Sunday, November 26, 2023

Shiva Ayyadurai, Sang Penemu Email

Shiva Ayyadurai, sang penemu email yang terlupakan
27 Jul 2016

Shiva Ayyadurai, sang penemu email yang terlupakan Shiva Ayyadurai, sang penemu email. © mensxp.com

Mungkin tak pernah ada yang menyangka namun penemu email adalah seorang pria India bernama VA Shiva Ayyadurai. Tak bisa dipungkiri, sang penemu yang sangat berjasa bagi kita saat ini, terutama para pengguna smartphone dan pekerja kantoran dan mahasiswa yang butuh koordinasi secara cepat, ternyata telah dilupakan oleh masyarakat.

Bahkan, seorang pria India Amerika ini menemukan sistem email ketika dia hanya berumur 14 tahun. Sangat berprestasi untuk anak yang di umur sekian biasanya masih sedang dalam proses pencarian jati diri.

Tepat tahun ini dan di bulan ini, email sudah hidup selama 32 tahun. Untuk memperingatinya, yuk kita simak kisah hidup dari ilmuwan yang tak banyak dikenal orang ini.

Lahir dari keluarga Tamil di Bombay, India, di umur 7 tahun dia harus pergi dari India untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika Serikat. 7 Tahun berada di Amerika, Ayyadurai yang seorang siswa Livington High School di New Jersey, mulai mengerjakan sistem email untuk University of Medicine and Dentistry of New Jersey. Kala itu, tugasnya hanyalah meniru sistem surat menyurat yang masih berbasis dokumen kertas menjadi sebuah software.

Sebuah sistem tersebut dia sebuah sebagai 'EMAIL.' Sistem surat-menyurat antar kantor juga diubahnya menjadi digital, lengkap dengan fitur Inbox, Outbox Folder, Memo, Attachment terinspirasi dari lampiran yang dijepit dengan penjepit kertas, serta Address Book. Fitur ini juga masih dipakai hingga saat ini.

Setelah itu, dia membuat sebuah versi elektronik dari sistem ini, dengan lebih dari 50.000 kode yang ia tulis. Dengan ini dia berhasil untuk mereplikasi sistem surat menyurat antar kantor secara elektronik.

Pada 30 Agustus 1982, Pemerintah Amerika Serikat secara memperkenalkan Ayyadurai sebagai penemu email, dengan memberinya US Copyright untuk Email, dari penemuannya tahun 1978 tersebut. Meski demikian, namanya sudah dilupakan orang saat ini.


Sumber :
https://www.merdeka.com/gaya/shiva-ayyadurai-sang-penemu-email-yang-terlupakan.html

Teori Konspirasi Tentang PCR Test

Teori Konspirasi Paling Vokal di Internet Soal Akurasi PCR Test

Senin, 06 Jul 2020 16:50 WIB

Teori konspirasi terkait virus Corona terbaru yang paling vokal dari Dr Shiva (Foto: Tech Startups)


PCR Test atau kita kenal sebagai swab test adalah cara yang dianggap memberikan tingkat deteksi virus corona yang jauh lebih tinggi dibanding rapid test. Namun pandangan ini berbeda dengan Dr VA Shiva Ayyadurai, MIT. PhD, yang disebut netizen sebagai teori konspirasi.

Dr Shiva adalah seorang ilmuwan yang memegang empat gelar dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Ia menyatakan secara singkat bahwa PCR Test adalah hal yang tidak bisa dijadikan patokan untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2.

"Yang didapat dari PCR Test adalah mereka mengambil sampel dari dalam hidungmu dan sampel yang keluar berupa lendir dan sebagainya. Apa yang mereka cari jika ada virus corona akan terdapat rantai urutan RNA. Mereka mendapatkan yang mereka sebut 'primer'. Sesuatu yang mereka kira sama dengan COVID-19. Semacam mencocokkan pola. Kemudian mereka menemukan kecocokannya di sini, maka kamu dinyatakan positif," katanya dalam suatu perbincangan di YouTube.

Lantas ia membawa penemu PCR Test, Kary Mullis yang mana merupakan pemenang Nobel di bidang kimia bahwa Mullis sudah memperingatkan bahwa metode ini tidak untuk mendeteksi virus melainkan nucleic acid.

"PCR bukan bersifat kuantitatif melainkan kualitatif. Jadi, primer yang mereka cari bersifat probabilistik, tidak definitif. Jadi hanya karena hasil test-nya positif bukan berarti kamu terkena virus tersebut. Bukan berarti tidak ada virusnya, tapi ini disusupi kepentingan bagi Amerika dan seluruh dunia," tuduh Shiva.

Dr Shiva memang dikenal vokal dalam membicarakan terkait virus corona atau COVID-19 di berbagai media bahkan media sosial miliknya. Sosoknya dikenal kontroversial dan kerap membahas teori konspirasi. Kritiknya soal akurasi PCR Test pun bagi sebagian kalangan dianggap sebagai konspiratif.

Lantas sebenarnya apa itu PCR Test? Mengapa keakuratannya menjadi hal yang cenderung dipertanyakan. Mari kita belajar lebih dalam soal metode ini.

PCR atau polymerase chain reaction atau RT-PCR (real time polymerase chain reaction) menggunakan sampel usapan lendir dari hidung atau tenggorokan. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus berreplikasi.

Ahmad Rusdan Handoyo Utomo PhD, Principal Investigator, Stem-cell and Cancer Research Institute, menjelaskan bahwa rapid test bisa memberikan hasil 'false negative' yakni tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi bila tes dilakukan pada fase yang tidak tepat.

"Data antibodi tidak selalu bersamaan dengan data PCR. Ketika data PCR menunjukkan virus RNA terdeteksi, kadang-kadang antibodi belum terbentuk," ujarnya.

Kemungkinan false negative ini juga disinggung oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto.

"Hanya masalahnya bahwa yang diperiksa immunoglobulin-nya maka kita butuh reaksi immunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi paling tidak seminggu karena kalau belum seminggu terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu pembacaan immunoglobulin-nya akan menampilkan gambaran negatif," kata Yuri.

Terlepas dari argumen Shiva yang dianggap sebagian orang sebagai teori konspirasi, sejauh ini memang belum ada yang bisa memberikan keakuratan 100% mengenai deteksi suatu virus karena selalu ada error meski kecil peluangnya. Jika mengalami gejala COVID-19, tak ada salahnya untuk segera mengunjungi rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Sumber :

https://inet.detik.com/science/d-5082095/teori-konspirasi-paling-vokal-di-internet-soal-akurasi-pcr-test. 

Tuesday, October 31, 2023

Pria Sidoarjo Gerebek Istri & Selingkuhan

Pria Sidoarjo Gerebek Istrinya Tengah Bugil Bareng Selingkuhan di Kamar Hotel 

Rabu, 1 November 2023 - 00:18 WIB 


Seorang pria berinisial W (38 tahun) menggerebek istrinya sendiri, AE (36), saat berduaan dalam kondisi bugil dengan pria lain, HWP (41), di sebuah kamar hotel di Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kini kasus perselingkuhan itu ditangani Kepolisian Resor Mojokerto. 

Informasi diperoleh, penggerebekan pasangan terlarang itu terjadi pada Sabtu akhir pekan lalu. Saat itu, W yang sudah lama curiga istrinya berbuat serong mengendus istrinya tengah bersama selingkuhannya di sebuah kamar hotel di Pungging, Mojokerto. 

Setelah dipastikan keberadaan pasangan terlarang itu, W kemudian mengajak petugas dari Polsek Pungging untuk melakukan penggerebekan. Benar saja, saat digerebek, AE tengah berada di dalam kamar bersama HWP dalam kondisi bugil. 

"Pelaku dalam keadaan telanjang setelah berhubungan badan satu kali," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Mojokerto, Ajun Komisaris Polisi Imam Mujali, Selasa, 31 Oktober 2023. Pasangan kumpul kebo itu lalu dibawa petugas Polsek Pungging ke Unit PPA Polres Mojokerto. 

Saat itu juga W membuat laporan resmi dugaan perselingkuhan atau perzinaan oleh istrinya dengan pria lain, HWP. "Sudah kami lakukan pemeriksaan," kata AKP Imam. 

AE dan HWP sama-sama berasal dari Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan hasil pemeriksaan, lanjut dia, AE dan HWP terjalin hubungan asmara setelah keduanya saling curhat soal masalah rumah tangga masing-masing. 

"Awalnya dari curhat, akhirnya merasa nyaman," ujar Imam. Dari saling curhat itulah kemudian timbul rasa antara keduanya. AE dan HWP kemudian nekat menjalin hubungan terlarang, bahkan sampai melakukan hubungan badan. 

"Menurut keterangan mereka hanya satu kali [hubungan badan]," ungkap Imam. Dia menuturkan, AE dan HWP belum ditetapkan sebagai tersangka, namun kasus sudan dinaikkan ke tingkat penyidikan. Pasal yang diterapkan ialah Pasal 284 KUHP tentang Perzinahan. Ancaman hukumannya maksimal 5 tahun penjara.


Sumber :

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1652927-pria-sidoarjo-gerebek-istrinya-tengah-bugil-bareng-selingkuhan-di-kamar-hotel?page=all

Wednesday, September 20, 2023

4 Langkah Perangi Konten LGBT

4 Langkah Perangi Konten LGBT Pada Anak ala Ning Ita Fajria Tamim 

Keberadaan konten Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dalam media bebas kembali menghebohkan publik lewat tayangan anak-anak di kanal Youtube Kids. Tayangan tersebut diduga menyisipkan paham LGBT lantaran ada kutipan lirik berbunyi, “tapi papa dan ayahku siap membantu,”. 

Dengan artian ia diduga memiliki dua orang tua berjenis kelamin laki-laki. Merespons hal itu, Dokter sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nazhatut Thullab, Sampang, Jawa Timur, dr Ita Fajria Tamim menyebutkan bahwa tayangan di media, khususnya film, memiliki potensi besar untuk memengaruhi tindakan, perilaku dan gaya hidup penontonnya. 

“Ideologi apa pun itu, LGBT atau lainnya pasti mengharapkan pendukung lebih banyak untuk meyakini budaya itu, film jadi salah satu medium," kata Ning Ita, sapaannya, kepada NU Online, Jumat (25/8/2023).  

Untuk mencegah hal itu terjadi, Ning Ita, membagikan empat langkah memerangi konten LGBT pada tontonan anak, sebagai berikut:  

Memberikan pendidikan seks pada anak 

Menurutnya, dengan melakukan pendidikan seksual kepada anak-anak, mereka akan dapat memahami perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan LGBT. Orang tua bisa mulai membangun komunikasi yang mudah dimengerti tentang nilai-nilai fitrah seksual, sehingga nilai-nilai tersebut tertanam dan terinternalisasi sejak dini.   

“Mengenalkan fitrah seksual ketika mereka sudah  mengerti dan bisa merespons, biasanya di usia 2-3 tahun. Orang tua harus memulai mengenalkan bahwa fitrahnya laki-laki diciptakan untuk perempuan. Contohnya: ayah sama ibu, kakek dan nenek, om dan tante. 

Semua diciptakan berpasang-pasangan dengan jenis kelamin yang berbeda-beda karena fitrahnya seperti itu,” beber Ning Ita.  

“Sebaliknya, kita perlu mempertegas kalau ternyata ada orang yang suka dengan sejenisnya itu berarti menyalahi fitrah dan itu tidak diperbolehkan,” sambung dia.  


Selalu menemani anak dan menonton bersama-sama 

Ia menyebut bahwa keberadaan media sosial saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat, tak terkecuali anak-anak. Kemudahan akses informasi dan pengetahuan di media sosial menjadi sarana yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari.  

Untuk itu kontrol atau pengawasan orang tua terhadap tontonan anak-anak perlu ditingkatkan. Pasalnya, beberapa tayangan anak, memang bersifat mendidik. Namun, ada juga yang tidak mendidik alias menyimpang.  

“Itu paling tidak ikhtiar yang bisa kita lakukan. Karena melepas 100 persen anak untuk tidak memegang gawai/menggunakan media sosial itu tidak mungkin di zaman sekarang,” ucap penulis buku Sekosong Jiwa Kadaver itu.  


Pengawasan dari pihak eksternal 

Tak hanya kepada orang tua, ia juga meminta kepada pihak-pihak pemangku kebijakan, dalam hal ini pemerintah untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai konten menyimpang yang menyasar anak-anak di media publik. 

“Karena pemerintah ini kan pemegang kebijakan kalau pemerintah berkenan untuk membuat kebijakan misalnya untuk mengurangi akses masuk paham-paham LGBT itu maka dampaknya tentu akan lebih luas. Jadi, harapannya pemerintah bisa secepatnya bertindak melawan ini,” katanya.  


Berdoa 

Selain upaya lahiriah sebagaimana yang disebutkan di atas, ia menyebut berdoa sebagai ikhtiar batin juga perlu dilakukan. "Berikutnya adalah perbanyak berdoa kepada Allah swt agar anak kita senantiasa dilindungi dari paham-paham yang menyimpang,” tandas dokter yang fokus di bidang pengembangan diri dan kesehatan mental itu. 


Sumber: 

https://www.nu.or.id/nasional/4-langkah-perangi-konten-lgbt-pada-anak-ala-ning-ita-fajria-tamim-mdsOR

Tuesday, September 5, 2023

Tidak Ada Gen yang Sebabkan Seseorang Jadi Gay

Peneliti Ungkap tak Ada Gen yang Sebabkan Seseorang Jadi Gay
Studi ilmiah menyebut faktor nongenetik yang menyebabkan seseorang jadi gay
Jumat 30 Aug 2019 


Sebuah studi ilmiah yang meneliti dasar biologis perilaku seksual telah mengkonfirmasi tidak ada istilah gen gay. Kendati begitu terdapat campuran kompleks genetika dan pengaruh lingkungan yang bisa membuat seseorang menjadi penyuka sesama jenis.

Berdasarkan penelitian yang menganalisis data tentang DNA dan pengalaman seksual dari hampir setengah juta orang, terdapat ribuan varian genetik yang terkait dengan perilaku seksual sesama jenis, sebagian besar dengan efek yang sangat kecil. Lima dari penanda genetik secara signifikan dikaitkan dengan perilaku sesama jenis. Hanya saja sejumlah peneliti berpendapat hal itu masih jauh dari prediksi tentang preferensi seksual seseorang.

 "Kami memindai seluruh genom manusia dan menemukan lokasi yang jelas terkait dengan apakah seseorang melaporkan terlibat dalam perilaku seksual sesama jenis atau tidak," kata Ahli Biologi di Institute of Molecular Medicine di Finlandia, Andrea Ganna, yang juga ikut memimpin penelitian tersebut sebagaimana dilansir dari Reuters, Jumat (30/8). 

Artinya, menurut dia penelitian tersebut menunjukkan faktor-faktor nongenetik yang menyebabkan terjadinya perilaku menyukai sesama jenis. Faktor-faktornya antara lain lingkungan, pengasuhan, kepribadian, dan pengasuhan yang jauh lebih signifikan dalam mempengaruhi pilihan pasangan seksual seseorang. Hal ini layaknya dengan kebanyakan kepribadian, perilaku, dan sifat fisik manusia lainnya. 

Penelitian ini menganalisis tanggapan survei dan melakukan analisis yang dikenal sebagai studi asosiasi genom (GWAS) dengan responden lebih dari 470 ribu orang yang telah memberikan sampel DNA dan informasi gaya hidup ke Biobank Inggris serta pengujian genetika Amerika Serikat.

Adapun perusahaan yang mendanai penelitian itu, 23andMeInc, saat ditanya mengapa mereka ingin melakukan penelitian seperti itu, tim mengatakan kepada wartawan pada konferensi jarak jauh bahwa studi sebelumnya tentang topik ini kebanyakan terlalu kecil untuk memberikan kesimpulan yang kuat. "Studi sebelumnya kecil dan kurang kuat," kata Ganna. 

Untuk itu pihaknya memutuskan untuk membentuk konsorsium internasional yang besar dan mengumpulkan data untuk (hampir) 500 ribu orang yang kira-kira 100 kali lebih besar dari penelitian sebelumnya tentang topik tersebut.  Hasilnya, yang diterbitkan dalam jurnal Science pada hari Kamis, (29/8) bahwa tidak ditemukan pola yang jelas di antara varian genetik yang dapat digunakan untuk memprediksi atau mengidentifikasi perilaku seksual seseorang secara bermakna. 

"Kami telah mengklarifikasi bahwa ada banyak keragaman di sana," Anggota di Broad Institute MIT dan Harvard yang bekerja dengan Ganna, Benjamin Neale.


Sumber :
https://ameera.republika.co.id/berita/px0n4u349/peneliti-ungkap-tak-ada-gen-yang-sebabkan-seseorang-jadi-gay

Friday, August 18, 2023

Konspirasi dan Kebohongan Pemanasan Global

Menguak Konspirasi dan Kebohongan Pemanasan Global


Pemanasan Global atau global warming adalah isu yang sangat populer akhir-akhir ini, karena menyangkut masalah lingkungan hidup. Di seluruh dunia, pemanasan global menjadi isu penting yang dibicarakan, didiskusikan, diseminarkan, dan dibahas banyak pakar. Tujuannya, tentu saja, berupaya menanggulangi krisis lingkungan dalam bentuk pemanasan global tersebut.

Sebagian besar penduduk bumi, di negara mana pun, hampir bisa dipastikan telah mendengar atau bahkan mengetahui isu pemanasan global, dengan segala penjelasannya. Ada banyak pakar dan ilmuwan yang menggembar-gemborkan isu tersebut, ada banyak media—cetak maupun elektronik—yang terus memberitakannya, dan ada banyak buku yang mengulas isu tersebut. Namun, di tengah kepercayaan dunia terhadap isu pemanasan global, ternyata ada sebagian pihak yang meragukannya.

Pihak-pihak yang meragukan kebenaran isu pemanasan global bertanya-tanya, benarkah pemanasan global itu ada? Atau hanya rekayasa? Benarkah bumi sedang mengalami masalah lingkungan, atau hal itu sekadar dibesar-besarkan?

Jesse Ventura adalah salah satu tokoh yang getol berusaha mengungkap kebenaran isu terkait pemanasan global. Jesse Ventura adalah mantan Gubernur Massachusetts dan mantan NAVY Seal di Vietnam, serta mantan seorang pegulat wrestling profesional, juga seorang bintang film. Ia juga seorang penyelidik atau investigator, yang menghasilkan banyak buku terkait investigasi-investigasinya.

Terkait pemanasan global, Jesse Ventura meragukan kebenaran isu tersebut. Didorong keraguannya, dia pun melakukan penyelidikan dan investigasi, untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi seakurat mungkin.

Penyelidikan Jesse Ventura dimulai dari Los Angeles, tempat pertama kalinya isu pemanasan global dicetuskan, dan lahirnya masalah lingkungan hidup akibat pemanasan global. Di sana, ia bertemu Noel Sheppard, seorang jurnalis investigator. Noel Sheppard memberitahu, bahwa usaha menekan polusi adalah ide yang bagus, namun tidak ada sangkut-pautnya dengan pemanasan global.

Noel Sheppard menjelaskan kepada Jesse Ventura, “Ini semua hanyalah rekayasa untuk mendapatkan kekuasaan, mendapatkan uang, dan keuntungan, serta mendapatkan kekuatan untuk mengontrol populasi dunia oleh para elite-elit dunia yang selama ini membuat mitos terjadinya pemanasan global!”

Semuanya memang terkait dengan karbondioksida dan pencemaran, namun di situlah inti dari semuanya, karena memang ada kaitan yang erat. Para elit tersebut, menurut Noel Sheppard, memproduksi dan menjual segala sesuatu yang menyangkut pemberhentian pemanasan global yang mereka cetuskan sejak sekitar 20 tahun lamanya.

Mereka mengumpulkan uang dari penjualan triliunan dollar melalui berbagai program pemberhentian pemanasan global, termasuk green product semisal pupuk dan lainnya, juga investasi keuangan perusahaan dari pabrik-pabrik, perusahaan tenaga listrik, dan energi lainnya, serta semua barang yang menyangkut lingkungan hidup di seluruh pelosok dunia, bahkan hingga gaya hidup masyarakat dunia.

Semua itu bisa berdampak buruk, karena jika semua gaya hidup masyarakat berubah, maka tak akan pernah bisa normal seperti semula lagi, dan segelintir elit akan terus mendapat keuntungan tak terhingga untuk modalnya mengontrol dunia.

Misalnya, jika suatu industri atau perusahaan telah mencemari lingkungan (seperti pertambangan dan sejenisnya), dan mereka tak mungkin menutup pabrik atau produk tersebut, maka semua perusahaan, industri dan pabrik di seluruh dunia akan dikenai biaya penalti yang tinggi, dengan alasan untuk mensubsidi pabrik-pabrik kecil dan pabrik-pabrik yang pro-lingkungan hidup di seluruh dunia.

Tapi ada masalah lain yang belum tentu dilakukan para elit tersebut. Yaitu, apakah perusahaan-perusahaan mereka yang berjumlah ribuan juga membayar penalti yang sama?

Noel Sheppard memberi rekomendasi kepada Jesse Ventura, berupa nama-nama ilmuwan yang juga mengetahui, meneliti, menyelidiki, dan bisa membuktikan adanya kebohongan terkait isu pemanasan global. Jesse Ventura diberi petunjuk untuk menemui tiga pakar yang ahli dalam bidangnya, yang mengetahui kebohongan pemanasan global.

Tim investigasi yang diketuai Jesse Ventura pun lalu bergerak berpencar menemui para pakar untuk menghimpun data dan bukti, mengenai benar atau tidaknya pemanasan global. Salah satu tim, Alex Pipper, menuju Massachusetts untuk menemui tim ahli di MIT atau Massachusetts Institute of Technology, yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya para pakar dan ilmuwan di Amerika.

Alex Pipper menemui ahli fisika atmosfer (Atmospheric Physicist), Prof. Dr. Richard Lindzen, di MIT. Sang profesor menyatakan bahwa isu pemanasan global memang bohong, dan para ilmuwan yang tak membenarkan adanya pemanasan global berjumlah ribuan. Namun, ia menjelaskan, jika kenyataan itu dikemukakan (bahwa pemanasan global hanyalah kebohongan), hasilnya bisa membuat masalah besar di dunia. Jadi, para ilmuwan di bidang lingkungan sengaja bungkam, dan tidak mengemukakannya ke dunia.

Prof. Dr. Richard Lindzen menyatakan bahwa ini (isu pemanasan global) adalah proyek multi miliar dolar. Karenanya, para ilmuwan tak berani mengemukakannya. Selain itu, hampir seluruh biaya penelitian di banyak universitas selama ini dibiayai oleh para elit (yang sekarang getol mengkampanyekan pemanasan global). Karenanya, jika kebohongan terkait pemanasan global diungkap, bisa jadi riset di dunia akan berhenti karena tidak ada dana untuk para ilmuwan.

Jadi, isu pemanasan global hanyalah kebohongan dan rekayasa. Kenyataannya, suhu bumi tetap dan biasa saja, adanya peristiwa bencana atau lainnya juga merupakan sesuatu yang alamiah, tidak ada hubungannya dengan pemanasan global. Namun, karena pada masa kini media informasi internet dan televisi telah dapat diakses dengan mudah oleh siapa pun, maka sekecil apa pun bencana akan terdengar beritanya pada saat yang sama pula (real time), tidak seperti dulu.

Intinya, kehidupan manusia di dunia pada kenyataannya memang berangsur-angsur mulai berubah, menjadi konsumtif terhadap segala sesuatu yang bersifat “ramah lingkungan”. Mereka sudah beralih ke sana, dan tak akan kembali seperti semula.

Akibatnya, nilai atau pemasukan investasi, pajak, keuntungan, dan hal lain bagi para konspirator… semuanya naik! Kehidupan dan gaya hidup manusia pun berubah, karena ini memang bisnis multi-miliar dollar. Pada akhirnya, justru mereka, para elit—para konspirator—yang akan dilihat oleh penduduk dunia sebagai pahlawan yang seolah telah menyelamatkan dunia dari kehancuran!


Sumber :
https://www.bibliotika.com/2017/09/Kebohongan-Pemanasan-Global.html

Sunday, June 18, 2023

Survei Capres 2024

6 Survei Terbaru Capres 2024: Prabowo Vs Ganjar Vs Anies

19 June 2023 04:00

Pelbagai lembaga survei terus merilis hasil sigi mereka terkait elektabilitas bakal calon presiden yang diproyeksikan turut serta dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2024. Berikut penjelasannya.


Indonesia Political Opinion (IPO)

Pada Jumat (16/6/2023), IPO merilis hasil survei elektabilitas bakal calon presiden 2024. Survei tersebut dilakukan pada periode 5-13 Juni 2023. Survei dilakukan menggunakan metode multistage random sampling (MRS) atau pengambilan sampel bertingkat dengan margin of error 2,90% dengan tingkat akurasi data 95%. Ada 1.200 orang responden yang tersebar proporsional secara nasional. Untuk menguji validitas responden, IPO melakukan spot check pada 15% dari total sampel.

Simulasi 3 nama:

  • 1. Prabowo Subianto 37,2%
  • 2. Anies Baswedan 31,5%
  • 3. Ganjar Pranowo 26,8%
  • TT/TJ/rahasia 8,2%


Lembaga Survei Nasional

LSN merilis hasil survei tingkat elektabilitas tiga bacapres secara nasional menunjukkan Prabowo unggul dengan elektabilitas sebesar 38,5%, Ganjar 32,8%, dan Anies 21,9%.

Survei tersebut digelar pada 24 Mei hingga 3 Juni 2023 di 34 provinsi. Populasi dari survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang minimal telah berusia 17 tahun atau telah memiliki KTP. Total ada sebanyak 1.420 responden.

LSN mengambil responden melalui teknik pengambilan sampel secara acak sistematis (multistage random sampling). Dengan klaim margin of error +/- 2,6 persen, dan pada tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95%.

  • Prabowo 38,5%, 
  • Ganjar 32,8%, 
  • Anies 21,9%.


Survei Kompas

Merujuk hasil survei Litbang Kompas Mei 2023, elektabilitas Prabowo di kalangan Nahdliyin mencapai 25,8%, naik sekitar 7% dari hasil survei pada Januari 2023. Prabowo meninggalkan Ganjar yang berada di posisi kedua dengan elektabilitas sebesar 24,9%.

Sementara itu, Anies berada di urutan ketiga dengan elektabilitas 12,3%. 

Untuk diketahui, survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka pada 29 April hingga 10 Mei 2023. Sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 38 provinsi di Indonesia.

Tingkat kepercayaan survei 95% dengan margin of error penelitian +-2,83 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.

  • Prabowo 25,8%
  • Ganjar 24,9%.
  • Anies 12,3%.


Indikator Politik Indonesia

Pada Minggu (4/6/2023), Indikator Politik Indonesia merilis survei elektabilitas capres pada Pilpres 2024. 

Survei ini digelar pada 26-30 Mei 2023 terhadap 1.230 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak, validasi, dan screening. Survei dilakukan melalui panggilan telepon oleh pewawancara yang dilatih.

Pemilihan sampel dilakukan dengan metode random digit dialing (RDD), sebuah teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak. Adapun margin of error survei +/- 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Berikut ini elektabilitas simulasi tiga nama capres versi Indikator Politik Indonesia:

  • Prabowo Subianto: 38%
  • Ganjar Pranowo: 34,2%
  • Anies Baswedan: 18,9%


Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)

Pada Senin (5/6/2023), SMRC merilis hasil survei bertajuk "Kualitas Popularitas dan Elektabilitas Bacapres di Pemilih Kritis" pada hari ini. Survei yang dilakukan pada 30-31 Mei 2023 melalui telepon ini dipaparkan oleh Direktur Riset SMRC, Deni Irvani.

  • Ganjar Pranowo 37,9%, 
  • Prabowo Subianto 33,5%, 
  • Anies Baswedan 19,2%. 
  • 9,4% belum menentukan pilihan.

Dalam presentasinya, Deni menjelaskan suara Prabowo dan Ganjar seimbang, selisihnya tidak signifikan secara statistik karena kurang dari dua kali margin of error 3,3% (selisih di bawah 6,6%). Sementara suara Anies berbeda signifikan dengan kedua bacapres lainnya.

Survei terakhir dilakukan pada 30-31 Mei 2023 dengan sampel sebanyak 909 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak. Margin of error survei diperkirakan ±3.3% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih.


LSI Denny JA

Lembaga survei LSI Denny JA memprediksi Prabowo bakal mengalahkan Ganjar di Pilpres 2024 jika Anies tidak ikut menjadi peserta. Survei yang digelar awal bulan Mei 2023 ini mengandaikan Anies gagal mendapat tiket maju Pilpres 2024 karena Mahkamah Agung memenangkan gugatan KSP Moeldoko atas kisruh kepemimpinan Partai Demokrat.

Dari skenario Pilpres tanpa Anies, Denny JA memprediksi kontestasi hanya akan diikuti Prabowo dan Ganjar. Hasilnya, survei Denny JA mencatat Prabowo memiliki elektabilitas sebesar 50,4%, sementara elektabilitas Ganjar sebesar 43,2%. Sebesar 6,4% lainnya menyatakan tidak tahu/tidak Jawab.

Pertanyaan tentang peningkatan elektabilitas Prabowo ketika head to head melawan Ganjar, LSI Denny JA menemukan faktornya, yakni karena migrasi pemilih yang awalnya mendukung Anies.

LSI Denny JA memprediksi pendukung Anies lebih banyak yang berpindah ke Prabowo dibanding migrasi ke Ganjar. Sebesar 50,8% pendukung Anies, berpindah ke Prabowo.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20230619030944-4-446979/6-survei-terbaru-capres-2024-prabowo-vs-ganjar-vs-anies