Latar Belakang & Identitas
Raden Sawunggaling, dikenal pula dengan nama kecil Joko Berek, dipercaya sebagai salah satu adipati (pemimpin lokal) Surabaya dalam sejarah lokal yang hidup pada masa ketika kekuasaan lokal mulai bersinggungan dengan kekuasaan kolonial Belanda.
Ia diyakini sebagai putra dari Adipati Jayengrono III (kadang disebut Jayengrono / Jangrono) dengan ibu bernama Dewi Sangkrah.
Nama “Sawunggaling” bukan nama lahir melainkan gelar yang diperolehnya ketika diangkat sebagai adipati kelak — kadang disebut “Sawunggaling IV” dalam tradisi lokal.
Kisah Naik Tahta: Adu Ayam, Panahan, dan Betrayal
Menurut riwayat yang berkembang di masyarakat Surabaya, perjalanan Sawunggaling untuk mendapatkan tahta tidaklah mudah dan dipenuhi intrik. Sewaktu dewasa, ketika ia mencari ayahnya di kadipaten, ia sempat diuji oleh saudara tirinya dalam adu ayam — dan ayamnya yang bernama “Bagong” menang.
Selanjutnya, ayahnya, Jayengrono III, menggelar sayembara memanah umbul-umbul (panji) bernama Tunggul Yuda: siapa dapat memanah dan menjatuhkan umbul-umbul itu akan diangkat sebagai adipati berikutnya. Kedua saudara tirinya ikut serta, tetapi gagal. Sawunggaling, setelah berdoa kepada ibunya, memanah dengan sukses — dan akhirnya diangkat sebagai adipati, menggantikan sang ayah.
Legenda mencatat bahwa saudara tirinya, bersama kekuatan kolonial Belanda (VOC), kemudian berusaha meracuni Sawunggaling agar gagal — tetapi rencana itu digagalkan oleh pamannya (adipati dari Madura), sehingga Sawunggaling tetap aman dan naik tahta.
Perlawanan terhadap VOC dan Perjuangan Membela Rakyat
Setelah resmi menjabat adipati, Sawunggaling dikenal sebagai tokoh yang keras menolak dominasi Belanda. Ia disebut paling dibenci Kompeni/VOC karena sikapnya yang pro-rakyat dan menentang semua syarat kolonial.
Menurut tradisi lisan dan catatan lokal, ketika VOC mengirim pasukan (baik darat maupun laut) untuk menundukkan pengaruh Sawunggaling, sang adipati berhasil menggalang kekuatan lokal hingga melawan dan memukul mundur pasukan Belanda.
Sawunggaling konon juga melakukan “babat alas” — membuka hutan dan lahan baru di bagian barat Surabaya (beberapa wilayah kini disebut Benowo dan Margomulyo), membangun permukiman, dan memperluas kendali lokal sebagai bagian dari upayanya mempertahankan kemerdekaan lokal dari intervensi asing.
Warisan & Makam: Titik Ziarah Budaya di Surabaya
Jejak nyata dari legenda Sawunggaling adalah makamnya, yang ditemukan oleh warga pada tahun 1901. Makam tersebut berada di kawasan Lidah Wetan, Surabaya — kini menjadi cagar budaya kota.
Komunitas setempat dan para peziarah masih rutin mengunjungi makam itu, terutama pada malam Jumat Legi atau tanggal tertentu menurut kalender Jawa. Tradisi tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya melestarikan sejarah lokal dan mengenang jasa-jasanya bagi masyarakat Surabaya.
Tak heran, di kalangan arek-arek Suroboyo (warga Surabaya), muncul ungkapan: “ojo ngaku arek Suroboyo nek ora kenal Sawunggaling” — “jangan mengaku sebagai orang Surabaya kalau tidak kenal Sawunggaling.”
Kontroversi dan Status Sejarah: Antara Fakta dan Legenda Lokal
Perlu dicatat bahwa banyak aspek tentang Sawunggaling — asal-usul, tanggal pasti hidupnya, dan kronologi detail perjuangannya — tidak didokumentasikan secara akademis kuat, melainkan banyak didasarkan pada tradisi lisan, cerita rakyat, dan dokumen lokal yang relatif belakangan. Oleh karena itu, sebagian sejarawan menganggap kisah Sawunggaling sebagai perpaduan antara sejarah lokal dan legenda.
Meski demikian, pengaruhnya tetap nyata dalam budaya lokal Surabaya: dari nama kawasan, tradisi ziarah, hingga identitas kolektif warga Surabaya yang melihat Sawunggaling sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan dan ketidakadilan.
Kenapa Kisah Sawunggaling Penting — Untuk Kini dan Masa Depan
Kisah Raden Sawunggaling penting bukan hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat Surabaya. Di tengah arus modernisasi dan urbanisasi yang cepat, warisan semacam ini membantu menjaga identitas lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Lebih dari itu, figur seperti Sawunggaling menawarkan narasi alternatif tentang sejarah lokal — di mana bukan hanya kerajaan besar, melainkan juga pemimpin daerah, adipati, dan komunitas lokal yang memainkan peran besar dalam perlawanan terhadap penjajahan dan penindasan. Ini mengingatkan kita bahwa sejarah kemerdekaan dan perlawanan tidak selalu tercatat secara resmi, tapi bisa hidup di cerita rakyat, makam tua, dan ingatan komunitas.



.png)

