Saturday, December 3, 2011
Galapagos Versus Krakatau
Peta Terakhir Jelang Letusan Dahsyat Krakatau
KOMPAS.com - Setelah 200 tahun tertidur, pada 19 Mei 1883, Batavia (Jakarta) dikejutkan dengan dentuman keras, melebihi bunyi meriam terkeras. Kaca-kaca jendela bergetar hebat bahkan jam dinding berhenti berdetak karena sapuan gelombang kejut. Abu dan batu apung berjatuhan di Selat Sunda, menggiring orang untuk melongok ke puncak Perbuatan, salah satu puncak di pulau gunung api Krakatau, yang tiba-tiba meletus.
Namun, setelah kegaduhan itu, Krakatau kembali tenang. Pulau dengan tiga kawah itu tidur tenang, dikitari laut biru yang dalam. Setelah hari keempat berlalu dengan damai, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Frederik s'Jacob menyimpulkan saat yang bagus untuk melihat Krakatau dari dekat, melihat apa yang terjadi, dan yang lebih penting lagi: untuk menyimpulkan apakah kejadian serupa bisa terulang kembali. Dia mengutus insinyur pertambangan, AL Schuurman, pergi ke sana.
Berbeda dengan kekhawatiran s'Jacob, perusahaan pelayaran The Netherlands Indies Steamship Company melihat Krakatau sebagai potensi besar untuk mendatangkan turis sehingga dengan sigap menyodorkan kapal wisata, Gouverneur-Generaal Loudon. "Pada Sabtu, 26 Mei, perwakilan perusahaan menempelkan pengumuman di klub Harmonie dan Concordia, mengiklankan 'wisata menyenangkan' dan mengumumkan harga yang kompetitif sebesar hanya 25 guilder," tulis Winchester.
Pada Minggu sore, kapal uap berbobot mati 1.239 ton itu terisi penuh dengan 86 penumpang dan Schuurman berada di antara mereka sebagai wakil dari pemerintah. Setelah berlayar semalaman, kapten Loudon, TH Lindeman, membuang sauh jauh dari pulau itu. Dia meminjamkan perahu kepada Schuurman. Ditemani beberapa orang yang berani dan penuh rasa ingin tahu, Schuurman mendekati pulau dengan susah payah.
"Dengan mengikuti jejak orang yang paling berani atau mungkin yang paling tolol, kami mendaki lebih jauh tanpa halangan apa pun selain abu yang ambles di bawah kaki kami. Jalannya berada di atas bukit dari mana kami bisa melihat beberapa pokok pohon yang patah mencuat dari lapisan abu, beberapa tonggak menunjukkan bahwa cabang-cabangnya direnggut dengan paksa," tulis Schuurman.
Kelompok kecil ini terus merangsek naik dengan nekad hingga mendekati dasar kawah, yang menurut Schuurman tertutup oleh "kerak buram berkilat-kilat," yang kadang-kadang membara merah dan mengeluarkan ”gulungan asap dalam gelembung-gelembung raksasa yang banyak tetapi rapat”. Schuurman akhirnya kembali ke Loudon setelah Lindeman berkali-kali membunyikan klakson.
Dua bulan kemudian Krakatau berangsur dilupakan. Hingga pada 11 Agustus, kapten angkatan darat Belanda, HJG Ferzenaar, diperintahkan menyurvei Krakatau untuk kepentingan topografi militer. Dia melewatkan dua hari di sana dan mencatat ada 14 lubang semburan di atas pulau itu. Ia membuat peta pulau itu secara detial, termasuk titik-titik berwarna merah yang menjadi pusat semburan.
Dia memberi catatan bahwa survei yang lebih rinci "harus menunggu sampai nanti, sebab pengukuran di sana masih sangat berbahaya; setidaknya, saya tidak akan suka menerima tanggung jawab mengirimkan seorang surveyor."
Namun, Krakatau tidak pernah bisa dipetakan lagi. Pada 27 Agustus 1883, pulau ini meledak dan hancur berkeping-keping. Peta Pulau Krakatau yang dibuat Ferzenaar adalah yang terakhir yang pernah dibuat.
Ledakan berkekuatan 21.574 kali bom atom (De Neve, 1984) itu tak hanya menghancurkan tubuh Pulau Krakatau. Kehancuran juga melanda pesisir Banten dan Lampung. Gelombang awan panas dan tsunami melanda, menghancurkan desa-desa di pesisir Banten dan Lampung, serta menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.
Kengerian itu digambarkan oleh Muhammad Saleh dalam Syair Lampung Karam, satu-satunya laporan pandangan mata yang dibuat pribumi tentang letusan Krakatau. Muhammad Saleh lewat bait syairnya menggambarkan di atas langit terlihat seperti bunga api beterbangan seperti bahala yang diturunkan Tuhan dan membuat hati takut bukan kepalang. Kegelapan menyelimuti, guncangan gempa tiada henti, dan datang gelombang menghanyutkan. "Besar gelombang tidak terperi, lalulah masuk ke dalam negeri, berlarian orang ke sana kemari...," tulis Muhammad Saleh.
Petaka Krakatau itu menambah derita rakyat yang beratus tahun disengsarakan ekonomi kolonial dan priyayi pribumi yang mengisap. "Tak disangsikan lagi bahwa wabah penyakit ternak dan wabah demam, serta kelaparan yang diakibatkannya, dan letusan Gunung Krakatau yang menyusul, telah menjadi pukulan hebat bagi penduduk," tulis Sartono Kartodirdjo, dalam buku Pemberontakan Petani di Banten 1888.
Menurut sejarawan terkemuka ini, "... letusan Gunung Krakatau menyebabkan luas tanah yang tidak dapat digarap menjadi lebih besar lagi, terutama di bagian barat afdeling Caringin dan Anyer." Kondisi kesengsaraan yang kemudian bertemu dengan gerakan sosial-keagamaan ini menjadi pemantik kesadaran rakyat untuk melawan Belanda, yang dianggap sebagai pendosa dan biang dari segala kesengsaraan itu.
Dua bulan setelah letusan Krakatau, kerusuhan pecah di Serang. Seorang serdadu Belanda ditikam, pelakunya kabur di tengah keramaian. Kejadian berulang sebulan kemudian. Serentetan perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan hingga pada Juli 1888 muncullah pemberontakan petani Banten.(Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono)
Thursday, December 1, 2011
Kenali Langkah Kecil Cegah Perubahan Iklim
JAKARTA, KOMPAS.com - Green Festival dibuka di Jakarta, Kamis (1/12/2011) di Bentara Budaya Jakarta. Pameran yang terselenggara keempat kalinya ini telah diadakan di Bandung 24-26 November, berlangsung di Jakarta hingga 4 Desember 2011 dan akan digelar di Surabaya 9-11 Desember 2011.
Datang ke Green Festival, pengunjung bisa merefleksikan masalah perubahan iklim serta mendapatkaninsight cara menyikapinya dari skala kecil. Di Green Festival, terdapat zona yang merepresentasikan persoalan pemicu perubahan iklim, yakni air, pohon, energi, sampah, dan transportasi.
Merefleksikan masalah perubahan iklim, di Zona Iklim, pengunjung bisa melihat patung es pinguin bersebelahan dengan beruang kutub. Patung yang perlahan mencair ini merefleksikan konsekuensi pemanasan global dan perubahan iklim bagi lingkungan kutub.
Di Zona Transportasi, pengunjung bisa menyadari bahwa pemakaian kendaraan bermotor bisa berdampak buruk bagi Bumi. Sepeda dipamerkan sebagai alternatif. Di Green Festival, ada pula stand Komunitas Bike to Work yang mengajak menggunakan sepeda dalam aktivitas sehari-hari.
Di Zona Air, ditunjukkan pesan lewat kartun bahwa konsumsi air yang berlebihan juga berdampak buruk bagi lingkungan. Pengunjung diajak mengkonsumsi air secara efisien. Sementara di Zona Sampah, pengunjung diajak mengurangi penggunaan sampah plastik.
Ada beberapa stand yang bisa dikunjungi di Green Festival. salah satunya adalah stand Komunitas Halaman organik yang mengajak memanfaatkan halaman yang terbatas untuk menanam tumbuhan bermanfaat. Tujuannya, mencapai kesehatan raga, jiwa, dan lingkungan.
Green Festival kali ini mengambil tema "Gaya Hidupku untuk Bumi". Nugroho F Yudho, Ketua Pelaksana Green Festival 2011 mengatakan, "Kampanye ini sekaligus mengajak masyarakat menjadikan kegiatan mengurangi efek pemanasan global sebagai gaya hidupnya sehari-hari."
Green Festival terselenggara berkat kerjasama beberapa korporat, diantaranya PT Pertamina PERSERO, Sinarmas APP, PT Tirta Investama (Danone AQUA), Tupperware, Kompas, Metro TC dan jaringan data FeMale Indonesia.
Friday, November 18, 2011
Satu Planet Terlempar dari Tata Surya?
TEXAS, KOMPAS.com — Selama ini, astronom memercayai bahwa Tata Surya memiliki 4 planet raksasa, yakni Jupiter, Saturnus, Neptunus, dan Uranus. Namun, analisis terbaru menunjukkan bahwa Tata Surya dengan 4 planet raksasa adalah janggal. Kemungkinan, Tata Surya memiliki 5 planet raksasa.
David Nesvorny dari Southwest Research Institute di San Antonio, Texas, Amerika Serikat, adalah ilmuwan yang mengungkapkan pendapat baru itu. Untuk sampai pada kesimpulannya, Nesvorny membuat 6.000 simulasi komputer yang menganalisis obyek di sekitar Neptunus dan kawah Bulan.
Berdasarkan analisis Nesvorny, Tata Surya hanya memiliki 2,5 persen kemungkinan menjadi seperti sekarang jika sejak awal hanya memiliki 4 planet raksasa. Sementara ada 10 kali lebih besar kemungkinan bagi Tata Surya menjadi seperti saat ini jika awalnya memiliki 5 planet raksasa.
Planet raksasa kelima itu dipercaya terlempar dari Tata Surya. Saat Tata Surya berusia 600 tahun, ada periode ketidakstabilan orbit planet. Ada planet yang berpindah ke Sabuk Kuiper, wilayah dekat Neptunus, dan ada yang berpindah ke dalam.
Jupiter yang memiliki pengaruh gravitasi kuat diketahui adalah salah satu biang keladinya. Orbit Jupiter bisa berubah tiba-tiba dan satu planet raksasa terlempar dari Tata Surya karenanya. Sementara planet-planet lain tetap bertahan.
Nesvorny mengatakan, "Kemungkinan Tata Surya memiliki lebih dari 4 planet raksasa dan melemparkan beberapa di antaranya, terkesan cocok dengan penemuan banyaknya planet yang ada di wilayah antarbintang, yang menunjukkan bahwa terlemparnya planet adalah hal yang umum."
Pada Space.com, Jumat (11/11/2011) lalu, Nesvorny mengatakan bahwa temuan ini memunculkan pertanyaan. Salah satunya tentang planet Mars dan planet Super Bumi, apakah mereka terbentuk di Tata Surya Luar (setelah orbit Mars) lalu tereliminasi.
Pendapat Nesvorny memang fantastis dan membuat orang tercengang. Namun, ia sendiri merasa bahwa pendapatnya masih harus diuji kebenarannya dengan serangkaian penelitian. Hasil analisis Nesvorny dipublikasikan di edisi online Astrophysical Journal Letters minggu lalu.
Monday, November 7, 2011
Logam Standar yang Disimpan
Sejak tahun 1889, kilogram telah didefinisikan sebagai massa logam standar yang disimpan International Bureau of Weight and Measure (BIPM–dalam bahasa Perancis) yang disimpan di Sevres, Paris.
Logam standar tersebut tersusun atas 10 persen iridium dan 90 persen platinum dan begitu dibanggakan. Logam itu disimpan di tiga gelas kaca di Pavilion de Breteuil.
Pada tahun 1992, logam itu ternyata berubah. Pengukuran menunjukkan bahwa massa logam tersebut telah berubah sebesar 50 mikrogram, setara dengan butir pasir berukuran 0,4 milimeter. "Sebenarnya, kami tidak yakin apakah itu bertambah atau berkurang," kata Alain Picard, Direktur Mas Department BIPM, seperti dikutip AFP, Minggu (6/11/2011).
"Perubahan mungkin disebabkan efek permukaan, kehilangan gas pada logam, atau kontaminan," kata Picard.
Perubahan telah memicu rasa penasaran di kalangan ilmuwan. Kilogram merupakan salah satu satuan standar (Satuan Internasional/SI) yang disepakati untuk mempermudah pengukuran massa suatu besaran. Satuan internasional lain misalnya meter untuk panjang.
Tak seperti SI lain, kilogram adalah satuan terakhir yang didefinisikan dengan material. SI selanjutkan didefinisikan dengan konstanta Planck yang ditemukan pada 1899. Kontansta Planck dilambangkan dengan "h". Konstanta tersebut merujuk pada paket energi terkecil, atau quanta, yang dipertukarkan oleh dua partikel.
Dengan berubahnya massa logam standar, para ilmuwan pada 21 Oktober 2011 dalam General Conference on Weights and Measures sepakat untuk mengubah acuan pengukuran kilogram.
Nantinya, kilogram tidak lagi diukur berdasarkan massa logam yang disimpan di Sevres, tetapi berdasarkan konstanta Planck. Namun, perubahan ini mungkin tak akan dilaksanakan sebelum 2014. Para ilmuwan akan melakukan evaluasi terlebih dahulu untuk memastikan akurasi pengukuran hingga 20 bagian per miliar.
Lalu, jika nanti diaplikasikan, apakah kilogram akan berubah dan kita harus mengganti timbangan yang kita punya? Ilmuwan mengatakan, dalam keseharian, tidak akan ada perubahan apa pun. "Namun, perubahan akan memberi dampak pada pengukuran yang luar biasa akurat yang dilaksanakan oleh laboratorium yang sangat terspesialisasi," demikian press release konferensi seperti dikutip AFP.
Saturday, October 29, 2011
Kehidupan Zaman Es Masih Berlangsung di China
Peneliti dari Chinese Academy of Science dan Natural History Museum Inggris menyatakan telah mengidentifikasi tujuh spesies jelatang dari Provinsi Guaxi dan Yunnan. Jelatang atau dalam bahasa Inggris disebut poison ivy adalah jenis tumbuhan berbulu halus yang bisa menyebabkan gatal di kulit.
Seharusnya di kedua provinsi tersebut terdapat tumbuhan tropis. Namun, tujuh spesies yang ditemukan tidak mirip dengan tumbuhan tropis. Jelatang tersebut ditemukan di tempat-tempat gelap, di mana jarang ada sinar matahari.
Fakta yang ada, kemungkinan jelatang untuk bisa hidup di kegelapan hanya 0,02 persen. Hal ini sangat tidak mungkin terjadi di zaman sekarang ini ehingga kemungkinan zaman es masih berlangsung di goa tersebut.
Lingkungan yang memungkinkan jelatang macam ini bisa hidup adalah pada zaman es. Goa dan jelatang ini merupakan sisa-sisa dari kehidupan zaman es yang masih ada di planet ini. Selain itu, ada kemungkinan lainnya yang memungkinkan hal ini terjadi, yaitu evolusi pada jelatang. Akan tetapi, umur dari goa tersebut hanya satu juta tahun yang berarti bahwa evolusi pada jelatang terjadi sangatlah cepat.
Peneliti mengatakan bahwa ini adalah contoh evolusi yang sangat cepat, mereka akan meneliti hal ini secepatnya.(National Geographic Indonesia/Arief Sujatmoko)
Friday, September 16, 2011
HUTCHISON EFFECT (ANTI GRAVITASI, FUSI DAN PEMANASAN ANOMALI)
Ini adalah hasil translate ane sendiri berdasarkan dari link diatas, mohon diluruskan kalo ada yang salah, thanks ..^Irfan Rasyid^
oleh Mark A. Solis
1 Timbulnya efek levitasi (daya angkat/antigravitasi) pada benda-benda berat.
2. Perpaduan/fusi dua benda yang berbeda seperti logam dengan kayu (persis seperti yang digambarkan dalam film, “Eksperimen Philadelphia”)
3. Pemanasan anomali (tidak lazim) pada logam dan tanpa menimbulkan terbakarnya benda lain yang berdekatan
4. Perekahan spontan pada logam (yang terpisah dengan bergeser secara menyamping), dan kemudian terpisah untuk sementara, dan akhirnya berubah kedalam struktur ‘kristal’ namun tetap memiliki sifat fisik sebagai ‘logam’.
.
.
Copyright (c) 1999 oleh Mark Solis A.
illus-terasi: Jakarta Tahun 2210 :p
Tapi sebagian bilang udah ditest dan ‘berhasil’, prinsipnya memanipulasi gelombang radio dengan sinyal ponsel, batere, kartu & koin (sebagai media) dan botol pepsi:
