Saturday, March 23, 2024

Ada Apa dengan Giant?

Gelombang Bangkrut Supermarket Raksasa di Indonesia.

Pelajaran Berharga bagi Industri Perdagangan.

Industri perdagangan di Indonesia telah menyaksikan gelombang bangkrutnya beberapa supermarket raksasa, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh pemain besar dalam menghadapi perubahan pasar yang cepat dan persaingan yang semakin ketat. Kegagalan perusahaan-perusahaan ini menawarkan pelajaran berharga bagi industri, menyoroti pentingnya adaptasi dan inovasi dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang.

Selama beberapa dekade terakhir, supermarket raksasa telah mendominasi pemandangan perdagangan ritel di Indonesia. Dengan jaringan toko yang luas, berbagai produk, dan harga yang kompetitif, mereka telah menjadi destinasi belanja utama bagi jutaan konsumen. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa dari mereka telah menghadapi tantangan yang serius yang akhirnya mengarah pada kebangkrutan.


Bisnis ritel sektor fast moving consumer goods (FMCG) terbagi menjadi tiga jenis, yakni hypermarket, supermarket, dan minimarket. Perbedaannya terletak pada format, ukuran, dan fasilitas yang diberikan.

Hypermarket memiliki luas lahan lebih dari 5.000 meter persegi atau lebih besar dari supermarket. Beberapa contoh ritel FMCG berkonsep hypermarket adalah Giant, Carrefour, Hypermart, dan Lotte Mart.

Sementara, supermarket memiliki luas 1.000 meter persegi sampai 4.999 meter persegi. Contohnya seperti Toserba Yogya, Giant Supermarket, Carrefour Express, dan Super Indo.

Lalu, minimarket adalah ritel FMCG berukuran 100 meter persegi sampai 999 meter persegi. Sejumlah minimarket di Indonesia, antara lain Alfamart, Indomaret, dan Circle K.


Penyebab Bangkrutnya Supermarket.

Beberapa faktor dapat diidentifikasi sebagai penyebab bangkrutnya supermarket raksasa di Indonesia. Pertama, perubahan perilaku konsumen telah mempengaruhi cara orang berbelanja. Dengan munculnya e-commerce dan platform belanja online, banyak konsumen beralih ke opsi belanja yang lebih nyaman dan terjangkau secara harga. Supermarket tradisional yang bergantung pada model bisnis fisik menghadapi kesulitan dalam bersaing dengan model bisnis yang lebih fleksibel ini.

Kedua, persaingan yang semakin ketat dari pemain baru di pasar juga telah menekan supermarket raksasa. Penyedia layanan e-commerce dan aplikasi pengiriman makanan telah muncul dengan penawaran yang menarik bagi konsumen, mengubah lanskap perdagangan ritel secara drastis. Supermarket yang gagal beradaptasi dengan cepat dengan tren ini telah kehilangan pangsa pasar dan daya saing mereka.

Selain itu, manajemen yang kurang efektif dan kebijakan yang tidak responsif terhadap perubahan pasar juga berkontribusi pada kebangkrutan supermarket raksasa. Rendahnya efisiensi operasional dan ketidakmampuan untuk memperbarui strategi bisnis telah menjadi beban tambahan bagi perusahaan-perusahaan tersebut.


Sepanjang 2020, HERO mencatatkan kerugian sebesar Rp1.215 miliar. Ritel segmen makanan mencatatkan penurunan nilai pendapatan yang cukup signifikan karena perusahaan mengoperasikan lebih sedikit toko sebagai langkah optimalisasi yang berlangsung sejak 2019. Pendapatan segmen makanan turun dari Rp8.987 miliar pada 2019 menjadi Rp6.051 miliar sepanjang 2019. 


Sepanjang tahun 2021 ini, sejumlah pusat perbelanjaan atau mal terpaksa tutup terutama akibat pandemi Covid-19 dan perubahan pasar ritel yang bergerak cepat. Yang cukup fenomenal adalah di awal tahun, ritel hipermarket Giant melakukan perampingan jumlah gerai. Manajemen menutup beberapa gerai.

Hero memiliki rencana panjang untuk menutup seluruh gerai Giant. Sebagai pengganti, lima gerai Giant akan berubah menjadi IKEA sebagai langkah strategis perusahaan. PT Hero Supermarket bakal fokus mengembangkan IKEA, Guardian, hingga Hero Supermarket. Diky menyatakan potensi pertumbuhan dari tiga brand tersebut lebih tinggi dibandingkan Giant.

Strategi ini merupakan respons cepat dan tepat perusahaan yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap perubahan dinamika pasar, terlebih terkait beralihnya konsumen Indonesia dari format hypermarket dalam beberapa tahun terakhir, sebuah fenomena yang juga terjadi di pasar global.


Bangkrutnya supermarket raksasa di Indonesia memberikan pelajaran berharga bagi industri perdagangan. Pertama, adaptasi dan inovasi merupakan kunci untuk bertahan dalam lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat. Perusahaan-perusahaan harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen dan tren pasar, serta mengembangkan strategi bisnis yang responsif dan fleksibel.

Kedua, manajemen yang efektif dan pengambilan keputusan yang bijaksana sangat penting dalam menjaga kelangsungan bisnis. Perusahaan harus memiliki visi yang jelas, memperhatikan isu-isu pasar yang berkembang, dan mengambil tindakan yang tepat waktu untuk menghindari krisis finansial.

Terakhir, kolaborasi antara pemain industri dan pemerintah juga dapat membantu mendorong pertumbuhan dan inovasi dalam industri perdagangan. Dukungan untuk pengembangan infrastruktur, regulasi yang mendukung, dan insentif untuk inovasi dapat membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan bisnis.


Dengan memperhatikan pelajaran dari bangkrutnya supermarket raksasa, industri perdagangan di Indonesia dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang akan datang dan meraih kesuksesan dalam era perdagangan ritel yang terus berkembang.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20211227180833-4-302449/2021-banyak-ritel-bertumbangan-giant-tutup-selamanya-di-ri

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5667265/sudah-tahu-ini-alasan-kenapa-giant-tutup-permanen

https://ekonomi.bisnis.com/read/20210801/12/1424487/giant-resmi-tutup-karyawan-terdampak-dapat-apresiasi.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210527061426-92-647196/penutupan-giant-dan-bukti-kalah-saing-dengan-minimarket

No comments:

Post a Comment