Wednesday, February 28, 2024

Keruntuhan Kerajaan Singasari

Kehancuran Sebuah Kekuasaan Legendaris

Kerajaan Singasari, yang pada puncak kejayaannya memimpin Jawa Timur abad pertengahan, merupakan salah satu titik puncak dalam sejarah kerajaan di Indonesia. Namun, kejayaan ini tidak berlangsung selamanya. Di balik kemegahan dan kejayaannya, terdapat kisah kelam tentang keruntuhan yang akhirnya menghantam kekuasaan yang pernah begitu besar ini.

Yuk, kita bahas!.

Berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 oleh pendiri Kerajaan Majapahit yaitu Raden Wijaya, tidak lepas dari Kerajaan Singasari, dimana Raden Wijaya yang tidak lain adalah menantu dari Raja Kertanegara, pemimpin terakhir Kerajaan Singasari. 

Saat itu Kerajaan Singasari runtuh karena pemberontakan Jayakatwang, dari Kerajaan Kadiri. Sebelumnya, kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok pada 1222, setelah meruntuhkan Kerajaan Kediri. 

Setelah Ken Arok wafat, kondisi masyarakat sedikit mengalami guncangan akibat adanya konflik politik dan balas dendam di antara keluarga kerajaan. Kejayaan Kerajaan Singasari baru terlihat pada masa Kertanegara, raja kelima sekaligus penguasa terakhir Singasari. 

Di bawah pemerintahan Raja Kertanegara, Singasari berhasil menguasai seluruh Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Melayu, dan Semenanjung Melayu. Kertanegara memang memiliki cita-cita menyatukan seluruh kerajaan di Nusantara di bawah kendali Kerajaan Singasari. 

Untuk melaksanakan cita-cita yang disebut sebagai Wawasan Nusantara I itu, Kertanegara sering memerintahkan pasukannya untuk melakukan ekspedisi perluasan wilayah. 

Sayangnya, keputusan melakukan ekspedisi ini juga membuat pertahanan Kerajaan Singasari melemah, karena angkatan perang mereka banyak dikirim ke luar pulau guna mendukung strategi penaklukkan kerajaan lain. Keadaan itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh Jayakatwang, adipati Kediri, untuk memberontak dan berhasil meruntuhkan Kerajaan Singasari pada 1292.


Pada tahun 1292, dikisahkan dalam Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang dipengaruhi Arya Wiraraja supaya memberontak. Jayakatwang merupakan keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri yang dikalahkan Ken Arok leluhur Kertanagara tahun 1222. 

Pasukan Jayakatwang dipimpin "Jaran Guyang" bergerak menyerang Singhasari dari utara (Kahuripan). Kertanagara mengirim kedua menantunya, yaitu Raden Wijaya putra Lembu Tal dan Ardharaja putra Jayakatwang untuk melawan. Tetapi Ardharaja berkhianat dan kemudian bergabung ke dalam pasukan ayahnya.

Pasukan Jaran Guyang hanyalah pancingan supaya pertahanan ibu kota kosong. Pasukan kedua Jayakatwang menyerang dari selatan dipimpin Patih Kebo Mundaran. Saat pasukan Kebo Mundarang menyerang, Kertanagara sedang mengadakan upacara ritual keagamaannya. 

Mendengar pasukan Gelanggelang menyerang, Kertanagara lalu keluar menghadapi serangan pasukan musuh, tetapi akhirnya ia tewas terbunuh bersama Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Angragani, dan Wirakreti.

Menurut Nagarakretagama, Kertanagara dicandikan bersama istrinya di Candi Jawi, Pasuruan sebagai Wairocana dan Locana, dengan lambang arca tunggal Ardhanareswari. Kertanegara juga disanjung sebagai titisan Budha Agung Mahakshobya oleh para keturunannya, yaitu dalam prasasti Wurare yang ditemukan di Trowulan, Mojokerto.

Kertanegara juga dicandikan di Candi Singasari, Malang, Jawa Timur oleh cucunya, Tribhuwana Wijayatunggadewi putri Raden Wijaya, ibu dari raja Majapahit, Hayam Wuruk.


Kertanegara merupakan raja terbesar Kerajaan Singasari yang tercantum dalam sejarah Nusantara. Raja Kertanegara memiliki gelar Sri Maharajadhiraja Sri Kertanegara.  Raja Kertanegara adalah putra dari Raja Wisnuwardhana dan Jayawardhani atau Waning Hyun. Ibunya termasuk cucu dari Ken Dedes dan Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singasari. 

Raja Kertanegara mulai memerintah sejak tahun 1269 hingga 1292. Ketika pemerintahannya, Raja Kertanegara pernah mengirimkan ekspedisi Pamalayu. 

Bahkan, wilayah kerajaan Singasari juga meluas ketika pemerintahan Raja Kertanegara. Ini bisa terjadi dengan ditaklukannya beberapa daerah seperti Bali, Sunda, Pahang, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya) dan Gurun (Maluku). 

Selain itu, Raja Kertanegara juga menjalin hubungan persahabatan dengan Raja Jayasinghawarman dari Kerajaan Campa. 


Gara-gara dendam dan kelengahan, Kerajaan Singasari yang sedang jaya-jayanya justru runtuh pada periode yang sama. Tahun 1292 M, Maharaja Kertanegara tewas akibat gerakan pemberontakan yang dimotori oleh Jayakatwang, Bupati Gelang-gelang (kini di sekitar Madiun). 

Gelang-gelang merupakan bagian dari Kadiri (Kediri). Kadiri saat itu termasuk daerah taklukan Kerajaan Singasari. Raka Revolta dalam Konflik Berdarah di Tanah Jawa (2008) menguraikan bahwa antara Jayakatwang dan Kertanegara masih berkerabat, yakni sepupu, ipar, sekaligus besan. 

Berdasarkan Pararaton, Jayakatwang menyimpan dendam masa lalu terhadap leluhur Kertanegara. Jayakatwang adalah keturunan dari Raja Kadiri, Kertajaya, yang dikalahkan pendiri Singasari, Ken Arok. 

Kekalahan Kertajaya membuat Kadiri jatuh ke tangan Singasari. Selain itu, keputusan Jayakatwang memberontak merupakan hasutan dari Aria Wiraraja. Wiraraja diduga kuat sebagai aktor intelektual terjadinya pemberontakan yang mengakhiri sejarah Kerajaan Singasari tersebut. 

Aria Wiraraja sebenarnya mantan pejabat tinggi di Kerajaan Singasari. Namun, oleh Kertanegara ia dimutasi ke Sumenep, Madura, lantaran sering menentang kebijakan raja. Tak heran jika Aria Wiraraja menyimpan kekesalan terhadap Kertanegara. 

Selain faktor dendam, kelengahan Kertanegara juga menjadi penyebab hancurnya Singasari. Kala itu, kekuatan militer Singasari belum seutuhnya lengkap karena sebagian besar masih dalam perjalanan pulang dari Ekspedisi Pamalayu. 

Aria Wiraraja berkata kepada Jayakatwang bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menggulingkan Kertanegara dari takhtanya. Atas saran Aria Wiraraja pula, demikian dikisahkan oleh Pararaton, Jayakatwang mengirim pasukan yang dinamakan Jaran Guyang untuk menyerbu Singasari dari arah utara. 

Raja Kertanegara yang mendengar rencana itu segera memerintahkan menantunya, yakni Raden Wijaya, untuk memimpin pasukan guna menangkal serangan Jayakatwang. Ternyata, pergerakan Jaran Guyang hanya taktik Aria Wiraraja semata. 

Raden Wijaya memang berhasil mengalahkan pasukan Jaran Guyang. Namun, Jaran Guyang ternyata cuma pasukan kecil yang dikirim sebagai pengalihan agar pertahanan di ibu kota Singasari tempat Raja Kertanegara bersemayam kosong. 

Jayakatwang segera mengirimkan pasukan yang jauh lebih besar ke Singasari. Lantaran sebagian besar kekuatan militer Singasari yang dipimpin Raden Wijaya belum kembali, pasukan Jayakatwang berhasil menduduki istana, bahkan Kertanegara terbunuh dalam insiden itu. 

Wafatnya Maharaja Kertanegara pada 1292 M berarti tamat pula riwayat Kerajaan Singasari. Jayakatwang kemudian menjadi raja di Kadiri yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Singasari. 

Namun, itu bertahan tidak lama. Kekuasaan Jayakatwang di Kadiri dihancurkan oleh menantu Kertanegara, Raden Wijaya, hanya dalam waktu setahun. Kemudian, di warsa yang sama, 1293 M, Raden Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit sebagai penerus Singasari.


Sumber :

https://www.kompas.com/stori/read/2022/05/20/100000379/hubungan-kerajaan-singasari-dengan-kerajaan-majapahit?page=all.

https://id.wikipedia.org/wiki/Kertanagara

https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/mengenal-kertanegara-raja-terkenal-kerajaan-singasari-20HHNyrsyCJ/full

https://tirto.id/sejarah-hidup-kertanegara-raja-terbesar-dan-terakhir-singasari-gii3#google_vignette

Monday, February 26, 2024

Misteri di Balik Dinding Kerajaan Majapahit

Harta Karun Tersembunyi: Mitos atau Fakta?.

Majapahit terkenal karena kekayaannya yang melimpah, tetapi seberapa banyak harta karun yang sebenarnya terkubur di dalam dinding-dinding kerajaan?. Legenda-legenda tentang harta karun yang tersembunyi sering kali mewarnai imajinasi banyak orang. Apakah ada bukti arkeologis yang mendukung keberadaan harta karun tersebut?. Ataukah ini hanya mitos belaka?.

Misteri Kehidupan di Balik Dinding Kerajaan Majapahit: Menyingkap Rahasia Gemilang Zaman Dahulu.

Kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan yang legendaris dalam sejarah Indonesia, telah meninggalkan warisan budaya dan sejarah yang mengagumkan. Namun, di balik kejayaannya yang terkenal, terdapat lapisan misteri yang menarik untuk dijelajahi. Dinding-dinding kerajaan ini bukan hanya menyimpan rahasia politik dan kekuasaan, tetapi juga mengungkap aspek kehidupan sehari-hari yang menarik dan misterius. Mari kita menjelajahi beberapa dari misteri tersebut.


Konon, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengadakan pesta besar karena kedatangan duta dari Tiongkok, angkatan perang negeri Tartar. Raja menyuguhkan hidangan dengan perkakas dari emas, mulai nampan, piring sampai sendok.

Para tamu menilai bahwa Majapahit memang negara besar yang patur dihormati. Setelah pesta usai, sebelum para tamu pulang, Hayam Wuruk ingin memperlihatkan kekayaan kerajaan  Majapahit. Semua perkakas dari emas itu dibuang ke Kolam Segaran, tempat di mana pesta itu dilangsungkan.

Sebagian masyarakat beranggapan perabot makan yang dibuang ke kolam akan diambil kembali untuk dicuci, setelah para tamu asing itu meninggalkan acara perjamuan. Ada pula yang beranggapan, perabotan yang dibuang ke kolam itu tak pernah diambil lagi.

Sehingga sampai sekarang banyak temuan perabot makan dari emas di kolam Segaran.   Sebenarnya harta karun Majapahit tidak cuma itu. Harta karun yang ditemukan di seputar Trowulan selain berupa uang keping emas, peralatan rumah tangga kerajaan, patung-patung dan candi-candi .

Terdapat kisah tentang Desa Kemasan yang terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Nama desa ini konon berasal dari banyaknya emas di dalam tanah. Emas tersebut adalah peninggalan kerajaan Majapahit.


Harta Karun Tersembunyi: Mitos atau Fakta di Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan yang telah menjadi legenda dalam sejarah Indonesia, terkenal dengan kejayaannya yang melimpah. Namun, salah satu aspek yang sering kali menarik minat banyak orang adalah keberadaan harta karun yang konon tersembunyi di dalam dinding-dinding kerajaan tersebut. Pertanyaannya, apakah harta karun ini benar-benar ada ataukah hanya mitos belaka?

Asal Usul Legenda

Legenda tentang harta karun tersembunyi di Kerajaan Majapahit telah menjadi bagian dari warisan budaya dan cerita rakyat Indonesia selama berabad-abad. Cerita-cerita ini sering kali melibatkan harta yang tidak terhitung jumlahnya, mulai dari perhiasan emas dan permata langka hingga arca-arca yang berharga dan artefak-artefak bersejarah.

Pencarian Harta Karun

Banyak pencarian telah dilakukan oleh sejarawan, arkeolog, dan pencinta petualangan untuk menemukan jejak harta karun Majapahit yang konon tersembunyi. Namun, upaya-upaya ini sering kali bertepuk sebelah tangan, dengan sedikit atau bahkan tidak ada bukti konkret yang ditemukan. Tapi, kegagalan tersebut tidak meredakan keinginan untuk terus mencari.

Mitos vs. Fakta

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah harta karun Majapahit benar-benar ada atau hanya sekadar mitos belaka. Beberapa ahli percaya bahwa kekayaan Majapahit yang tercatat dalam sejarah memang nyata, tetapi keberadaan harta karun besar yang tersembunyi mungkin hanyalah legenda yang dilebih-lebihkan. Mereka menunjukkan bahwa catatan sejarah yang ada tidak memberikan bukti yang kuat tentang adanya harta karun tersembunyi.

Namun, ada juga yang tetap yakin bahwa harta karun Majapahit tidak hanya mitos. Mereka menunjukkan bahwa keberadaan ruang bawah tanah di dalam kompleks kerajaan dan cerita-cerita rakyat yang bertahan selama berabad-abad bisa menjadi petunjuk tentang keberadaan harta karun yang belum terungkap.

Kesimpulan

Harta karun tersembunyi di Kerajaan Majapahit tetap menjadi misteri yang menarik bagi banyak orang. Meskipun banyak pencarian telah dilakukan, keberadaannya masih belum terungkap secara pasti. Apakah harta karun itu benar-benar ada atau hanya merupakan bagian dari imajinasi kolektif yang terus menginspirasi dan menantang kita, mungkin hanya waktu yang akan memberikan jawabannya. Yang pasti, legenda ini akan terus menjadi bagian penting dari warisan budaya dan sejarah Indonesia yang kaya.

Harta karun Majapahit

Kabarnya, sejumlah peninggalan berupa koin dan perabotan dari emas terkubur di beberapa tempat dan belum dapat ditemukan.

Jejak Harta karun Kerajaan Majapahit, seperti yang diceritakan dalam berbagai cerita dan legenda, konon terdiri dari koin emas yang berharga serta perabotan dan artefak seni dari emas. Koin-koin ini, jika ditemukan, tidak hanya memiliki nilai materi tetapi juga nilai sejarah yang besar, mencerminkan kejayaan sebuah kerajaan yang pernah besar.

Lokasi sebenarnya dari Harta Karun Kerajaan Majapahit tetap menjadi misteri besar. Beberapa cerita mengklaim bahwa harta karun ini terkubur di berbagai tempat di Indonesia, termasuk dalam gua, hutan, dan bahkan di dasar sungai.

Namun, sejauh ini, tidak ada bukti yang meyakinkan tentang keberadaan atau lokasi pasti dari harta karun ini. Sejak lama, banyak pencari harta karun, peneliti, dan arkeolog telah mencoba untuk menemukan Harta Karun Kerajaan Majapahit.

Namun, upaya-upaya ini seringkali menghasilkan sedikit atau tidak ada temuan yang signifikan. Beberapa penemuan kecil telah dilaporkan, tetapi harta karun sejati Majapahit tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan.

Meskipun harta karun fisik Majapahit belum ditemukan, kekayaan budaya dan warisan sejarah kerajaan ini tetap hidup dalam bentuk struktur bangunan, ukiran, dan artefak lainnya. Candi-candi seperti Candi Trowulan dan Candi Singosari adalah saksi bisu dari kemegahan Majapahit.

Selain itu, berbagai sumber tertulis dan seni rupa juga menjadi saksi berharga tentang kekayaan budaya Majapahit. Harta Karun Kerajaan Majapahit tetap menjadi misteri yang menarik dan menantang untuk dipecahkan.


Sumber :

https://economy.okezone.com/read/2021/12/27/320/2523296/10-harta-karun-tersembunyi-di-indonesia-dan-belum-ditemukan?page=2

https://rakyatempatlawang.disway.id/read/648159/harta-karun-kerajaan-majapahit-misteri-harta-karun-terbesar-di-nusantara/15

https://www.viva.co.id/berita/nasional/636061-menguak-misteri-harta-karun-majapahit?page=6

Saturday, February 24, 2024

Kisah Berdirinya Kerajaan Majapahit

Alkisah Jayakatwang mengirim pasukan untuk menyerbu Singasari dengan tujuan merebut tahta dari Kertanegara. Sang raja pun lalu mengutus menantunya untuk memimpin pasukan guna menangkal serangan Jayakatwang. Penyerangan ini sebenarnya adalah taktik pengalihan supaya ibu kota kosong. Di tengah kekosongan ini terjadilah peperangan yang mengakibatkan terbunuhnya Raja Kertanegara.

Akhirnya Jayakatwang berhasil menduduki singgasana. 



Keruntuhan Singasari membuat Raden Wijaya yang saat itu merupakan panglima perang kerajaan tersebut melarikan diri dengan pasukan yang tersisa.  Mereka memutuskan untuk pergi ke arah timur supaya tidak terus menerus dikejar oleh pasukan Kediri. Hingga kemudian ia bertemu dengan penguasa Songeneb (atau Sumenep) yang bernama Arya Wiraraja.

Arya Wiraraja dan Raden Wijaya lalu menyusun rencana untuk merebut tahta dari Jayakatwang. Raden Wijaya berjanji jika berhasil menjatuhkan Jayakatwang, ia akan membagi kekuasaan dengan Wiraraja.

Raden Wijaya yang masih dendam memakai taktik dengan bantuan Arya Wiraraja. 

Arya Wiraraja menyampaikan bahwa Raden Wijaya sudah menyerah dan ingin mengabdikan diri pada Jayakatwang. Tanpa pikir panjang, Jayakatwang langsung menerimanya dan mengirim utusan untuk menjemput Wijaya. 

Selanjutnya, Raden Wijaya meminta dibangun kawasan wisata perburuan di Hutan Tarik yang disetujui Jayakatwang. Lalu Raden Wijaya membabat hutan tersebut, menjadikannya desa, serta membentuk komunitas. Letak hutan dekat dengan aliran Sungai Brantas. 

Di wilayah itu pula Wijaya menemukan buah maja yang ternyata memiliki rasa pahit. Dari sinilah ia menamai desa tersebut Majapahit. Sebuah desa yang terus berkembang dan menarik orang-orang untuk tinggal di sana.

Kesempatan balas dendam akhirnya tiba saat utusan pasukan Kaisar Mongolia datang. 

Mereka diperintah oleh Kubilai Khan, penguasa kekaisaran kala itu. Singkat cerita, Raden Wijaya berjanji pada Kubilai jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang dengan bantuan pasukan Kaisar Mongolia maka ia akan tunduk pada Kubilai.

Serangan tersebut membuat pasukan Jayakatwang kalah. 

Setelah berhasil, Raden Wijaya malah menyerang balik pasukan Mongol yang membuat mereka memutuskan meninggalkan Jawa. Keberhasilan Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol membuatnya berhasil mendirikan kerajaan Majapahit pada 1293.


Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. 

Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293. Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah menggulingkan dan membunuh Kertanegara.


Pada tahun 1293, pasukan Mongol sebanyak 20.000 orang yang dipimpin Ike Mese, Kau Hsing dan Shih Pi mendarat di Jawa untuk menyerang Kertanagara, karena pada tahun 1289 Kertanagara telah melukai utusan yang dikirim Kubilai Khan raja Mongol.

Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol ini untuk menghancurkan Jayakatwang. Ia pun mengajak Ike Mese untuk bekerjasama. Wijaya meminta bantuan untuk merebut kembali kekuasaan Wangsa Rajasa di Jawa dari tangan Jayakatwang, dan setelah itu baru ia bersedia menyatakan tunduk kepada bangsa Mongol.

Jayakatwang yang mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan oleh pihak Mongol. Selanjutnya, gabungan pasukan Mongol, Majapahit dan Madura bergerak menyerang Daha, ibu kota Kerajaan Kadiri. Jayakatwang akhirnya kalah dan ditawan bersama putranya Ardharaja dalam kapal Mongol.

Setelah Jayakatwang dikalahkan, Wijaya meminta izin pada pihak Mongol untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Canggu, Majapahit, Wijaya dan pasukannya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya.

Pada 19 April 1293, Raden Wijaya memimpin pasukannya menyerang tentara Mongol. Tentara Mongol yang sedang berpesta di Daha diserbu oleh pasukan Majapahit. Setelah kehilangan 3.000 orang tentaranya, Ike Mese memutuskan mundur. Sisa pasukan Mongol akhirnya meninggalkan Jawa pada 24 April 1293.


Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di negeri asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.


Kemudian Wijaya menobatkan dirinya menjadi raja Majapahit yang pertama dengan gelar Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardana. Menurut Kidung Harsa Wijaya, penobatan tersebut terjadi pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka, atau bertepatan dengan 12 November 1293.


Sumber :

https://www.merdeka.com/trending/tempat-ini-jadi-lokasi-awal-raden-wijaya-dirikan-majapahit-dari-desa-jadi-kerajaan-raden-wijaya.html

https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/mengenal-raden-wijaya-sebagai-pendiri-kerajaan-majapahit-20fbrmJqWTq/full

https://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya

https://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit

Friday, February 23, 2024

Konspirasi Tornado Pertama di Indonesia


HAARP (High-Frequency Active Auroral Research Program) telah aktif sejak awal 1990-an, dengan tujuan, kemajuan teknologi komunikasi radio dianggap sebagai fokus utamanya.

HAARP telah lama jadi target teori konspirasi, pusat spekulasi liar bahwa program tersebut dirancang untuk mengendalikan cuaca, bahkan lebih buruk lagi: gempa.

Apakah termasuk tornado pertama di Indonesia?


Thursday, February 22, 2024

10 Rencana New World Order

The 10 Point Charter by Alice Bailey is as follows:

  1. TAKE GOD AND PRAYER OUT OF THE EDUCATION SYSTEM
  2. REDUCE PARENTAL AUTHORITY OVER THE CHILDREN
  3. DESTROY THE JUDEO-CHRISTIAN FAMILY STRUCTURE OR THE TRADITIONAL CHRISTIAN FAMILY STRUCTURE
  4. IF SEX IS FREE, THEN MAKE ABORTION LEGAL AND MAKE IT EASY
  5. MAKE DIVORCE EASY AND LEGAL, FREE PEOPLE FROM THE CONCEPT OF MARRIAGE FOR LIFE
  6. MAKE HOMOSEXUALITY AN ALTERNATIVE LIFESTYLE
  7. DEBASE ART, MAKE IT RUN MAD
  8. USE MEDIA TO PROMOTE AND CHANGE MINDSETS
  9. CREATE AN INTERFAITH MOVEMENT
  10. GET GOVERNMENTS TO MAKE ALL THESE LAW AND GET THE CHURCH TO ENDORSE THESE CHANGES.

Monday, February 19, 2024

Siklus 7 Abad Nusantara

Bangsa-bangsa besar di masa mendatang adalah bangsa-bangsa yang pernah besar di masa lalu. Karena kehidupan adalah merupakan siklus. Sejarah Nusantara, yang sekarang Indonesia, pernah mengalami dua kali masa kejayaan. 

Pada abad ke-7, Sriwijaya pernah berdiri sebagai kerajaan maritim yang berpengaruh luas bukan hanya atas Sumatera, tetapi juga atas Jawa dan Kalimantan dan bahkan hingga ke Semenanjung Malaysia, Kamboja, Vietnam, Thailand Selatan serta Filipina. 

Pada masa itu Sriwijaya menjadi pusat pembelajaran agama Buddha dan ramai dikunjungi para peziarah dan tokoh-tokoh agama Budha. Dalam politik, Sriwijaya disegani oleh negara-negara lain. Dalam perdagangan, Sriwijaya yang menguasai Selat Malaka dan Selat Sunda mengontrol jalur perdagangan antara dua pusat utama yaitu India dan Cina. Sriwijaya memiliki banyak komoditas antara lain kapur barus, kayu gaharu, kapulaga, gading, emas, dan timah yang membawa kemakmuran bagi Sriwijaya. 

Sriwijaya adalah kerajaan bahari historis yang berasal dari Pulau Sumatra sekitar abad ke-7 sampai abad ke-11. Kehadirannya banyak memberi pengaruh pada perkembangan sejarah Asia Tenggara (terutama dalam kawasan Nusantara barat). Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan vijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan"; dengan demikian, nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Lokasi ibukota Sriwijaya dapat dengan akurat disimpulkan berada di Kota Palembang, tepatnya di muara Sungai Musi. Sriwijaya terdiri dari sejumlah pelabuhan yang saling berhubungan di sekitar Selat Malaka.


Tujuh abad kemudian, yaitu pada abad ke-14, Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada berjaya. Dalam Negarakertagama, wilayah kekuasaan Majapahit kala itu mencakup Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Semenanjung Malaysia, Singapura, sebagian Thailand dan sebagian Filipina.

Sedikitnya ada 98 kerajaan di seluruh Nusantara yang kala itu bernaung di bawah kuasa Majapahit. Sedangkan secara ekonomi, Kerajaan Majapahit diketahui telah menghidupkan pelabuhan-pelabuhan penting di sepanjang pantai Jawa sebagai pelabuhan transit.

Seperti di Gresik, Tuban, Jepara, Lasem, Bali, Surabaya, dan Jaratan. Semua pelabuhan itu mengambil alih fungsi pelabuhan transit setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya.

Hasil alamnya pun sangat melimpah dari mulai beras, rempah, dan garam, merupakan komoditas dagang yang sangat dibutuhkan dunia kala itu. Kerajaan Majapahit juga sudah memulai regulasi perdagangan sampai perpajakan. Tak heran jika kala itu Majapahit memberi kemakmuran kepada rakyatnya akan kemajuan sistem ekonominya.

Tak hanya dari sisi ekonomi, Kerajaan Majapahit juga menyebarkan pengaruhnya lewat budaya dan politik. 


RAJA Hayam Wuruk naik tahta menjadi pemimpin Kerajaan Majapahit di usia muda. Ibunya adalah putri dari Raden Wijaya, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Catatan sejarah, Hayam Wuruk dinobatkan menjadi Raja Majapahit ketika masih berusia sekitar 16-17 tahun. Kakawin Nagarakretagama juga mengisahkan hal demikian perihal naik tahtanya Hayam Wuruk menggantikan ibunya, Tribhuwana Tunggadewi. 

Hayam Wuruk yang memiliki nama lain Raden Tetep sebagaimana dikisahkan Kakawin Pararaton memiliki gelar Abhiseka Sri Rajasanagara ketika naik tahta jadi raja. Gelar itu muncul setelah dinobatkan sebagai yuwaraja di Kahuripan, ialah Sri Rajasanagara. 

Pada Kakawin Nagarakretagama pupuh 1/4 menyatakan, dengan tegas bahwa Dyah Hayam Wuruk lahir pada Tahun Saka 1256 atau sama dengan 1334 Masehi. 

Hayam Wuruk resmi dinobatkan sebagai Raja Majapahit menggantikan ibunya. Pentabalan atau pelantikan Hayam Wuruk berlangsung kira-kira pada pertengahan tahun 1351. Mengingat pada tanggal 27 April 1351 Tribhuwanatunggadewi masih memegang kekuasaan tertinggi sebagai raja Majapahit seperti dinyatakan pada prasasti Singasari. Tribhuwana Tunggadewi masih tetap menjadi penasihat utamanya ketika Hayam Wuruk memegang pimpinan pemerintahan. 


Hayam Wuruk adalah raja terbesar dalam sejarah Kerajaan Majapahit yang memerintah didampingi oleh Patih Gajah Mada. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Majapahit mampu mencapai puncak kejayaannya. Selama 39 tahun (1350-1389 M) berkuasa, Hayam Wuruk disebut-sebut sebagai raja Majapahit terbesar atau paling utama.

Keberhasilannya membawa Majapahit menuju puncak kejayaan tidak lepas dari bantuan Mahapatih Gajah Mada. Pada saat Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjalankan pemerintahan, seluruh kepulauan Indonesia bahkan Jazirah Malaka mengibarkan panji-panji Majapahit. Sumpah Palapa yang dinyatakan Gajah Mada pun terlaksana, dengan daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, ditambah Tumasik (Singapura)dan sebagian Kepulauan Filipina.


Setelah Nusantara mengalami kejayaan di abad ke-7 dan abad ke-14, akankah Indonesia akan mengalami siklus kejayaan pada abad ke-21, yaitu antara tahun 2000-2099?.

Lembaga riset bisnis dan ekonomi, The McKinsey Global Institute, menerbitkan laporannya berjudul "The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia's Potential" yang menunjukkan dengan jelas kecenderungan kejayaan Indonesia di bidang ekonomi.


Untuk menyongsong hal tersebut, Kementerian PPN/Bappenas menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dalam mendukung pelaksanaan Visi Indonesia Emas 2045, mewujudkan Indonesia sebagai "Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan".

Negara Indonesia saat ini memiliki sebanyak 84,4 juta penduduknya adalah anak-anak yang berada dibawah umur 18 tahun. Anak-anak tersebut diharapkan menjadi generasi Indonesia Emas Tahun 2045. 

Sedikitnya ada tiga hal pokok penting yang akan menjadi acuan untuk menggapai visi Indonesia Emas 2045. Pertama, stabilitas bangsa harus terjaga dengan baik karena tanpanya tidak ada negara yang berhasil menggapai kemakmuran.

Hal kedua, perlunya keberlanjutan dan kesinambungan kepemimpinan. Presiden menganalogikan, kepemimpinan pada sebuah bangsa itu seperti tongkat estafet yang harus bersambung dan bukan dimulai dari nol pada setiap kepemimpinan.

Hal pokok ketiga adalah sumber daya manusia (SDM) yang menjadi kekuatan besar bangsa Indonesia. Presiden mengingatkan bahwa kekuatan besar tersebut jangan hanya unggul dari segi kuantitas, tetapi juga dari segi kualitasnya, baik secara fisik, skill, karakter, disiplin, hingga penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Sumber :

https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/siklus-7-abad-kejayaan-indonesia

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/08/22/konon-indonesia-punya-siklus-masa-kejayaan-setiap-7-abad-ini-penjelasannya

https://daerah.sindonews.com/read/1116343/29/kisah-gelar-raja-muda-majapahit-hayam-wuruk-saat-naik-tahta-gantikan-tribhuwana-tunggadewi-1685768761?showpage=all

https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/01/173019279/hayam-wuruk-raja-terbesar-kerajaan-majapahit?page=all.

https://indonesia2045.go.id/

https://www.kemenkopmk.go.id/menuju-indonesia-emas-2045-pemerintah-siapkan-generasi-muda-unggul-dan-berdaya-saing

https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/dari-istana/presiden-paparkan-tiga-hal-penting-untuk-gapai-indonesia-emas-2045

https://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya

Sunday, February 18, 2024

Misteri Prabu Jayabaya di Kediri

Selamat malam semuanya! Berjumpa lagi dengan saya, Sikeɪ, dan tentunya dengan narasumber kita bersama, Kang Manise. Melanjutkan perjalanan spiritual dari Kang Manise yang diceritakan kemarin, yaitu perjalanan ke Makam Soekarno, lalu selanjutnya kemana Kang Manise kemana nih?.

Ngomong-ngomong tentang Prabu Jayabaya, siapa sih beliau, dan bagaimana silsilahnya?.

Dengar-dengar Prabu Jayabaya mukso, benar ga sih mitos bahwasanya Jayabaya mukso?.

Di Kediri sana, konon juga ada peninggalan sejarah yang katanya penuh teka-teki, yaitu Situs Setono Gedong, mungkin Kang Manise bisa menjelaskan tempat apa itu ya?

Mendengar nama Jayabaya, juga tidak bisa dipisahkan dari Serat Jangka Jayabaya. Sebenarnya apa itu Serat Jangka Jayabaya?