuti sistem penanggalan yang dipakai oleh bangsa Romawi seperti hari ini.

Kalender Julian yang dulu mereka pergunakan menentukan satu tahun itu persis berjumlah 365 hari 6 jam, padahal sebenarnya bumi mengelilingi matahari kurang dari waktu tersebut, sehingga 365 hari dan 6 jam yang ditetapkan tersebut kelebihan waktu 11 menit 10 detik. 

Artinya setiap tahun mereka kelebihan waktu 11 menit 10 detik dan akan menjadi 24 jam (1 hari) setiap 131 tahun, menjadi 3 hari setiap 400 tahun, dan pada tahun 1582 jumlah kelebihannya mencapai 10 hari. 

Untuk menghindari kesalahan yang lebih fatal maka pada tanggal 5 Oktober tahun 1582, diadakan perubahan penanggalan dari Julian ke Gregorian dan melompat sepuluh hari sehingga besoknya langsung menjadi tanggal 15 Oktober.

Inggris yang belum menggunakan kalender Gregorian Tahun 1752 kebingungan karena perbedaan telah tumbuh menjadi 11 hari , dan Inggris pun akhirnya merubah penanggalan mereka menjadi kalender Gregorian dan kemudian kelebihan 11 hari tersebut dihilangkan untuk menyesuaikan dengan waktu yang sebenarnya, dan kejadian itu terjadi tanggal 2 September 1752 besoknya langsung tanggal 14 September 1752.

Kesalahan perhitungan tahun matahari sebanyak 11 menit setiap tahunnya menyebabkan penyesuaian yang signifikan dalam penanggalan. Perbedaan 11 hari mungkin tidak terlihat banyak, tetapi apabila diakumulasikan selama lebih dari 1.300 tahun akan menjadi banyak. 

Untuk mengganti dan menyelaraskan dengan kalender baru bukanlah proses yang sederhana. Untuk sinkronisasi, 11 hari dihilangkan. Ketika kebijakan diberlakukan, orang-orang mengira hidup mereka dipersingkat 11 hari. Mereka juga tidak senang dan menjadi curiga dengan pergeseran hari raya, termasuk Paskah.

Ada kerusuhan di daerah pedesaan karena orang-orang berpikir pemerintah mencoba menipu mereka dari 11 hari dari kehidupan mereka. Meskipun hari ini menghilang di tanah Inggris tahun 1752, Perancis pada tahun 1582, Austria pada tahun 1584, dan Norwegia pada tahun 1700.

Legenda masa lalu menyebutkan bahwa ada kerusuhan dan tuntutan Berikan Kami Kembali 11 Hari! Namun, sebagian besar sejarawan modern percaya bahwa ini adalah mitos belaka. Klaim ini mungkin muncul dari salah tafsir lukisan William Hogarth yang menggambarkan slogan tersebut.


Sumber :

https://bukanrahasiaku.blogspot.com/2014/05/hilangnya-11-hari-pada-bulan-september.html

https://nasional.kompas.com/read/2022/09/01/00000051/tanggal-2-september-hari-memperingati-apa-#

https://www.brilio.net/news/mengejutkan-11-hari-di-bulan-september-1752-pernah-hilang-kalender-1504254.html

https://www.tribunnewswiki.com/2020/09/03/hari-ini-dalam-sejarah-3-september-11-hari-di-inggris-hilang-karena-kalender-gregorian-digunakan

Sunday, December 31, 2023

Mitos Nagini di 'Fantastic Beasts 2' Berasal dari Indonesia

Devy Octafiani - detikHot

Kamis, 27 Sep 2018 10:56 WIB


Karakter Nagini dalam 'Fantastic Beasts 2' menjadi perbincangan seiring trailer akhir sekuel spin-off Harry Potter itu dirilis baru-baru ini. Ia nyatanya bukan hanya binatang seperti yang diketahui lewat film-film Harry Potter selama ini.

Nagini adalah maledictus yakni seseorang yang darahnya dikutuk sejak lahir dan akhirnya akan berubah menjadi binatang. Sang penulis sekaligus kreator J.K Rowling menyebut, ia terinspirasi dari salah satu mitos Indonesia kala dirinya menciptakan karakter ini dalam kisah Harry Potter.

"Naga adalah makhluk mitologis mirip ular mitologi Indonesia, itulah asal mula 'Nagini'. Mereka kadang-kadang digambarkan bersayap, kadang-kadang setengah manusia, setengah ular," ungkap J.K Rowling menanggapi pertanyaan fans yang penasaran akhirnya hewan kesayangan Voldemort ini muncul dengan kisah tersendiri.

Penulis terkaya di dunia ini pun menambahkan tanggapannya terkait isu rasial karena terpilihnya bintang Asia Claudia Kim yang akhirnya memerankan Nagini. Terpilihnya Kim dinilai Rowling mewakili karakter Naga dalam budaya Indonesia yang memiliki campuran pengaruh dari budaya-budaya lainnya.

"Indonesia terdiri dari beberapa ratus kelompok etnis, termasuk Jawa, Cina ,dan Betawi," tutur J.K Rowling lagi.

Setelah diumumkannya karakter Nagini diperankan oleh Claudia Kim, 'Fantastic Beasts 2' juga diterpa komentar yang menyebut film ini tak sensitif secara rasial oleh penggemar.


Sumber :

https://hot.detik.com/movie/d-4231156/mitos-nagini-di-fantastic-beasts-2-berasal-dari-indonesia.

Sejarah Perayaan Tahun Baru dan Konspirasi Yang Tersirat


Sejarah Perayaan Tahun Baru, Dulunya Dirayakan 11 Hari Berturut-turut!

Niken Bestari - Jumat, 30 Desember 2022 | 15:00 WIB

Sejak kapan perayaan tahun baru dilaksanakan? Kita cari tahu sejarah perayaan tahun baru, yuk! Ternyata dulu tahun baru dirayakan selama 11 hari, lo! Hal ini menarik diketahui, karena tahun baru dirayakan oleh seluruh masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia.

Perayaan tahun baru memang identik dengan pesta kembang api pada 31 Desember hingga 1 Januari dini hari. Tak lupa, kita akan melakukan hitungan mundur bersama-sama. Ternyata, tradisi perayaan tahun baru sudah ada sejak ribuan tahun lalu, lo!

Meski masyarakat zaman kuno ada yang belum menggunakan kalender Masehi seperti sekarang ini, mereka merayakan tahun baru berdasarkan penanggalan masing-masing. Berikut sejarah perayaan tahun baru Masehi seperti dirangkum dari Kompas.com.

Sejarah Perayaan Tahun Baru

Sejarah perayaan tahun baru sudah ada sejak ribuan tahun lalu, yakni sekitar 4.000 tahun lalu di Babilonia Kuno. Namun, saat itu tahun baru tidak dirayakan pada 1 Januari. Bagi orang Babilonia kuno, permulaan tahun adalah bulan baru setelah fenomena vernal equinox.

Fenomena vernal equinox adalah hari di mana durasi siang hari dan durasi malam hari adalah sama. Biasanya, fenomena ini terjadi pada bulan Maret pada penanggalan Masehi. Untuk menyambut tahun baru, masyarakat Babilonia Kuno menggelar festival keagamaan besar-besaran yang disebut Akitu.

Pada festival Akitu, bangsa Babilonia kuno mengadakan ritual tahun baru selama 11 hari berturut-turut. Sumber lain mengungkapkan bahwa perayaan tahun baru telah dilakukan oleh masyarakat Mesopotamia sekitar 2000 SM

Bangsa Mesopotamia merayakan pergantian tahun saat matahari tepat berada di atas garis ekuator atau khatulistiwa, yang sekarang bertepatan dengan 20 Maret. Perayaan tahun baru oleh bangsa Mesopotamia itu disebut Nowruz, yang sampai saat ini masih dilakukan di beberapa negara Timur Tengah.


Perayaan Tahun Baru 1 Januari

Sejarah perayaan tahun baru pada 1 Januari pertama kali dilakukan di masa Kaisar Romawi Julius Caesar pada 46 SM. Kala itu, Julius Caesar memutuskan mengganti penanggalan Romawi yang terdiri dari 10 bulan atau 304 hari yang dibuat Romulus pada abad ke-8.

Kemudian, Julius Caesar mengenalkan kalender Julian yang terdiri dari 365 hari. Kalender Julian Masehi itu memiliki dua bulan tambahan, yakni Januari dan Februari di awal tahun. Selain itu, 1 Januari ditetapkan sebagai hari pertama dalam satu tahun.

Julius Caesar juga memerintahkan tambahan satu hari setiap empat tahun sekali, yakni pada Februari. Nama bulan Januari diambil dari nama dewa dalam mitologi Romawi, yaitu Dewa Janus, yang memiliki dua wajah menghadap ke depan dan ke belakang.

Masyarakat Romawi Kuno meyakini bahwa Dewa Janus adalah dewa yang mampu melihat masa lalu, sekaligus masa depan. Untuk menghormati Dewa Janus, orang-orang Romawi mengadakan perayaan setiap 31 Desember tengah malam guna menyambut 1 Januari.

Perayaan tahun baru 1 Januari pertama dilakukan oleh orang Romawi Kuno dengan memuja Dewa Janus, dengan melakukan festival dan pemujaan. Kemudian, bangsa Romawi Kuno meniru bangsa Tiongkok yang menggunakan kembang api dalam perayaan hari besar.

Nah, itulah kenapa perayaan tahun baru identik dengan kembang api, teman-teman. Indonesia pun juga merayakan tahun baru dengan pesta kembang api. Selain itu, ada banyak tradisi perayaan tahun baru di Indonesia, salah satunya ada pesta bakar-bakar barbekyu.

https://bobo.grid.id/read/083635249/sejarah-perayaan-tahun-baru-dulunya-dirayakan-11-hari-berturut-turut?page=all



Sejarah Perayaan Malam Tahun Baru, Siapa yang Pertama Kali Merayakan? 

Kompas.com - 31/12/2021, 14:23 WIB 

Tito Hilmawan Reditya Penulis Lihat 

Peradaban di seluruh dunia merayakan awal setiap tahun baru setidaknya selama empat milenium. Saat ini, sebagian besar perayaan Tahun Baru dimulai pada 31 Desember, atau disebut Malam Tahun Baru, hari terakhir kalender Gregorian, dan berlanjut hingga dini hari 1 Januari. Tradisi umum termasuk menghadiri pesta, makan makanan khusus Tahun Baru, membuat resolusi untuk tahun baru, dan menonton pertunjukan kembang api. 

Dilansir History, perayaan paling awal yang tercatat untuk menghormati kedatangan tahun baru dimulai sekitar 4.000 tahun yang lalu di Babel kuno. Bagi orang Babilonia, bulan baru pertama terjadi setelah vernal equinox atau hari di akhir Maret.   Saat itu, jumlah sinar matahari dan kegelapan yang sama menandakan dimulainya tahun baru. 

Mereka menandai kesempatan itu dengan festival keagamaan besar-besaran yang disebut Akitu yang melibatkan ritual berbeda setiap 11 hari. Sepanjang zaman kuno, peradaban di seluruh dunia mengembangkan kalender yang semakin canggih. Kalender biasanya menyematkan hari pertama tahun itu ke acara pertanian atau astronomi. 

Di Mesir, misalnya, tahun dimulai dengan banjir tahunan Sungai Nil, yang bertepatan dengan terbitnya bintang Sirius. Sementara itu, hari pertama tahun baru China terjadi dengan bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin.

https://www.kompas.com/global/read/2021/12/31/142300170/sejarah-perayaan-malam-tahun-baru-siapa-yang-pertama-kali-merayakan-.



Konspirasi Masehi & Tahun Baru

Penulis Al-Anwar Media -29 Desember 20222792 1

Pernahkah anda terpikir bagaimana asal-usul Tahun Baru Masehi? Atau kenapa event Natal dan Tahun Baru Masehi terlihat dengan corak yang sama dan bernuansa Kristiani?. Di sini anda akan menemukan fakta Konspirasi di balik serba-serbi Tahun Baru Masehi.

Tak terasa 2 hari lagi 2022 akan meninggalkan kita. Banyak kenangan manis ataupun getir di dalamnya. Lalu kemudian, doa dan harapan datang dari postingan-postingan instagram story kekinian untuk menyambut tahun baru 2023.

Seluruh penjuru dunia akan serentak merayakan pelepasan tahun 2022 pada malam 31 Desember sampai pukul 00:01 di tiap-tiap waktu masing-masing daerah dan negara. Mirisnya, beberapa orang ada yang merayakannya dengan pesta seks bebas. Naudzubillah.

Perayaan tahun baru di Indonesia biasa dimeriahkan dengan menyalakan kembang api dan melepas balon api ke udara. Kaum muda-mudi juga tak mau ketinggalan ikut memeriahkan momen pergantian tahun baru.

Sayangnya, beberapa media memberitakan perayaan tahun baru oleh muda-mudi ini terbilang sangat negatif dan dan menunjukkan kemerosotan moral para penerus bangsa ini. Pada 2010 lalu, di Riau, sempat heboh karena pada perayaan tahun baru para muda-mudi di sana malah “kumpul kebo”. Naudzubillah, miris sekali.


Asal-Usul Perayaan Tahun Baru

Kalau kita cermati dari beberapa hal negatif perayaan tahun baru di berbagai negara, seperti Brazil, Rusia, Amerika, dan bahkan Indonesia pada era modern seperti sekarang, rasanya aneh jika tradisi ini tidak lahir dengan perayaan yang negatif pula.

Adalah bangsa Babilonia, Mesopotamia yang memelopori tradisi perayaan tahun baru pertama kali. Masyarakat Mesopotamia merayakan pergantian tahun baru dengan mengarak berhala-berhala mereka mengelilingi kota. Mereka menyebutnya dengan ritual Akitu.


Dewa Marduk Mitologi Babilonia, Mesopotamia

Mereka merayakan tahun baru sebagai anggapan kemenangan Dewa Langit Marduk melawan Dewi Laut yang jahat, Tiamat. Perayaan berlangsung selama 11 hari, dan selama masa perayaan itu Raja Babilonia mengenakan mahkota baru sebagai simbol mandat dari sang ilahi.

Masyarakat Mesopotamia merayakan tahun baru mereka pada awal musim semi yang bertepatan dengan pertengahan bulan Maret sekitar tahun 1696-1654 SM.

Pada mulanya orang-orang Romawi Kuno merayakan tahun baru di bulan Maret, yakni tanggal 1 Maret. Penetapan tanggal 1 Maret sebagai tahun baru adalah perintah dari sang pendiri Roma, yakni Romulus pada abad ke-8 SM yang menerapkan penanggalan dalam setahun terdiri dari 10 bulan 304 hari.

Kemudian pada masa kepemimpinan Julius Caesar, perayaan tahun baru berubah menjadi tanggal 1 Januari. Sempat berubah lagi menjadi tanggal 25 Maret, lalu oleh Paus Gregorius XIII awal Tahun Baru kembali seperti semula, 1 Januari.


Kalender Yahudi Berbahasa Ibrani

Berbeda dengan Mesopotamia dan Romawi, orang-orang Yahudi merayakan tahun baru mereka pada awal bulan September sampai dengan awal bulan Oktober, yakni tanggal 6 September sampai 5 Oktober. Orang Yahudi menyebutnya dengan nama Rosh Hashanah.


Bulan Oktober, Awal Tahun Sebenarnya

Menurut penuturan KH. Maimoen Zubair, beliau mendengar dari gurunya, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, bahwa perhitungan falak Syekh Yasin yang merujuk pada penggalan surah at-Taubah ayat 108, tahun baru sebenarnya jatuh pada bulan Oktober. Dalam firman Allah:

لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ

“Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya.”


At-Taubah: 108

Ayat ini turun pada saat Rasulullah SAW hijrah menuju Madinah dari kota Makkah. Masjid yang terdapat pada ayat tersebut adalah Masjid Quba, terletak sekitar 5 km arah tenggara dari kota Madinah dan pembangunannya bertepatan dengan awal bulan Oktober.


Makna “Di Awal Hari” pada ayat tersebut berarti hari pertama di awal tahun yang mengindikasikan bahwa awal perhitungan penanggalan matahari sejak matahari berada di selatan. Firman Allah pada surah al-Quraisy ayat 1-2 juga mendukung gagasan Syekh Yasin ini.


Allah berfirman:

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِۚ (2)


“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy {1}, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. {2}”


Quraisy: 1-2

Pada ayat ini Allah lebih dulu menyebut kata Syitaa yang berarti musim dingin, baru kemudian Allah menyebut kata Shaif yang berarti musim panas. Artinya awal kali titik balik atau ekuinoks musim gugur-dingin pada bulan Oktober dan posisi matahari berada di sebelah selatan.


Sejarah Sebelum Tahun Masehi

Sebelum seperti sekarang ini, orang-orang pada zaman sebelum populernya penanggalan Masehi sudah memiliki penanggalan mereka sendiri sesuai suku, daerah, kepercayaan, atau wilayah kerajaan masing-masing.

Peradaban tertua di dunia, Babilonia, Mesopotamia memiliki kalender penanggalan mereka sendiri. Kalender Babel atau Babilonia adalah kalender lunisolar atau suryacandra yang 1 tahunnya terdiri dari 12 bulan lunar, masing-masing berawal ketika bulan sabit baru terlihat di ufuk barat saat matahari terbenam.

Sama-sama menggunakan kalender lunisolar, orang-orang Yahudi pertama kali mencetuskan kalender mereka sekitar sebelum abad ke-7 SM. Kalender Yahudi ini dimulai dari musim gugur, dan setiap bulannya terdiri dari 29 atau 30 hari.


Peradaban Romawi & Asal-Usul Tahun Masehi

Sekitar pada tahun 753 SM, seorang anak laki-laki dari Rhea Silva keturunan pahlawan Troya bernama Romulus membangun Kota Roma, Kerajaan, dan Peradaban Romawi Kuno yang sekaligus menjadi raja pertama Kerajaan Romawi Kuno.

Romulus adalah orang yang menetapkan penanggalan Roma untuk pertama kalinya dalam sejarah Romawi. Kalender penanggalan Romulus ini terdiri dari 10 bulan 304 hari dan dimulai dari bulan Maret sampai bulan Desember.

Kemudian sepeninggal Romulus, Namu Pompilius sebagai pewaris interrex kerajaan Romawi selanjutnya menambahkan bulan Januarius (Januari) dan Februarius (Februari) pada penanggalan Romawi sehingga menjadi 12 bulan.


Dewa Janus yang memiliki dua wajah

Dewa Janus dalam Mitologi Romawi sebagai Dewa Awal dan Akhir. Nama Januarius berasal dari nama Dewa Janus yang berarti pembuka atau awal tahun baru.

Kata Januarius terinspirasi oleh nama Dewa Janus mitologi Romawi Kuno yang memiliki dua wajah dan orang Babilonia menganggapnya sebagai Dewa Gerbang dan Pembaharuan. Sedangkan Februarius adalah Dewa Kematian dan Pemurnian.

Nama-nama bulan dalam kalender Julius antara lain, Januarius, Februarius, Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintilis, Sextilis, September, Oktober, November, dan Desember. Selain Quintilis, Sextilis, September, Oktober, November, dan Desember, semuanya adalah nama-nama dewa dalam Mitologi Romawi.


Kalender Julius

Julius Caesar pada tahun 46 SM memelopori pembuatan penanggalan baru. Julius Caesar menganggap kalender Romawi Kuno sudah tidak akurat dan tidak relevan lagi. Era sebelum tahun 45 SM disebut dengan “Era Bingung” karena Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi.

Ia bersama seorang astronom asal Mesir (versi lain mengatakan berasal dari Yunani) bernama Sosigenes membuat kalender barunya dan menetapkan tanggal 1 Januari sebagai tahun baru. Julius Caesar menamakan kalender barunya dengan nama Kalender Julius atau Julian dari namanya sendiri.

Kemudian setelah kematiannya pada tahun 44 SM, masyarakat Romawi mengganti nama bulan ke-7 atau Quintilis menjadi Juli sebagai bentuk penghormatan kepada Julius Caesar.

36 tahun setelahnya, yakni pada tahun 8 SM, masyarakat Romawi melakukan pergantian nama bulan ke-8 atau Sextilis menjadi Agustus. Mereka melakukannya juga sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar Oktavianus Augustus putra Julius Caesar.

Kalender Julius ini masih terus digunakan berselang sangat lama sampai pada kelahiran Nabi Isa AS dan penyebaran agama Kristen pada tahun 70 M di tanah Romawi. Sejak kelahiran Nabi Isa AS, istilah “Tahun Masehi” baru dihitung dan digunakan.

Setelah sekian lama agama Kristen terus berjuang dalam penyebarannya, akhirnya pada tahun 306 M saat kepimpinan Kaisar Konstantinus Agung di Romawi, agama Kristen mulai menjadi agama yang dominan di Romawi berkat sang Kaisar yang juga pemeluk agama Kristen.

Sejak saat itu Romawi dan daerah-daerah kekuasaannya mulai menyebut Kalender Julius sebagai Kalender Masehi. Dalam bahasa Romawi atau bahasa Latin mereka menyebut istilah Masehi dengan nama Anno Domini yang berarti “Tahun Tuhan” atau “Di Tahun Tuhan Kita”.

Meskipun sampai saat ini para sejarawan tidak mengenal tahun 0 M yang menyebabkan kerancauan dalam perhitungan sains dan astronomi karena terdapat selisih 1 tahun antara sistem Kalender Masehi dan Sebelum Masehi.


Kalender Gregorius

Pengistilahan Kalender atau Tahun Masehi terus menyebar ke seluruh penjuru Eropa sampai abad ke-8 M, seiring dengan perluasan wilayah Romawi dan perang salib sebagai misi terselubung penyebaran agama Kristen di benua Eropa dari abad ke-11 sampai abad ke-13 M.

Pada awal abad pertengahan, sebagian besar orang Kristen Eropa menganggap tanggal 25 Maret, sebagai awal Tahun Baru. Namun untuk di Anglo-Saxon Inggris, perayaan awal Tahun Baru jatuh pada 25 Desember.

Kemudian, Raja Inggris William I atau yang terkenal dengan William Sang Penakluk memutuskan bahwa Tahun Baru Masehi adalah 1 Januari. Tak berselang lama, Inggris kemudian bergabung dengan negara-negara Kristen dan menetapkan 25 Maret sebagai awal Tahun Baru.

Pada 1582, Gereja Katolik Roma mengadopsi Kalender Gregoria besutan Paus Gregorius XIII sebagai pimpinan Gereja Katolik Roma, yang mengembalikan keputusan bahwa 1 Januari adalah Tahun Baru.


Adat Sesat Penambahan Hari & Bulan

Peradaban Babilonia dan Yahudi sama-sama menambahkan bulan dalam tahun kabisat mereka, yakni bulan ke-13. Pada abad ke-5 SM kalender Babilonia menjadi sepenuhnya observasional.

Kemudian sekitar pada tahun 499 SM, bulan-bulan Kalender Babel diatur dengan siklus 19 tahun-an atau setara 235 bulan. Pada siklus 19 tahun-an ini ahli penanggalan Babel menambahkan bulan ke-13 yang mereka namakan bulan Adaru II sebagai bulan kabisat.

Mengikuti jejak peradaban pendahulunya, orang-orang Yahudi juga menambahkan 1 bulan dalam tahun kabisat mereka yang diberi nama bulan Adar II, mirip dan memang satu serangkaian kata yang sama dengan nama bulan Adaru II milik Babilonia.

Orang-orang Romawi saat masa kekuasaan Julius Caesar pada tahun 46 SM dan orang-orang Kristen Eropa pada masa Paus Gregorius XIII tahun 1582 M juga melakukan hal serupa.

Julius Caaesar dua kali melakukan penambahan hari dalam catatan sejarah. Yang pertama, menambahkan 23 hari dalam setahun dengan total 445 hari dalam setahun pada tahun 46 SM. Dan yang kedua, menambah 67 hari di antara bulan November dan Desember yang berarti pada tahun itu hitungan setahun terdiri dari 15 bulan.


Paus Gregorius XIII Pimpinan Gereja Katolik Roma Tahun 1582

Paus Gregorius XIII mencetuskan penanggalan baru menggantikan kalender Julius dengan namanya sendiri, Kalender Gregorius atau Gregorian yang sekarang telah dan populer dengan istilah penanggalam Masehi modern.

Pada tahun 1582, ia membuat keputusan penanggalan bahwa setiap angka pergantian abad, yakni pada tahun yang tidak habis dibagi 400 -misalnya tahun 1700, 1800 dan seterusnya- bukan lagi sebagai tahun kabisat.

Adanya aturan Kalender Gregorian dalam hal tahun kabisat menyebabkan keesokan hari pada tanggal 5 Oktober hari Jumat 1582 loncat ke tanggal 15 Oktober hari Minggu 1582. Penghapusan 10 hari atau 10 tanggal itu karena alasan mengakomodir sisa 0,00780121 dalam setahun penanggalan matahari pada Kalender Gregorian.


Dalam Al-Quran, 1 Tahun Adalah 12 Bulan

Dalam Al-Quran jumlah bulan dalam setahun terdapat 12 bulan, tidak kurang dan tidak lebih. Allah SWT berfirman:


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ


“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.”


At-Taubah: 36

Dalam kitab Al-Bahrul Muhith karya Imam Ibnu Hayyan al-Andalusi, menceritakan orang Arab sebelum kelahiran Rasulullah SAW membuat penanggalan dalam  terdiri dari 13 bulan. Mereka percaya bahwa di antara 4 bulan yang mulia itu mereka mendapatkan kesialan.

4 bulan itu ialah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Seseorang keturunan Bani Kinanah yang bernama Hudzaifah, menulis ulang penanggalan dengan menambahkan bulan Shafar Tsaniy atau Shafar II. Mirip seperti orang Yahudi dan Babilonia pada penanggalannya.


Hudzaifah Pencetus Penanggalan Arab

Hudzaifah dan para orang Arab pada zaman itu meyakini datangnya kesialan dan paceklik pada saat 4 bulan tersebut. Hudzaifah yang memiliki inisiatif, akhirnya mengubah nama bulan Muharram menjadi Shafar, dan Shafar yang asli menjadi Shafar II.


Teguran Allah Atas Perbuatan Orang Kafir

Kemudian pada masa kenabian Rasulullah SAW, Allah SWT menegur perbuatan orang-orang yang menambahkan jumlah hari atau bulan. Allah SWT menegur dengan firmannya pada surah at-Taubah ayat 37 sebagai lanjutan dari ayat sebelumnya;


إِنَّمَا ٱلنَّسِيٓءُ زِيَادَةٌ فِي ٱلكُفرِۖ يُضَلُّ بِهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُحِلُّونَهُۥ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُۥ عَامًا لِّيُوَاطِ‍ٔئُواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ ٱللهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ ٱللهُۚ زُيِّنَ لَهُمْ سُوٓءُ أَعْمَٰلِهِمۗ وَٱللهُ لَا يَهْدِي ٱلقَوْمَ ٱلكَٰفِرِيْنَ


“Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekafiran. Orang-orang kafir disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sekaligus mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”


At-Taubah: 37

Ayat ini datang sebagai teguran atas perbuatan orang-orang kafir Arab. Dalam ilmu ushul fiqh terdapat kaedah العبرة بعموم اللفظ لا بعموم السبب. Yakni yang dipandang dalam nash syariat adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab.


Mengacu pada nash dan kaedah ushul fiqh tersebut, ayat ini tidak hanya mencakup perbuatan orang kafir Arab. Ayat ini secara umum juga mencakup perbuatan orang-orang kafir Babilonia, Yahudi, dan Romawi.


Kesimpulan & Penutup

Sebagai muslim yang bijak dan taat, sudah sepatutnya untuk tidak mengikuti perayaan hari besar orang-orang non-muslim.

Meskipun yang kita lihat sekarang perayaan tahun baru Masehi tidak identik dengan agama Kristen, tetapi fakta sejarah telah membuktikannya. Yakni, bahwa perayaan tahun baru Masehi sangat erat kaitannya dengan sinkretisme-politeisme ajaran Kristen-Romawi.

Itu artinya merayakan tahun baru Masehi dalam pengkiasannya sama dengan mengucapkan selamat natal dalam bentuk menyerupai kaum Nasrani atau Kristen. Karena itulah merayakan tahun baru -terlebih dengan cara negatif seperti di muka- sangat tidak dianjurkan bagi umat muslim.


https://www.ppalanwar.com/konspirasi-masehi/5/

Friday, December 29, 2023

1Anunnaki, Film Terlarang dan Konspirasi Mengerikan di Baliknya

24 MAY 2021

Mempertanyakan asal-usul manusia, film 1Anunnaki kabarnya dilarang beredar supaya enggak menyebabkan chaos. Benarkah demikian? Atau cuma konspirasi?

Pada masa ketika kisah-kisah konspirasi ramai diceritakan di blog-blog misteri, ada satu kisah yang cukup menyita perhatian dunia. Kisah itu adalah tentang hilangnya film 1Anunnaki dari dunia ini.

Teori konspirasi yang beredar menyebutkan bahwa film 1Anunnaki dilarang beredar karena bisa membuat geger banyak orang. Kabarnya sih, kalau orang sampai menonton film ini, mereka bakal enggak percaya lagi sama Tuhan dan mempertanyakan eksistensi mereka di dunia.

Benarkah sangkaan yang banyak beredar di Internet itu? Seberapa spesial, sih, ide dari 1Anunnaki sampai-sampai isu konspirasi di baliknya ini terdengar cukup mengerikan? Siapa kreator di balik film ‘kontroversial’ ini? Cari tahu lebih dalam yuk!


Bukan Dibuat oleh Sutradara Kelas A

Film 1Anunnaki sebetulnya enggak dibuat sama sutradara A-list yang terkenal. Malah, ia dibuat oleh Jon Gress, seorang pria yang lebih sering mengerjakan special effect. Beberapa karya yang pernah ia kerjakan antara lain adalah Star Trek New Voyages: Phase II (2004-2016), dan Golden Winter (2012). Dia tercatat pernah menjadi sutradara dalam film Balloon (2010), tetapi portfolionya tetap lebih banyak di efek spesial.

Isu yang beredar adalah Jon Gress kemudian mau membuat terobosan dalam karier dengan membuat film yang bakal menjadi kontroversial. Film itu terinspirasi dari karya Zecharia Sitchin, seorang pengarang buku yang kebanyakan membahas tentang asal-usul manusia dari astronaut di planet lain alias alien.


Zecharia Sitchin

Dia percaya bahwa bangsa Sumeria, bangsa dari peradaban kuno yang pertama kali mendiami wilayah Mesopotamia, berasal dari Planet Nibiru. Walaupun keyakinan dia terkenal banget bahkan bisa membius sebagian besar pembaca, para ahli merasa kalau teori dia konyol dan mengada-ada.

Berangkat dari ide itu, 1Anunnaki ingin menyampaikan kepada penonton mengenai bagaimana manusia bermula. Manusia sendiri adalah ras yang dibuat oleh alien dengan mencampurkan DNA mereka sendiri dan DNA kera, supaya manusia bisa menjadi “budak” di muka Bumi ini.


Film Terlarang dan ‘Dihilangkan’?

Kabarnya, 1Anunnaki memang belum pernah dirilis ke bioskop atau di platform lain, tetapi, dikatakan bahwa film itu udah pernah beredar di Internet pada 2005. Hanya saja, enggak lama film itu di-banned karena dianggap provokatif dan dianggap bisa bikin geger.

Ada isu lagi yang beredar bahwa semua data mengenai 1Anunnaki hilang, misalnya seperti situs resminya anunnaki-the-movie.com. Intinya, seluruh dunia sepakat melarang peredaran film ini sehingga enggak bisa ditonton di mana pun. Di IMDb pun, data 1Anunnaki pun enggak ada.


Predikat Terlarang karena Isu yang Mengada-ada?

Pada 2005, internet memang sudah banyak dipakai oleh masyarakat, tetapi, pada masa itu, perlu diingat bahwa hoaks menyebar di mana-mana dan kerap dipercaya karena literasi soal Internet belum semasif sekarang. Bahkan, isu kayak Babushka Lady, awak kapal Mary Celeste, sampai konspirasi Titanic pun banyak beredar di forum atau blog dan masih banyak yang percaya sampai tahun 2010-an.

Dilansir Quora, beberapa penulis, pegiat film, bahkan orang yang pernah bergabung dalam film 1Anunnaki sepakat sama satu hal: hoaks. Lalu, kalau memang hoaks, apa yang mendasari keberadaan isu ini?

Kays Al-Atrakchi, seorang komposer musik dalam film, mengatakan di Quora bahwa apa yang digembar-gemborkan di Internet itu hoax belaka. Lewat Quora, dia menyebut bahwa dia pernah bergabung di dalam proyek itu dan membaca naskahnya. Menurutnya, film ini biasa banget. Al-Atrakchi juga menyebutkan alasan bahwa film itu enggak beredar adalah karena masalah bujet.

Anggota lain di Quora juga menyebut bahwa semua teori konspirasi tentang 1Anunnaki adalah hoaks yang entah diciptakan buat apa. Namun, kebanyakan orang menyangka kalau hal itu dilakukan cuma untuk menutupi rasa malu. Yap, karena enggak ada yang mau mendanai film ini, akhirnya pihak pembuat film pun membuat isu bahwa film ini dilarang beredar dan bikin teori konspirasi aneh-aneh.

Kalau kamu mencari data tentang film 1Anunnaki di Internet, niscaya kamu akan menemukan bahwa informasi mengenai konspirasi ini banyak dibahas sama blog enggak jelas dan media-media yang cuma pengin mencari clickbait.


Sumber :

https://kincir.com/movie/cinema/film-1anunnaki-terlarang-nonton-konspirasi-05taov28mos4/

https://en.wikipedia.org/wiki/Anunnaki

Thursday, December 21, 2023

Kisah Atlantis, negeri Sang Aquaman


Film Aquaman and the Lost Kingdom resmi baru tayang di bioskop Indonesia yang merupakan sekuel dari Aquaman yang sudah dinantikan oleh para penggemar superhero. Cerita Aquaman menceritakan kisah Aquaman sebagai Raja Atlantis baru. 

Lalu apakah negeri Atlantis benar-benar ada di masa lalu?



Asal-usul Atlantis yang dianggap benua hilang masih menyisakan tanda tanya besar yang belum terjawab. Atlantis sering dikaitkan dengan masyarakat utopis. Utopis merupakan tatanan masyarakat yang memegang kebijaksanaan serta dapat membawa perdamaian dunia.

Asal-Usul atlantis tidak pernah lekang oleh waktu seperti legenda lainnya. Pasalnya, sejarah telah mencatat persis kapan dan dimana kisah Atlantis pertama kali muncul.

Kisah Atlantis pertama kali diangkat dalam percakapan tokoh "Timaeus" dan "Critias". Cerita ini ditulis Plato sekitaran tahun 360 SM. Plato menceritakan Atlantis berbeda dengan anggapan pada umumnya. Versi berlainan dengan cerita utopia atau khayalan yang damai.

Namun Atlantis bukanlah tempat untuk dihormati atau ditiru sama sekali. Atlantis bukanlah masyarakat yang sempurna. Justru sebaliknya, Atlantis adalah perwujudan dari negara yang kaya secara materi, maju secara teknologi, dan kuat secara militer yang telah dirusak oleh kekayaan, kecanggihan, dan kekuatannya.

Selama berabad-abad, banyak orang mengklaim bahwa ada kebenaran di balik mitos Atlantis. Asal-usul legenda ini bukan sekedar fiksi.

Kendati demikian, hal tersebut memicu berbagai spekulasi mengenai tempat akan ditemukannya Atlantis. Bahkan tak terhitung seberapa banyak peneliti mencoba menemukan Atlantis berdasarkan fakta yang sama.

Lalu dimanakah negeri Atlantis berada?

Para ilmuwan membandingkan beberapa negara dengan ciri-ciri Benua Atlantis, mulai dari luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi hingga cara bercocok tanam. Tak tanggung-tanggung, penelitiannya untuk buku tersebut menghabiskan waktu 30 tahun.

Ada teori bahwa Indonesia adalah Benua Atlantis. Salah satunya adalah keberadaan Pulau Natuna, Kepulauan Riau sebagai kota yang misterius itu. 

Para ilmuwan sepakat bahwa ada benua yang tenggelam di Indonesia, namanya adalah Sundaland. Benua yang tenggelam ini adalah wilayah laut dangkal antara Sumatera dan Kalimantan. 

Tulisan Plato menjelaskan Atlantis terletak sangat jauh di Samudera Atlantik. Curah hujan tinggi, air melimpah, matahari melewati atasnya, beriklim hangat. Aliran sungai melimpah, hanya dua musim, tanah subur, kayu melimpah, pertanian dan peternakan maju. Tanahnya terbaik di dunia, berlimpah tanaman dan kayu pertukangan. Flora dan fauna beragam.

Ini menunjukkan daerah Atlantis beriklim tropis. Hanya tiga kemungkinan, Amerika Tengah, Afrika tengah atau Asia Tenggara.

Plato menulis terdapat bangunan berlapis perunggu, kuningan, emas dan orichalcum yang didiskripsikan berwarna merah, harga lebih mahal kecuali emas. Kemungkinan batu pertama tersebuat adalah Zirkon yang banyak ditemukan di Kalimantan.

Catatan Plato berikutnya, pusat pemerintahan berada di laut, di mulut laut. Terdapat banyak pulau. Dermaga yang ramai dan dikunjungi dari berbagai penjuru. Armada angkatan laut yang kuat. 

Teks berikutnya, wilayahnya memiliki sebuah laut dan mulut laut yang dikelilingi benua tak terbatas. di luar wilayah terdapat Samudera. Menjulang dan terjal di sisi Samudera. Kemungkinan di Sundalandia atau Asia Tenggara bagian Barat. Sekarang pulau Sumatera dan Kalimantan.

Peta dunia 11.600 tahun, Pulau Kalimantan, Jawa dan Sumatera masih terhubung dalam satu daratan, disebut Sundalandia.

Plato menulis pulau ibukota Atlantis ada di laut yang dikelilingi benua tak terbatas, yang lainnya adalah samudera yang sebenarnya. Bekas kotanya sekarang berada di bawah laut. Tak dapat dilayari dan ditembus karena tertutup terumbu karang.

Diperkirakan lokasi di laut Jawa, di lepas pantai Kalimantan. Ibu kota Atlantis identik dengan terumbu karang Gosong Gia atau Annie Florence Reef. Gosong Gia terletak 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Teks Plato berikutnya, ciri-ciri kota terdapat mata air panas dan dingin. Batu berwarna putih, hitam dan merah. Bebatuannya dilubangi untuk atap galangan (kapal) ganda.

Catatan plato ini mirip dengan Pulau Bawean, Gresik. Ada mata air panas dan dingin. Terdapat bebatuan beku berwarna merah, putih dan hitam. Di bawah bebatuan ini bisa untuk simpan kapal (galangan).

Untuk menggambarkan Kota Atlantis, Plato menulis kota terdiri dari cincin-cincin konsentris zona perairan dan dataran. Terdapat kuil kecil di atas bukit. Terdapat istana raja dan rumah pejabat. bangunan kuil dilapisi orichalcum, emas dan perak.

Plato mencatat Atlantis hancur sembilan ribu tahun sebelum Solon. Hancur karena gempa bumi dan “banjir” dari laut. Tenggelam tanpa henti setelahnya. “Banjir laut itu tsunami. Gempa dan tsunami saling terkait,”.

Terjadi tsunami yang diawali dengan gempa bumi. Kemudian puing kota tenggelam karena kenaikan permukaan air laut secara perlahan-lahan. Bertepatan dengan bencana alam pada akhir periode dryas muda, sekitar 11.600 tahun lalu. Berat es bergeser ke lautan memicu retakan di kerak bumi untuk bergerak menyebabkan bencana hebat. Menyebabkan gempa, letusan gunung api, gelombang pasang dan banjir. Menghancurkan populasi manusia.

Saturday, December 16, 2023

Perang Nuklir di Masa Lampau

Kisah perang Mahabharata yang super dahsyat apakah benar merupakan perang nuklir di masa lampau?

PERISTIWA perang Mahabharata pada zaman India kuno kemungkinan besar merupakan sebuah perang berteknologi tinggi semacam perang nuklir.  Karena beberapa bukti-bukti kerusakan akibat pe­rang itu menunjukkan hal tersebut. Spekulasi perang Maha­bha­rata sebagai perang nuklir di­per­kuat dengan adanya pene­muan arkeologis.

Para arkeolog menemukan ba­nyak puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai Gangga yang terjadi pada perang seperti yang dilukiskan di atas. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan ce­kung tidak merata.

Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling ren­dah 1.800 C. Bara api yang bia­sa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pe­dalaman India, orang-orang juga me­nemukan lebih banyak rerun­tu­han batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin se­perti kaca, lapisan luar perabot ru­mah tangga yang terbuat dari ba­tuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi.

Mahabharata, adalah sebuah wi­racarita India kuno yang terkenal, ber­bahasa Sansekerta, yang melu­kiskan tentang konflik keturunan Pandu dan Dritarastra dalam mem­perebutkan takhta kerajaan kira-kira telah lebih dari 5.000 tahun yang lalu.

Kisah berawal dari kehidu­pan dua saudara sepupu yakni Ku­ra­wa dan Pandawa yang hidup di te­pian sungai Gangga.

Perang digambarkan saat Arjuna yang gagah be­ra­ni, duduk dalam Weimana (sa­ra­na terbang yang mirip pesawat ter­bang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, se­macam senjata yang mirip rudal, ro­ket yang dapat melepaskan nyala api di atas wilayah musuh, se­perti hujan lebat yang kencang, me­ngepungi musuh, kekuatannya sa­ngat dahsyat.

Dalam sekejap, sebuah baya­ngan yang tebal dengan cepat ter­ben­tuk di atas wilayah Pandawa, ang­kasa menjadi gelap gulita, se­mua kompas yang ada dalam ke­gelapan menjadi tidak berfungsi, ke­mudian badai angin yang dah­syat mulai bertiup, disertai dengan debu pasir, burung-burung berci­cit ­panik seolah-olah langit runtuh, bu­mi merekah.

Matahari seolah-olah bergo­yang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi ber­gon­­cang, gunung bergoyang, di ka­wa­san darat yang luas, binatang-bi­natang mati terbakar dan berubah ben­tuk, air sungai kering keron­tang, ikan udang dan lainnya se­mua­nya mati.

Saat roket meledak, suaranya ba­gaikan halilintar, membuat pra­jurit musuh terbakar bagaikan ba­tang pohon yang terbakar hangus. Jika akibat yang ditimbulkan oleh sen­jata Arjuna bagaikan sebuah ba­dai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Aleng­ka juga merupakan sebuah le­dakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Ada beberapa penelitian yang berusaha menguak tabir misteri kehidupan manusia di masa lampau ini. Tentang bagaimana kehidupan sosial hingga kemajuan ilmu dan teknologi mereka. 

Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. 

Bukti ilmiah peradaban Veda. Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan fosil-fosil maupun artefak- alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan bahwa peradaban manusia modern telah ada sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun yang lalu. 

Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban weda tersebut secara bermakna. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan fosil, artefak- peninggalan berupa kendi, alas kaki, alat masak dan sebagainya yang telah berusia ratusan juta tahun bahkan miliaran tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah.

Para arkeolog terkemuka dunia telah sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. 

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun. Kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Lagi-lagi perang dan haus kekuasaanlah yang mengakibatkan manusia menjadi terpuruk. Dan hal ini patut kita renungkan lebih seksama sebagai buah pelajaran bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. 

Semua kesatria yang dikisahkan dalam Mahabharata hampir semuanya hebat dan memiliki senjata dari anugerah Dewa. Senjata itu konon ada yang setara dengan bom atom dan nuklir serta persenjataan dalam peperangan zaman modern. Dalam Mahabharata dikisahkan, para kesatria hebat itu memiliki kemampuan menyusun perang dan menggunakan senjata-senjata sakti dari anugerah Dewa itu. Karenanya, dalam peperangan di Kuruksetra Mahabharata selama 18 hari banyak berjatuhan korban jiwa dari kedua belah pihak, baik Kurawa dan Pandawa. Konon hingga jutaan jiwa melayang. 

Monday, December 11, 2023

Perang Nuklir pada Mahabharata

Gambarkan Perang Setara Nuklir Pernah Terjadi

Selasa, 29 Agt 2017 17:01 WIB  7,169x

PERISTIWA perang Mahabharata pada zaman India kuno kemungkinan besar merupakan sebuah perang berteknologi tinggi semacam perang nuklir. Pasalnya, bukti-bukti kerusakan akibat pe­rang itu menunjukkan hal tersebut.

Mahabharata, adalah sebuah wi­racarita India kuno yang terkenal, ber­bahasa Sansekerta, yang melu­kiskan tentang konflik keturunan Pandu dan Dritarastra dalam mem­perebutkan takhta kerajaan.

Bersama dengan Ramayana di­se­but sebagai 2 besar wiracarita In­dia, yang ditulis pada tahun 1500 SM, dan hingga kini sudah sampai sekitar lebih dari 3.500 tahun. Fakta se­jarah yang dicatat dalam buku ter­sebut, masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyele­saian bukunya, artinya peristiwa yang dicatat dalam buku, kejadian­nya hingga kini kira-kira telah lebih dari 5.000 tahun yang lalu.

Buku ini telah mencatat kehidu­pan dua saudara sepupu yakni Ku­ra­wa dan Pandawa yang hidup di te­pian sungai Gangga, serta dua kali perang hebat antara kerajaan Alengka dan Astina. Namun yang membuat orang tidak habis pikir, kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat?

Dengan menggunakan tekno­logi perang tradisional, tidak mung­kin bisa memiliki kekuatan yang be­gitu besar. Spekulasi baru de­ngan berani menyebutkan pe­rang yang dilukiskan tersebut, kemung­kinan adalah semacam pe­rang nuklir!

Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah be­ra­ni, duduk dalam Weimana (sa­ra­na terbang yang mirip pesawat ter­bang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, se­macam senjata yang mirip rudal, ro­ket yang dapat menimbulkan se­kaligus melepaskan nyala api yang gen­car di atas wilayah musuh, se­perti hujan lebat yang kencang, me­ngepungi musuh, kekuatannya sa­ngat dahsyat.

Dalam sekejap, sebuah baya­ngan yang tebal dengan cepat ter­ben­tuk di atas wilayah Pandawa, ang­kasa menjadi gelap gulita, se­mua kompas yang ada dalam ke­gelapan menjadi tidak berfungsi, ke­mudian badai angin yang dah­syat mulai bertiup, disertai dengan debu pasir, burung-burung berci­cit ­panik seolah-olah langit runtuh, bu­mi merekah.

Matahari seolah-olah bergo­yang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi ber­gon­­cang, gunung bergoyang, di ka­wa­san darat yang luas, binatang-bi­natang mati terbakar dan berubah ben­tuk, air sungai kering keron­tang, ikan udang dan lainnya se­mua­nya mati.

Saat roket meledak, suaranya ba­gaikan halilintar, membuat pra­jurit musuh terbakar bagaikan ba­tang pohon yang terbakar hangus. Jika akibat yang ditimbulkan oleh sen­jata Arjuna bagaikan sebuah ba­dai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Aleng­ka juga merupakan sebuah le­dakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan me­rasa ngeri: pasukan Alengka me­numpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke-3 kota pihak musuh.

Bertebaran

Rudal ini seperti mempunyai se­­ge­nap kekuatan alam semesta, te­rang­nya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Ma­yat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan ku­ku rontok terkelupas, ba­rang-ba­rang porselen retak, bu­rung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi.

Demi untuk menghindari ke­matian, para prajurit terjun ke su­­ngai membersihkan diri dan sen­jatanya. Spekulasi perang Maha­bha­rata sebagai perang nuklir di­per­kuat dengan adanya pene­muan arkeologis.

Para arkeolog menemukan ba­nyak puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai Gangga yang terjadi pada perang seperti yang dilukiskan di atas. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan ce­kung tidak merata.

Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling ren­dah 1.800 C. Bara api yang bia­sa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pe­dalaman India, orang-orang juga me­nemukan lebih banyak rerun­tu­han batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin se­perti kaca, lapisan luar perabot ru­mah tangga yang terbuat dari ba­tuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi.

Selain di India, Babilon kuno, gu­run sahara, dan guru Gobi di Mo­ngolia juga telah ditemukan rerun­tuhan perang nuklir prase­jarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis de­ngan batu kaca pada kawasan per­cobaan nuk­lir saat ini.

Semua temuan arkeologis ini se­suai dengan catatan sejarah yang turun-temurun, ilmuwan bisa me­ngetahui bahwa manusia juga per­nah mengembangkan peradaban ting­gi di India pada 5.000 tahun silam.

Bahkan mengetahui cara meng­gunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan de­ngan sewenang-wenang, sehing­ga mereka meng­alami kehancuran.

Sebagai perbandingan, reaktor nuk­lir pada 2 miliar tahun silam per­nah dimanfaatkan di Oklo, Af­rika Selatan. Manusia dapat me­man­faatkan nuklir untuk tujuan da­mai, sekaligus memanfaatkan to­po­grafi alam menimbun limbah nuk­­lir, peradaban materiil taraf ting­­gi ini jelas dikembangkan me­lalui peradaban jiwa yang relatif tinggi, beroperasi selama 500 ribu ta­hun, mewakili perdamaian dan ke­makmuran 500 ribu tahun.

Kalau tidak, penggunaan senjata nuklir yang saling menyerang se­perti wiracarita yang dilukiskan da­lam peradaban India kuno, mung­kin jika tidak hancur dalam 50 tahun, akan mengalami penghan­cu­ran dengan sendirinya!

Teknologi reaktor nuklir pada ma­nusia modern baru beberapa da­sawarsa saja ditemukan, hanya de­mi masalah limbah nuklir saja telah men­jadi topik perdebatan tiada hen­ti, apalagi memperdebatkan yang lain­nya, orang sekarang benar-be­nar harus merasa malu de­ngan ma­nusia zaman prasejarah untuk hal seperti ini.

https://analisadaily.com/berita/arsip/2017/8/30/405753/gambarkan-perang-setara-nuklir-pernah-terjadi/


Fakta Ilmiah Adanya Perang Mahabharata (Perang Nuklir Zaman Prasejarah?)

# Epos Mahabarata

Kisah ini menceritakan konflik hebat keturunan Pandu dan Dristarasta dalam memperebutkan takhta kerajaan. Menurut sumber yang saya dapatkan, epos ini ditulis pada tahun 1500 SM. Namun fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya. Artinya peristiwa yang dicatat dalam buku ini diperkirakan terjadi pada masa ±5000 tahun yang silam.

Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga meskipun akhirnya berperang di Kurukshetra. Namun yang membuat orang tidak habis berpikir adalah kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Padahal jika dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang sebegitu besarnya.

Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir! Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh. seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, dan kekuatannya sangat dahsyat.

Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup wuuus..wuuus.. disertai dengan debu pasir. Burung-burung bercicit panik seolah-olah langit runtuh, bumi merekah. Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus.

Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 antara Rama dan Rahwana lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke ketiga kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.

Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang NUKLIR!!

Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir? Sedangkan masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa prasejarah dimana peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia tidak ditemukan kemajuan semacam ini?

Namun selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.

Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno, dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.

# Penelusuran fakta ilmiah

Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju pada sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu. Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30.000 SM hingga 15.000 SM.

Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah. Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 SM). Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Rishi City’ yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).

Dalam suatu cuplikan cerita dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala, dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.

Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?

Ada beberapa penelitian yang berusaha menguak tabir misteri kehidupan manusia di masa lampau ini. Tentang bagaimana kehidupan sosial hingga kemajuan ilmu dan teknologi mereka. Beberapa waktu belakangan banyak hasil penelitian yang mengejutkan. Dan dari berbagai sumber yang telah saya pelajari, secara umum penggambaran melalui berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini telah pula memberikan beberapa bahan kajian yang menarik, antara lain adalah:

Permulaan sebelum dua milyar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini teryata telah terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian maju namun akhirnya menuju pada sebuah kebinasaan? Dan penyebab kebinasaan itu adalah tiada lain akibat peperangan yang pernah terjadi.

Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30.000-15.000 SM). Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir. Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).

Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo. Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.

Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.

Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir (Foto: relief jenis pesawat di Piramida Mesir di bawah ini) dan Amerika Selatan.

Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 °C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan didalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Bukti ilmiah peradaban Veda. Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan fosil-fosil maupun artefak- alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan bahwa peradaban manusia modern telah ada sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun yang lalu. Bukti-bukti tersebut diungkapkan oleh Michael Cremo, seorang arkeolog senior, peneliti dan juga penganut weda dari Amerika, dengan melakukan penelitian lebih dari 8 tahun.

Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban weda tersebut secara bermakna. Laporan tersebut ditulis dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan seperti ; Forbidden Archeology, The Hidden History of Human Race, Human Devolution: A Vedic alternative to Darwin’s Theory, terbitan tahun 2003. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan fosil, artefak- peninggalan berupa kendi, alas kaki, alat masak dan sebagainya yang telah berusia ratusan juta tahun bahkan miliaran tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah.

Dari buku-buku tersebut juga ditemukan adanya manipulasi beberapa arkeolog dengan mengubah dimensi waktunya, hal ini bertujuan untuk mendukung teori evolusi Darwin, karena kenyataannya teori evolusi masih sangat lemah. Bukti ilmiah sudah dengan jelas menyatakan bahwa peradaban weda telah ada miliaran tahun. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa perang besar di tanah suci Kukrksetra, kota Dwaraka, sungai suci Sarasvati dan sebagainya merupakan suatu peristiwa sejarah, bukan sebagai mitologi. Setiap kali kongres para arkeolog dunia selalu menyampaikan bukti-bukti baru tentang peradaban Barthavarsa purba. Dibawah ini ditampilkan sekelumit dari bukti ilmiah tersebut.

Sebenarnya masih banyak bukti ilmiah lainnya yang menunjukkan peradaban weda tersebut, sehingga Satya yuga, Tretha yuga, Dvapara yuga dan Kali yuga dengan durasi sekitar 4.320.000 tahun merupakan suatu sejarah peradaban manusia modern yang memegang teguh perinsip dharma.

Perang Bharatayuda. Para arkeolog terkemuka dunia telah sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Sekarang para peneliti hanya ingin menentukan tanggal yang pasti tentang peristiwa tersebut. Dari hasil pengamatan beserta bukti-bukti ilmiah. Dari berbagai estimasi maka dibuatlah suatu usulan peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

* Sri Krishna tiba di Hastinapura diprakirakan sekitar 28 September 3067 SM

* Bhishma pulang ke dunia rohani sekitar 17 Januari 3066 SM

* Balarama melakukan perjalanan suci di sungai Saraswati pada bulan Pushya 1 Nov. 1, 3067 SM

* Balarama kembali dari perjalanan tersebut pada bulan Sravana 12 Dec. 12, 3067 SM

* Gatotkaca terbunuh pada 2 Desember 3067 SM.

Dan banyak lagi penanggalan peristiwa-peristiwa penting sudah di kalkulasi.

* Kota kuno Dvaraka. Demikian juga keberadaan kota Dvaraka yang dulu menjadi misteri, kota tersebut disebutkan dalam Mahabharata bahwa Dvaraka tenggelam di pantai. Doktor Rao adalah seorang arkeolog senior yang dengan tekun menyelidiki dengan “marine archaeology” dan hasilnya ditemukannya reruntuhan kota bawah laut, beserta ornamennya, didaerah Gujarat. Dwaraka, kota kerajaan Sri Krishna masa lalu.

* Sungai Sarasvati. Keberadaan kota purba Harrapa dan Mohenjodaro serta keberadaan sungai suci Sarasvati telah dijumpai dalam Rig Weda, namun tidak diketahui keberadaannya, kemudian oleh NASA dengan pemotretan dari luar angkasa ternyata dijumpai sebuah lembah yang merupakan bekas sungai yang telah mengering, namun dalam kedalaman tertentu masih tampak ada aliran air di wilayah Pakistan yang bermuara ke lautan Arab, arahnya sesuai dengan yang digambarkan dalam sastra.

* Jembatan Alengka. Pemotretan luar angkasa yang dilakukan oleh NASA telah menemukan adanya jembatan mistrius yang menghubungkan Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) sepanjang 30 Km, dengan lebar sekitar 100 m, tampak pula jembatan tersebut buatan manusia dengan umur sekitar 1.750.000 tahun. Angka ini sesuai dengan sejarah Ramayana yang terjadi pada Tretha yuga. Sekarang sedang diteliti jenis bebatuannya. Jadi Ramayana itu adalah ithihasa (sejarah), bukan merupakan dongeng.

Citra dari Rama Brige sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut) dengan lebar hampir 100 m.

Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.

* Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebarluas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua milyar tahun yang lalu setelah adanya bukti data geologi dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir.

Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia. Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya.

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun. Kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000 SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif. Masa primitif ini berakhir dengan munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.

Lagi-lagi perang dan haus kekuasaanlah yang mengakibatkan manusia menjadi terpuruk. Dan hal ini patut kita renungkan lebih seksama sebagai buah pelajaran bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini?

Saudaraku, sebagai manusia sekarang, jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu kita pun tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu. Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip? Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam sebagai upaya tidak mengulangi kesalahan fatal yang pernah dilakukan.

https://manacikapura.wordpress.com/tattwa/fakta-ilmiah-adanya-perang-mahabharata-perang-nuklir-zaman-prasejarah/


Bharatayudha, Sebuah Perang Nuklir?

Sumber:website

Mahabharata, adalah sebuah wiracarita India kuno yang terkenal, berbahasa Sansekerta, yang melukiskan tentang konflik keturunan Pandu dan Dritarastra dalam memperebutkan takhta kerajaan. Bersama dengan Ramayana disebut sebagai 2 besar wiracarita India, yang ditulis pada tahun 1500 SM, dan hingga kini sudah sampai sekitar lebih dari 3.500 tahun.

Fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut, masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya, artinya peristiwa yang dicatat dalam buku, kejadiannya hingga kini kira-kira telah lebih dari 5.000 tahun yang silam.

Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga, serta dua kali perang hebat antara kerajaan Alengka dan Astina. Namun yang membuat orang tidak habis pikir, kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang begitu besar. Spekulasi baru dengan berani menyebutkan perang yang dilukiskan tersebut, kemungkinan adalah semacam perang nuklir!

Perang pertama kali dalam buku catatan dilukiskan seperti berikut ini: bahwa Arjuna yang gagah berani, duduk dalam Weimana (sarana terbang yang mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal, roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, seperti hujan lebat yang kencang, mengepungi musuh, kekuatannya sangat dahsyat.

Dalam sekejap, sebuah bayangan yang tebal dengan cepat terbentuk di atas wilayah Pandawa, angkasa menjadi gelap gulita, semua kompas yang ada dalam kegelapan menjadi tidak berfungsi, kemudian badai angin yang dahsyat mulai bertiup, wuuus.... wuuus...., disertai dengan debu pasir, burung-burung bercicit panik... seolah-olah langit runtuh, bumi merekah.

Matahari seolah-olah bergoyang di angkasa, panas membara yang mengerikan yang dilepaskan senjata ini, membuat bumi bergoncang, gunung bergoyang, di kawasan darat yang luas, binatang-binatang mati terbakar dan berubah bentuk, air sungai kering kerontang, ikan udang dan lainnya semuanya mati. Saat roket meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh terbakar bagaikan batang pohon yang terbakar hangus. Jika akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna bagaikan sebuah badai api, maka akibat serangan yang diciptakan oleh bangsa Alengka juga merupakan sebuah ledakan nuklir dan racun debu radioaktif.

Gambaran yang dilukiskan pada perang dunia ke-2 lebih membuat orang berdiri bulu romanya dan merasa ngeri: pasukan Alengka menumpangi kendaraan yang cepat, meluncurkan sebuah rudal yang ditujukan ke-3 kota pihak musuh. Rudal ini seperti mempunyai segenap kekuatan alam semesta, terangnya seperti terang puluhan matahari, kembang api bertebaran naik ke angkasa, sangat indah. Mayat yang terbakar, sehingga tidak bisa dibedakan, bulu rambut dan kuku rontok terkelupas, barang-barang porselen retak, burung yang terbang terbakar gosong oleh suhu tinggi. Demi untuk menghindari kematian, para prajurit terjun ke sungai membersihkan diri dan senjatanya.

Spekulasi perang Mahabharata sebagai perang nuklir diperkuat dengan adanya penemuan arkeologis. Para arkeolog menemukan banyak puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai Gangga yang terjadi pada perang seperti yang dilukiskan di atas. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun, kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Sebagai perbandingan, reaktor nuklir pada 2 miliar tahun silam pernah dimanfaatkan di Oklo, Afrika Selatan. Manusia dapat memanfaatkan nuklir untuk tujuan damai, sekaligus memanfaatkan topografi alam menimbun limbah nuklir, peradaban materiil taraf tinggi ini jelas dikembangkan melalui peradaban jiwa yang relatif tinggi, beroperasi selama 500 ribu tahun, mewakili perdamaian dan kemakmuran 500 ribu tahun. Kalau tidak, penggunaan senjata nuklir yang saling menyerang seperti wiracarita yang dilukiskan dalam peradaban India kuno, mungkin jika tidak hancur dalam 50 tahun, akan mengalami penghancuran dengan sendirinya!

Teknologi reaktor nuklir pada manusia modern baru beberapa dasawarsa saja ditemukan, hanya demi masalah limbah nuklir saja telah berdebat tiada henti, apalagi memperdebatkan yang lainnya, kita benar-benar harus merasa malu dengan manusia zaman prasejarah untuk hal seperti ini.

https://m.facebook.com/media/set/?set=a.128854857676&type=3&comment_id=10151603615052677


5 Senjata Paling Sakti di Perang Mahabharata, Daya Ledaknya Setara Bom Atom dan Nuklir di Zaman Modern 

Ken Supriyono - 10 Februari 2022, 11:27 

Semua kesatria yang dikisahkan dalam Mahabharata hampir semuanya hebat dan memiliki senjata dari anugerah Dewa. Senjata itu konon ada yang setara dengan bom atom dan nuklir serta persenjataan dalam peperangan zaman modern. Dalam Mahabharata dikisahkan, para kesatria hebat itu memiliki kemampuan menyusun perang dan menggunakan senjata-senjata sakti dari anugerah Dewa itu. Karenanya, dalam peperangan di Kuruksetra Mahabharata selama 18 hari banyak berjatuhan korban jiwa dari kedua belah pihak, baik Kurawa dan Pandawa. Konon hingga jutaan jiwa melayang. 

Hal itu tak lepas dari senjata sakti yang digunakan para kesatria yang dalam medan peperangan Mahabharata. Berikut 5 Senjata Terkuat dalam kisah Mahabharata yang dilansir dari Widya Bali Channel: 

1. Panah Pasopati 

Panah Pasopati merupakan anugerah Dewa Siwa kepada Arjuna, yang telah melakukan tapa di Gunung Indra Kila saat menjalani pengasingan selama 12 tahun. Panah dengan berbentuk ujung bulang sabit itu pernah digunakan Dewa Siwa untuk menghancurkan Benteng Tritpura, yang merupakan tiga benteng besar Kota Asura. Arjuna yang Tanpa Senjata saat Perang di Kuruksetra Mahabharata Di tangan Arjuna, Pusaka Pasopati sangat perkasa. Dengan keahliannya, ia mampu membinasahkan Prabu Nirwanakaca, pemimpin Asura. Dalam perang Mahabharata, Arjuna menggunakan Panah Pasopati untuk membunuh Raja Jayadrata. Juga untuk mengalahkan Karna Raja Angga di medan kuruksetra. 

2. Panah Indrastra atau Vasavi Shakti 

Panah Indrastra atau yang disebut Konta Wijaya dalam tradisi wayang Jawa, merupakan pusaka sakti anugerah Dewa Indra kepada Karna. Karna mendapatkannya ketika ia memberikan baju besi dan anting dari Dewa Surya kepada Dewa Indra yang menyamar sebagai Brahmana miskin. Baca Juga: Alasan Kresna Membantu Pandawa Membunuh Karna, Bisma dan Guru Drona dalam Perang Mahabharata Panah Indrastra hanya dapat digunakan sekali saja. Saat perang Kuruksetra, Karna berniat menggunakan senjata itu untuk mengalahkan Arjuna dalam ketangkasan memanah. Namun, Duryodana yang terdesak memerintah Karna menggunakan senjata itu untuk membinasahkan Gatutkaca, yang banyak membinasahkan pasukan Kurawa. Hingga dalam keadaan terpaksa, Karna menggunakan Panah Indrastra untuk memanah Gatutkaca. Putra Bima yang perkasa itu pun kalah dan akhirnya tewas setelah panah Indrastra atau dikenal Vasavi Shakti menancap di dada Gatutkaca. 

3. Busur Gandiwa 

Busur Gandiwa merupakan anugerah Dewa Waruna kepada Arjuna melalui restu Dewa Agni. Busur Gandiwa menjadi senjata andalan bagi Arjuna. Baca Juga: Selain Arjuna dan Karna, Ini Nama-nama Kesatria Pemanah Hebat dalam Kisah Mahabharata Senjata suci ini pernah digunakan untuk mengusir raja ular dari Kandawa Prasta. Hutan sesungguhnya hutan itu merupakan ilusi dari Mayasura ketika Pandawa akan membangun Indraprasta. Busur itu dilengkapi kantung anak panah yang isinya tidak pernah habis, sehingga menjadikan Arjuna mampu menghebaskan anak panah secara beruntun layaknya laras panjang modern. 

4. Pusaka Brahmastra 

Senjata maha dasyat ini berbentuk anak panah dengan daya ledak luar biasa. Bahkan ledakan Brahmastra digambarkan setara dengan bom atom atau bom nuklir dalam zaman modern. Senjata ini merupakan anugerah Dewa Brahma. Ada banyak kesatria hebat yang mampu memanggil senjata ini. Di antaranya, Sri Rama, Parasurama, Guru Drona, Bisma, Aswatama dan Arjuna. Untuk menggunakan pusaka suci ini seorang kesatria harus membacakan mantra suci. Senjata itu akan membidik targetnya dan tidak akan pernah meleset dari sasaran. 

5. Cakra Sudarsana 

Senjata ini menyerupai piringan cakra berputar. Pusaka sakti ini adalah senjata Dewa Wisnu. Dalam kitab Mahabharata dijelaskan bahwa Sri Kresna adalah perwujudan langsung dewa pencipta, yaitu Dewa Wisnu, yang memiliki senjata tersebut. Sri Kresna pernah menggunakan Cakra Sudarsana untuk membunuh Sisupala yang sering bertindak adharma. Namun dalam perang Kuruksetra Mahabharata, Kresna tidak menggunakan senjata suci tersebut. Sebab, ia hanya menjadi kusir kereta dan penasehat bagi Arjuna tanpa angkat senjata.***

https://serangnews.pikiran-rakyat.com/lensa/pr-1203700074/5-senjata-paling-sakti-di-perang-mahabharata-daya-ledaknya-setara-bom-atom-dan-nuklir-di-zaman-modern?page=all

Sunday, November 26, 2023

VA Shiva Ayyadurai: Penemu EMAIL yang Kontroversial

VA Shiva Ayyadurai: Penemu EMAIL yang Kontroversial

18 Agustus 2017 pukul 09:43 EDT

VA Shiva Ayyadurai menerima Hak Cipta Amerika Serikat pada tahun 1982 yang memberinya penghargaan sebagai Penemu EMAIL, gelar yang diperolehnya saat berusia 14 tahun sebagai peneliti di Universitas Kedokteran dan Kedokteran Gigi di Newark, New Jersey.

Dia mengatakan dia menerima sertifikat hak cipta pada tanggal 30 Agustus 1982, bukan paten, karena paten tidak diberikan kepada penemuan perangkat lunak pada saat itu.

Namun, ia mengatakan bahwa ia terpaksa membela ciptaannya dalam serangkaian kasus pengadilan tingkat tinggi dan debat media publik yang sangat seru, yang berasal dari para pesaing yang iri dan jurnalis yang tidak menghormatinya karena ia adalah seorang ilmuwan berkulit gelap kelahiran India. .

Ayyardurai, yang lahir di India, bermigrasi ke Amerika Serikat ketika ia berusia tujuh tahun, dibesarkan di New Jersey, lulus dari Livingston High School di Livingston, New Jersey, ketika ia berusia 14 tahun dan melanjutkan untuk mendapatkan empat gelar terpisah di MIT.

Kepemilikannya atas hak cipta EMAIL tetap terkubur di arsip federal hingga tahun 2012 ketika The Smithsonian Institute secara resmi meminta materi penelitiannya kepada Ayyadurai agar dapat ditampilkan di Museum Nasional Sejarah Amerika (NMAH).

“Ketika berita akuisisi tersebut dipublikasikan, Shiva diserang dengan kejam dengan niat yang jelas dan jahat untuk menghancurkan karir dan reputasinya sebagai penemu dan ilmuwan,” kenang Dr. Leslie P. Michelson, yang merupakan direktur High Performance and Research Computing. Divisi di Rutgers Medical, dan mentor Ayyadurai saat pertama kali membuat program perangkat lunak EMAIL miliknya.

Dan Smithsonian tidak pernah memamerkan karya Ayyadurai.

Ayyardurai telah melawan. Dia memenangkan gugatan hukum senilai $750.000 dari Gawker Media sebelum majalah online tersebut bangkrut dan baru-baru ini mengajukan gugatan pencemaran nama baik senilai $15 juta terhadap Techdirt.

“Saat saya di MIT, saya adalah seorang mahasiswa yang baik, teladan, minoritas,” kata Ayyardurai dalam siaran Percakapan dengan Allan Wolper WBGO. “Tetapi konsep seorang imigran India yang membuat Email di Newark, New Jersey mengejutkan banyak orang. Dan kaum liberal kulit putih yang melakukan hal ini bahkan tidak menyadari bahwa mereka rasis.”

Dr Michelson berharap VA Shiva Ayyardurai suatu hari nanti akan menerima haknya dan para pengkritiknya akan berhenti mengejeknya.

“Pada tanggal 30 Agustus 1982, VA Shiva Ayyadurai menerima pengakuan resmi sebagai penemu email dari pemerintah AS atas penemuannya pada tahun 1978,” kata Dr. Michelson dalam pengantar buku berjudul “The History of Email.”

Omong-omong, Ayyadurai berencana mencalonkan diri sebagai Senat Amerika Serikat di Massachusetts. Dia akan mencalonkan diri dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik pada tahun 2018. Jika dia memenangkan nominasi, dia mengatakan dia akan mencalonkan diri sebagai “Republik Lincoln” dalam pemilihan umum melawan Senator Elizabeth Warren.


Sumber :

https://www.wbgo.org/show/conversations-with-allan-wolper/2017-08-18/v-a-shiva-ayyadurai-the-controversial-inventor-of-email

Shiva Ayyadurai, Sang Penemu Email

Shiva Ayyadurai, sang penemu email yang terlupakan
27 Jul 2016

Shiva Ayyadurai, sang penemu email yang terlupakan Shiva Ayyadurai, sang penemu email. © mensxp.com

Mungkin tak pernah ada yang menyangka namun penemu email adalah seorang pria India bernama VA Shiva Ayyadurai. Tak bisa dipungkiri, sang penemu yang sangat berjasa bagi kita saat ini, terutama para pengguna smartphone dan pekerja kantoran dan mahasiswa yang butuh koordinasi secara cepat, ternyata telah dilupakan oleh masyarakat.

Bahkan, seorang pria India Amerika ini menemukan sistem email ketika dia hanya berumur 14 tahun. Sangat berprestasi untuk anak yang di umur sekian biasanya masih sedang dalam proses pencarian jati diri.

Tepat tahun ini dan di bulan ini, email sudah hidup selama 32 tahun. Untuk memperingatinya, yuk kita simak kisah hidup dari ilmuwan yang tak banyak dikenal orang ini.

Lahir dari keluarga Tamil di Bombay, India, di umur 7 tahun dia harus pergi dari India untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika Serikat. 7 Tahun berada di Amerika, Ayyadurai yang seorang siswa Livington High School di New Jersey, mulai mengerjakan sistem email untuk University of Medicine and Dentistry of New Jersey. Kala itu, tugasnya hanyalah meniru sistem surat menyurat yang masih berbasis dokumen kertas menjadi sebuah software.

Sebuah sistem tersebut dia sebuah sebagai 'EMAIL.' Sistem surat-menyurat antar kantor juga diubahnya menjadi digital, lengkap dengan fitur Inbox, Outbox Folder, Memo, Attachment terinspirasi dari lampiran yang dijepit dengan penjepit kertas, serta Address Book. Fitur ini juga masih dipakai hingga saat ini.

Setelah itu, dia membuat sebuah versi elektronik dari sistem ini, dengan lebih dari 50.000 kode yang ia tulis. Dengan ini dia berhasil untuk mereplikasi sistem surat menyurat antar kantor secara elektronik.

Pada 30 Agustus 1982, Pemerintah Amerika Serikat secara memperkenalkan Ayyadurai sebagai penemu email, dengan memberinya US Copyright untuk Email, dari penemuannya tahun 1978 tersebut. Meski demikian, namanya sudah dilupakan orang saat ini.


Sumber :
https://www.merdeka.com/gaya/shiva-ayyadurai-sang-penemu-email-yang-terlupakan.html

Monday, October 3, 2022

Jangka Jayabaya

Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat ramalan Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Prapen dari masa Giri Kedaton. Sekalipun banyak keraguan keasliannya, tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yang menuliskan bahwa Jayabaya yang membuat ramalan-ramalan tersebut.
Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.
Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis dalam kitab-kitab mereka yang berjudul Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa, dan Kakawin Gatotkacasraya. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Pandawa dan Korawa yang disebut peperangan Bharatayuddha, sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna ingin menikah dengan Dewi Rukmini dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Prapen (Sunan Giri ke-3) di Giri Kedaton yang kumpulkannya pada tahun 1540 Saka = 1028 Hijriyah = 1618 Masehi, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singasari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak zamannya Sultan Agung dari Mataram yang bertakhta (1613-1645 M).

Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak. Memang dirinya merupakan keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila dia dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang prabu Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu dia menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala zamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada zamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh putranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.

Jangka Jayabaya yang dikenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar" Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.

Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak zaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton". Giri Kedaton ini tampaknya Merupakan zaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai zaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah dia turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dizaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti dia dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).

Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "Jangka Jayabaya" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.

Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai zaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "Republik Indonesia". Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.

Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.


Sumber :
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ramalan_Jayabaya