Monday, October 3, 2022

Jangka Jayabaya

Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat ramalan Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Prapen dari masa Giri Kedaton. Sekalipun banyak keraguan keasliannya, tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yang menuliskan bahwa Jayabaya yang membuat ramalan-ramalan tersebut.
Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.
Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis dalam kitab-kitab mereka yang berjudul Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa, dan Kakawin Gatotkacasraya. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Pandawa dan Korawa yang disebut peperangan Bharatayuddha, sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna ingin menikah dengan Dewi Rukmini dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Prapen (Sunan Giri ke-3) di Giri Kedaton yang kumpulkannya pada tahun 1540 Saka = 1028 Hijriyah = 1618 Masehi, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singasari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak zamannya Sultan Agung dari Mataram yang bertakhta (1613-1645 M).

Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak. Memang dirinya merupakan keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila dia dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang prabu Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu dia menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala zamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada zamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh putranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.

Jangka Jayabaya yang dikenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar" Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.

Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak zaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton". Giri Kedaton ini tampaknya Merupakan zaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai zaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah dia turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dizaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti dia dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).

Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "Jangka Jayabaya" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.

Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai zaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "Republik Indonesia". Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.

Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.


Sumber :
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ramalan_Jayabaya

Tuesday, May 17, 2022

Awalnya Curhat, Akhirnya Selingkuh

Awalnya Curhat, Akhirnya Selingkuh

- Selasa, 17 Mei 2022 | 09:36 WIB

  

Saat kondisi labil, setiap istri bisa cupet pikiran. Termasuk saat cekcok dengan suami. Pindah ke pria lain pun terkadang menjadi solusinya. Selingkuh hingga meninggalkan suami sahnya. Ini seperti yang terjadi pada Lady Sandi. Ia terpikat dengan Betrand saat hubungannya dengan suami tidak harmonis.

Betrand memang kurang ajar. Istri orang malah diajak menikah. Bukannya cari perempuan lain yang tidak punya ikatan resmi dengan laki-laki lain. Pria 35 tahun ini juga playboy. Hobinya tebar pesona. Terutama pada perempuan-perempuan yang kurang kasih sayang atau lagi dirundung persoalan dengan pasangannya.

“Ya puas saja kalau sudah bisa mendapatkannya,” aku Betrand saat menemani Lady mengurus perceraiannya.

Salah satu korban si Betrand itu tak lain adalah Lady. Wanita 29 tahun ini sebenarnya juga sudah punya suami. Namanya John Dori, 33. Istrinya bakal direbut Betrand, John tak tinggal diam. Ia tidak rela, tidak ikhlas dan marah. Tiga perasaan itu campur aduk menjadi satu. Menjadi kalimat pamungkas: tidak mau berpisah.

Sayangnya, Lady tidak memihak John. Ia sudah kena bius Betrand. Entah jopa-japu apa yang disuwukkan Betrand setiap hari ke kuping Lady. Mungkin kalimat standar sekaligus klasik, “Aku cinta kamu, kamu satu-satunya di hatiku. Mari kita menua bersama.”

Perjuangan John untuk mempertahankan mahligai pernikahannya, juga bukan sebulan dua bulan saja. Tapi tahun-tahunan. Mungkin lebih dari 25 kali purnama. Tapi tetap belum ada hasil.

Awal mula Lady itu suka dengan Betrand karena ia sering curhat dengan laki-laki itu. Curhat banyak hal, mulai urusan pekerjaan, bisnis, masa lalu hingga persoalan rumah tangga.

“Saya sudah bilangi jangan sering curhat masalah rumah tangga ke orang lain. Jadinya, malah seperti ini, dia kena pengaruh dan saya diceraikan,” kata John.

John dan Lady menjadi sering kali terlibat cekcok dan membuat istrinya itu tidak betah di rumah. Lady memilih pergi dengan teman-temannya. Maklum saja, Lady masih berjiwa muda. Kalau ada masalah larinya ke tempat ngopi.

Alhasil, Lady kenal dengan Betrand. Ia curhat masalah rumah tangganya. Melihat ada perempuan sedang dirundung masalah, malah semakin membuat Betrand gercep alias gerak cepat. Setelah perkenalan, Betrand sering mengajak Lady pergi berdua. Singkat kata singkat cerita, Lady masuk perangkap Betrand. Perempuan berpenampilan tomboy itu mengaku siap lahir batin meninggalkan John demi Betrand, pujaan hatinya.


Sumber :

https://radarsemarang.jawapos.com/ambyar/721395458/awalnya-curhat-akhirnya-selingkuh

Wednesday, February 9, 2022

9 Negara 'Berdamai' dengan Omicron

Good Bye Masker! 9 Negara Ini 'Berdamai' dengan Omicron

10 February 2022 09:00

Beberapa negara Eropa mulai mencabut pembatasan Covid-19 untuk membendung varian Omicron. Langkah ini dilakukan dengan klaim kasus yang sudah melalui puncak dan angka vaksinasi, termasuk booster, cukup tinggi.

Kebanyakan dari negara-negara ini berada di Eropa. Pelonggaran, termasuk tak memakai masker, bahkan dilakukan sejak akhir Januari lalu.


1. Inggris

Inggris merupakan negara pertama mulai berpikir untuk hidup berdampingan dengan Covid-19 Omicron. Langkah ini diambil Negeri Ratu Elizabeth itu sejak 27 Januari.

"Lonjakan infeksi Omicron sekarang telah mencapai puncaknya secara nasional," kata Perdana Menteri (PM) Boris Johnson kala mengumumkan rencana penghapusan dikutip AP.

Para pejabat mengatakan bahwa hampir 84% orang berusia di atas 12 tahun di Inggris telah mendapatkan dosis vaksin kedua. Dari mereka yang memenuhi syarat, 81% telah menerima suntikan booster.

Infeksi, kata pemerintah, juga sudah melalui masa puncak. Kasus harian Inggris sempat lebih dari 200.000 sehari sebelum turun ke rata-rata 70.000 sehari saat ini.

Johnson telah mendapat kritikan tajam karena caranya menangani Covid-19 di Inggris. Negeri Ratu Elizabeth itu merupakan salah satu negara dengan kematian Covid-19 tertinggi di dunia saat ini, 152 ribu lebin jiwa.

Ia juga terkena skandal pesta lockdown. Saat penguncian Covid-19 Inggris awal corona 2020, ia ketahuan membuat pesta dengan staff di kantornya.


2. Irlandia

Sama seperti tetangganya Inggris, Perdana Menteri Irlandia Michael Martin, mengumumkan bahwa sebagian besar pembatasan pandemi akan dibatalkan sejak Januari. Termasuk waktu tutup lebih awal dan pembatasan lainnya.

Keputusan tersebut termasuk pub, bar, dan restoran dapat beroperasi dengan jam normal dan tidak lagi memerlukan sistem kartu Covid atau jaga jarak sosial. Acara di dalam dan di luar ruangan tidak akan dikenakan batasan kerumunan dan rumah tangga yang berbeda dapat berkumpul tanpa batasan jumlah.

Imunisasi booster diyakini dapat membantu kondisi pasien Covid-19 agar tidak memburuk. "Saya rasa cukup masuk akal untuk berharap kita segera bisa keluar dari aturan-aturan Cocid-19 dibanding proyeksi sebelumnya," kata Menteri Keuangan Irlandia Paschal Donohoe.


3. Belanda

Belanda juga mencabut sejumlah pembatasan Covid-19, Januari. Ini terjadi pasca Inggris mengumumkan hal senada.

Perdana Menteri (PM) Belanda, Mark Rutte, mengatakan telah mengumumkan bahwa bar, restoran, museum, teater, dan tempat budaya lainnya akan diizinkan untuk dibuka kembali dengan syarat. Ini terjadi pasca data rawat inap lebih rendah dari prediksi awal.

"Kami mengambil langkah besar hari ini untuk membuka 'kunci' Belanda," kata Rutte pada konferensi pers di Den Haag kala itu.

Namun ia menegaskan, langkah ini bukan tanpa risiko. Sebelumnya, Belanda dikunci selama empati minggu.


4. Finlandia

Langkah pelonggaran juga diambil Finlandia. Negara ini melakukan pelonggaran pembatasan mulai Februari ini.

"Beban rumah sakit masih tinggi, tetapi bentuk penyakit yang paling serius sedang menurun dan telah ada perubahan yang lebih baik dalam perawatan intensif," kata Menteri Kesehatan Finlandia Hanna Sarkkinen di Twitter kala itu dikutip Euronews.

Namun ia mendorong warga untuk divaksinasi. Pembatasan yang dilonggarkan antara lain restoran, yang akan tetap buka hingga pukul 21:00, dengan batasan hingga 75% kapasitas.


5. Denmark

Denmark mengucapkan selamat tinggal ke masker dan kartu kesehatan Covid-19. Negeri itu menjadi negara Uni Eropa (UE) pertama yang mencabut semua pembatasan pandemi meski masih mengalami rekor kasus corona terutama varian Omicron.

Kewajiban masker dan kartu kesehatan Covid-19 tak berlaku lagi sejak 1 Februari. Bukan cuma itu, pembatasan jam operasional bar dan restoran juga ditiadakan. Klub malam juga sudah dibuka kembali.

Pelonggaran itu dilakukan ketika Denmark mencatat sekitar 40.000-50.000 kasus Covid baru setiap hari atau 1% dari 5,8 juta penduduk negara itu. Hanya beberapa pembatasan yang masih diberlakukan, seperti ke para pelancong yang tidak divaksinasi, yang datang dari negara non-Schengen.


6. Prancis

Di Prancis, pemerintah telah melonggarkan beberapa aturan pembatasan setelah adanya penurunan kasus infeksi Covid-19 awal Februari. Kini mengenakan masker di luar ruangan tidak lagi diwajibkan dan batas kapasitas penonton untuk teater, konser, pertandingan olahraga, dan acara lainnya telah dicabut.

Bekerja dari rumah (work from home) juga tidak lagi menjadi satu keharusan. Namun, pemerintah menekankan WFH tetap sangat disarankan.

Sejak Januari, bukti bukti vaksin diperlukan untuk sejumlah hal, seperti mengakses bar dan restoran hingga transportasi umum jarak jauh. Sebelumnya, izin kesehatan juga dapat diperoleh dengan tes Covid-19 negatif terbaru.

Ke depan, pemerintah juga akan kembali membuka klub malam yang tutup sejak Desember, 16 Februari. Makan dan minum juga akan diizinkan di stadion dan bioskop.


7. Norwegia

Sementara itu, di Norwegia, pemerintahan pimpinan Perdana Menteri Jonas Gahr Stoere mengatakan restoran akan kembali diizinkan untuk menyajikan alkohol di luar jam 11 malam. Bekerja dari rumah (wfh) tidak lagi wajib dan batas 10 pengunjung di rumah pribadi akan dihapus.

Langkah ini dilakukan negara Nordik itu di saat kasus sedang meninggi. Jonas mengatakan meski kasus meningkat, jumlah keterisian rumah sakit cukup sedikit mengingat vaksinasi yang sudah cukup mencakup porsi besar populasi.


8. Italia

Negeri itu mencabut aturan wajib masker di luar ruangan, Selasa (8/2/2022) lalu. Pemerintah mengklaim situasi sudah membaik.

Meski demikian, masker masih akan diperlukan di wilayah ramai dan dalam ruangan. Aturan baru akan berlaku 11 Februari hingga 31 Maret.

Sementara itu, pemerintah juga berjanji akan meningkatkan batas kehadiran penonton di stadion olahraga. Dari 50% kapasitas luar dan 35% kapasitas dalam, menjadi 75% kapasitas luar dan 60% kapasitas dalam.

Tingkat infeksi Covid-19 baru dan rawat inap di Italia memang menurun secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir. Tetapi jumlah kematian tetap tinggi, dengan antara 300 dan 450 kematian hampir setiap hari.


9. Swedia

Pemerintah Swedia mengumumkan "pandemi telah berakhir". Semua pembatasan Covid-19 bahkan sudah dicabut, Rabu (8/2/2022).

Ini dilakukan meski tekanan pada sistem perawatan kesehatan masih tinggi. Bahkan, sejumlah ilmuwan sudah meminta pemerintah bersabar memerangi pandemi.

Mengutip Reuters, pemerintah menyebut ada dua alasan mengapa ini dilakukan pemerintah. Pertama, angka vaksinasi tinggi dan varian Omicron yang diyakini tidak terlalu parah.

"Seperti yang kita ketahui pandemi ini, saya akan mengatakan ini sudah berakhir," kata Menteri Kesehatan Lena Hallengren ke surat kabar setempat Dagens Nyheter.

Ia pun menambahkan bahwa Covid-19 di negeri itu, tidak lagi diklasifikasikan sebagai penyakit berbahaya bagi masyarakat. Sejak awal pandemi, Swedia memang menjadi negara yang kontroversial karena tak melakukan penguncian dan melakukan pendekatan pembatasan sukarela.

Saat ini, bar dan restoran akan diizinkan untuk tetap buka setelah jam 11 malam lagi dan tanpa batasan jumlah tamu. Batas kehadiran untuk tempat-tempat dalam ruangan yang lebih besar juga dicabut, seperti penggunaan tiket masuk vaksin.

Sementara itu, dari data lapangan, rumah sakit Swedia masih merasakan tekanan. Ada sekitar 2.200 orang dengan Covid-19 yang membutuhkan perawatan di rumah sakit per kemarin.

Sebanyak 114 kematian baru juga dilaporkan. Secara total 16.182 orang telah meninggal karena infeksi Covid-19 di negara itu.

"Kita harus memiliki sedikit lebih banyak kesabaran, menunggu setidaknya beberapa minggu lagi. Dan kita cukup kaya untuk terus melakukan pengujian," kritik profesor virologi di Universitas Umea Swedia, Fredrik Elgh ke pemerintah.

"Penyakit ini masih menjadi beban besar bagi masyarakat," tegasnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya memberi peringatan soal ini. Lembaga PBB itu mengatakan banyak negara belum mencapai puncak kasus varian Omicron Covid-19 itu.

Karenanya WHO meminta langkah-langkah pelonggaran harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati. Apalagi faktanya, di banyak negara, masih banyak individu yang belum mendapat vaksin dan menjadi rentan.

"Kami mendesak agar berhati-hati karena banyak negara belum melewati puncak Omicron. Banyak negara memiliki tingkat cakupan vaksinasi yang rendah dengan individu yang sangat rentan dalam populasi mereka," kata Pemimpin Teknis WHO Maria Van Kerkhove dalam briefing online, pekan lalu.

"Jadi sekarang bukan saatnya untuk melonggarkan semuanya sekaligus. Kami selalu mengimbau, selalu sangat berhati-hati, dalam menerapkan intervensi serta mencabut intervensi tersebut secara perlahan, selangkah demi selangkah. Karena virus ini cukup dinamis."

Hal yang sama juga dikatakan Direktur Jenderal WHO Tetras Adhanom Ghenbreyesus. Ia mengaku prihatin dengan narasi yang beredar di beberapa negara belakangan ini.

"Karena vaksin, dan karena penularan Omicron yang tinggi dan tingkat keparahan yang lebih rendah, mencegah penularan tidak mungkin lagi, dan tidak lagi diperlukan," katanya menyinggung sejumlah negara.

"Masih terlalu dini bagi negara mana pun untuk menyerah atau menyatakan kemenangan."

Sementara itu, Kepala kedaruratan WHO Mike Ryan meminta negara-negara memetakan strategi sendiri untuk keluar dari pandemi. Dan, tidak ikut-ikutan negara lain karena situasi yang dihadapi mungkin berbeda.

"Saya pikir ini adalah fase transisi bagi banyak negara, tidak setiap negara dalam situasi yang sama," ujarnya.

"Negara-negara yang membuat keputusan untuk membuka diri secara lebih luas juga perlu memastikan kapasitas untuk memperkenalkan kembali tindakan (pembatasan Covid-19), dengan penerimaan masyarakat, jika diperlukan. Jika kita membuka pintu dengan cepat, sebaiknya kamu juga bersiap bisa menutupnya dengan sangat cepat juga."

Di data Worldometers, Kamis (9/2/2022), ada 403 juta warga bumi terinfeksi Covid-19 dengan 5,7 juta kematian sejak pandemi mewabah di Wuhan, China akhir 2019. Namun ada 323 juta warga dunia berhasil pulih.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20220210081320-4-314245/good-bye-masker-9-negara-ini-berdamai-dengan-omicron/3

Monday, December 27, 2021

Jual Kentut di Toples

Jual Kentut di Toples, Mantan Bintang TV Ini Raup Rp 726 Juta Seminggu 

Kompas.com - 28/12/2021, 10:01 WIB 

Stephanie Matto, mantan bintang reality show 90 Day Fiance di televisi Amerika Serikat, yang menjual kentutnya di dalam toples, mengaku meraup 38.000 pounds (Rp 726 juta) seminggu. Seorang mantan bintang reality show televisi mengaku menghasilkan 38.000 pounds (Rp 726 juta) seminggu dengan menjual kentutnya di dalam toples. 

Stephanie Matto, yang membintangi acara 90 Day Fiance di Amerika Serikat (AS), mengungkapkan bahwa dia memasukkan kentutnya ke dalam toples bersama dengan beberapa kelopak mawar dan catatan pribadi. 

Dia memanfaatkan 279.000 followers-nya sebagai basis pelanggannya untuk menjual kentutnya, yang dibanderol 1.000 dollar AS (Rp 14,22 juta) per toples. 

Dikutip dari Metro pada Selasa (14/12/2021) baru-baru Stephanie Matto memberi diskon 50 persen. Stephanie Matto terkenal berkat penampilannya di program 90 Day Fiance, untuk memastikan peserta menikah dalam jangka waktu 90 hari yang diminta secara hukum. 

Ia mengungkapkan, dirinya mempersiapkan tubuhnya untuk mengeluarkan kentut dengan makan banyak protein, yogurt, telur rebus, dan kacang-kacangan. 

Dia menambahkan, dia suka membaca sambil menunggu waktu kentut lalu memasukkannya ke dalam toples dengan beberapa kelopak bunga guna menambah aroma, tetapi paling kuat hanya bertahan dua hari pertama. 

"Selama bertahun-tahun, aku mendapat beberapa pesan dari pria dan wanita yang ingin membeli bra, celana dalam, rambut, air mandi, dll," katanya kepada Buzzfeed. 

“Kupikir kentut adalah sesuatu yang menarik, tetapi juga sesuatu yang menyenangkan, unik, dan berbeda. Ini hampir seperti barang baru!" Stephanie Matto sejauh ini telah menjual 97 pesanan dan tampaknya begitu dibanjiri permintaan, sehingga dia bersusah payah memenuhi permintaan tersebut.


Sumber :

https://www.kompas.com/global/read/2021/12/28/100100070/jual-kentut-di-toples-mantan-bintang-tv-ini-raup-rp-726-juta-seminggu?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter.

Sunday, December 12, 2021

Orang Kaya RI Bakal Ngerem Simpan Duit

Orang Kaya RI Bakal Ngerem Simpan Duit, Ada Fenomena Apa?

Selama periode pandemi covid-19, simpanan orang kaya Indonesia meningkat drastis. Hal ini tidak terlepas dari situasi pembatasan aktivitas masyarakat dan ketidakpastian terhadap perekonomian.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan tahun depan situasi akan berubah. Orang kaya mulai 'menghambur-hamburkan' uang seperti sedia kala dengan asumsi kasus positif covid terkendali.

"Melihat tren ini kami perkirakan kemungkinan tren dana pihak ketiga (DPK) di atas Rp 5 miliar tidak setinggi tahun ini," kata Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa akhir pekan lalu.

Meski Dana DPK di atas Rp 5 miliar itu tidak hanya dimiliki oleh perorangan namun juga perusahaan, Purbaya menjelaskan asumsi orang kaya baru membelanjakan uangnya karena masih menunggu kondisi ekonomi yang lebih baik.

Pemerintah, Bank Indonesia (BI) maupun berbagai lembaga internasional memperkirakan ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 5%.

Melihat isu makin banyak orang kaya selama masa pandemi ini, Sekretaris LPS Dimas Yuliharto tidak mau berasumsi apakah jumlah orang kaya semakin banyak. Hal ini melihat datanya nilai DPK di atas Rp 5 miliar itu hanya nominalnya saja yang menggemuk, bukan jumlah rekening.

"Dari data jumlah rekening nggak meningkat. Namun semoga memang ini menunjukkan arah yang positif, pertumbuhan ekonomi secara meluas," katanya menjawab pertanyaan wartawan.

Dari data LPS Distribusi Simpanan Bank Umum Berdasarkan Jenis Simpanan per 31 Oktober di atas Rp 5 miliar ada 117.198 rekening dengan nilai Rp 3.718 triliun.

Secara total simpanan masyarakat yang ada di bank umum mencapai Rp 7.301 triliun, dengan porsi tiering nominal di atas Rp 5 miliar mencapai 50%.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20211213085839-4-298725/orang-kaya-ri-bakal-ngerem-simpan-duit-ada-fenomena-apa

Friday, November 12, 2021

Empat Gagasan Teori Konspirasi Iklim

Empat Gagasan Teori Konspirasi Iklim, Fakta Menyebar di COP26 PBB

Kamis, 11 November 2021 12:23 WIB

Teori konspirasi yang mengungkap skeptisisme dan menolak ide soal perubahan iklim menyebar dengan cepat di internet menjelang dan saat berlangsung KTT Perubahan Iklim COP26 PBB di Glasgow, Skotlandia.

Diperkuat dengan bot dan influencer, sejumlah besar konten penolakan perubahan iklim menyebar di media sosial sejak Juni, menurut peneliti di Blackbird.AI.

Platform perusahaan teknologi ini menggunakan algoritme pembelajaran mesin untuk memindai jutaan posting di jejaring sosial utama — termasuk Twitter, Telegram, situs pinggiran, dan lainnya — dan, dibantu analis manusia, mengidentifikasi empat tren penolakan iklim utama yang menargetkan kebijakan perubahan iklim AS dan Eropa, dikutip dari CBS News, Kamis 11 November 2021.

Sebagian besar konten itu menggunakan mekanisme yang juga efektif dalam memperkuat disinformasi COVID-19 dan keraguan terhadap vaksin, menurut CEO Blackbird.AI Wasim Khaled.

"Kami menemukan bahwa tren disinformasi perubahan iklim di jejaring sosial meminjam dari tema yang efektif selama krisis virus corona," katanya kepada CBS MoneyWatch.

"Para aktor tampaknya mengarahkan kemarahan yang sudah membara dalam politik AS terhadap penolakan perubahan iklim. Platform kami menunjukkan ini adalah kampanye terkoordinasi yang tampak seperti serangkaian kampanye independen yang tumpang tindih, terjadi dalam skala besar."


Empat Gagasan

Berikut ini adalah beberapa gagasan "teori konspirasi" tidak berdasar atau meragukan terkait perubahan iklim yang telah beredar secara daring menjelang acara COP26 PBB:

  • 1. Penguncian perubahan iklim akan tiba tidak lama lagi,
  • 2. Sistem uang kripto adalah "netral karbon" dan mengaturnya adalah upaya pengambilalihan yang otoriter,
  • 3. Perubahan iklim dibesar-besarkan — dan bukan disebabkan oleh manusia, dan
  • 4. Perubahan iklim adalah hasil eksperimen rahasia pemerintah.

Sejumlah pemimpin dunia menghadiri KTT yang membahas perubahan iklim, COP26, di Glasgow, Skotlandia, mulai 31 Oktober hingga 12 November.


Apa itu COP26?

Sederhananya, COP26 adalah konferensi terkait iklim terbesar dan terpenting di planet ini sebagaimana dilansir dari situs web PBB. Pada 1992, PBB menyelenggarakan acara besar di Rio de Janeiro, Brasil, yang disebut Earth Summit. Dalam acara tersebut, Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) diadopsi.

Lewat UNFCCC, negara-negara sepakat untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer untuk mencegah gangguan berbahaya dari aktivitas manusia pada sistem iklim. Saat ini, perjanjian tersebut memiliki 197 penandatangan.

Sejak 1994, setiap tahun PBB telah mempertemukan hampir setiap negara di bumi untuk mengikuti KTT iklim global atau COP, yang merupakan singkatan dari Conference of the Parties. Seharusnya, tahun 2021 menjadi COP global ke-27. Namun karena pandemi Covid-19, pelaksanaan COP tertunda setahun. Oleh karenanya, tahun ini digelar COP ke-26 dan disebut sebagai COP26.

Delegasi dan pejabat menghadiri KTT Iklim PBB COP26 di Glasgow, Skotlandia, Minggu 31 Oktober 2021. KTT iklim PBB tersebut secara resmi dibuka pada Minggu untuk menjabarkan visi mereka untuk mengatasi tantangan bersama dari pemanasan global.


Baca juga


Peningkatan kelaparan akut juga terlihat di Ethiopia, Haiti, Somalia, Angola, Kenya, dan Burundi, kata badan yang berbasis di Roma itu. (Foto: AP)

Kelaparan Semakin Menjadi-jadi, PBB: Fakta Ini Memicu Krisis


Warga Singapura tetap bermasyarakat dan jaga prokes. (Foto: Istimewa)

Tolak Vaksin, Warga Singapura Wajib Bayar RS Sendiri


Pentingkah COP26?

Berbagai “perpanjangan” UNFCCC telah dinegosiasikan selama COP untuk menetapkan batas produksi emisi gas rumah kaca untuk masing-masing negara yang mengikat secara hukum. Beberapa “perpanjangan” tersebut seperti Protokol Kyoto pada 1997 yang menetapkan batas emisi untuk negara-negara maju yang harus dicapai pada 2012. Selain itu, ada Perjanjian Paris yang diadopsi pada 2015.


Dalam Perjanjian Paris, negara di dunia sepakat membatasi pemanasan global tidak melebihi 2 derajat Celsius, idealnya 1,5 derajat Celsius, serta meningkatkan pendanaan aksi iklim. Dalam COP26, delegasi juga bertujuan menyelesaikan “Paris Rulebook” atau aturan yang diperlukan untuk mengimplementasikan Perjanjian Paris. Kali ini, mereka perlu menyepakati kerangka waktu umum untuk frekuensi revisi dan pemantauan komitmen iklim mereka. Dan pada COP26 kali ini merupakan kesempatan penting untuk mewujudkan aturan-aturan guna mencapai Perjanjian Paris.


ADVERTISEMENT


KONTEN PROMOSI



Wanita 55-an asal Surabaya dengan Baby Face Pakai Ini sebelum Tidur

Gluwty


Situs Kencan Untuk Hubungan Nyata

Profil Asli Yang Dik


Keluarga asal Surabaya Mendadak Kaya dalam 3 Hari setelah Baca Ini

Money Amulet


Pembunuh prostat ditemukan! Para pria harus membacanya sekarang

Prostaform

Darurat Perubahan Iklim

Perubahan iklim telah berubah menjadi darurat global yang mengancam banyak jiwa dalam tiga dekade terakhir. Meskipun ada komitmen baru yang dibuat oleh negara-negara menjelang COP26, beberapa peneliti memprediksi kenaikan suhu global akan naik 2,7 derajat Celsius pada abad ini. Kenaikan suhu sebesar itu pada akhir abad ini akan menyebabkan kerusakan yang sangat masif di muka bumi dan mengakibatkan banyak bencana alam.


Sekjen PBB Antonio Guterres, dilansir kompas.com, dengan blak-blakan menyebutnya sebagai bencana iklim, yang sudah dirasakan hingga tingkat yang mematikan di bagian paling rentan di dunia. Jutaan orang sudah mengungsi bahkan terbunuh oleh bencana yang diperburuk oleh perubahan iklim.


Bagi Guterres, dan ratusan ilmuwan di Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), ambang batas 1,5 derajat Celsius adalah satu-satunya jalan untuk mencegah kerusakan lebih parah di muka bumi. Jam terus berdetak. Dan untuk membatasi kenaikan, dunia perlu mengurangi separuh emisi gas rumah kaca dalam delapan tahun ke depan. Ini adalah tugas besar yang hanya dapat dilakukan jika para pemimpin yang menghadiri COP26 datang dengan rencana yang ambisius, terikat waktu, dan menghapus batu bara secara bertahap untuk mencapai nol emisi.


Sumber :

https://www.ngopibareng.id/read/empat-gagasan-teori-konspirasi-iklim-fakta-menyebar-di-cop26-pbb

Sunday, August 22, 2021

Studi Terbaru Asal Usul COVID-19

Bocoran Asal Usul COVID-19 dari Studi Terbaru Diungkap, Fix dari Luar China?

Jumat, 20 Agu 2021 08:30 WIB


Asal usul COVID-19 masih menjadi misteri. Studi baru kembali mengungkap fakta asal muasal COVID-19 yang menunjukkan penularan Corona terjadi lebih dulu di luar China.

Menurut laporan tersebut, virus Corona beredar di Italia pada akhir Agustus atau awal September 2019. Beberapa bulan sebelum kasus COVID-19 pertama resmi dilaporkan.

Laporan dimuat dalam studi analisis sampel pasien di Italia Utara, tahun 2019, dengan judul 'Molecular evidence for SARS-CoV-2 in samples collected from patients with morbilliform eruptions since late summer 2019 in Lombardy, Northern Italy'. Ada 16 peneliti melaporkan hasil studi setebal 27 halaman tetapi belum peer reviewed.

Mereka menemukan bukti dari penyelidikan 435 sampel kulit yang dikumpulkan di wilayah Lombardy, Italia terkait campak dan rubella dari 2018 hingga awal tahun. Dari sampel kulit tersebut, para peneliti di Universitas Milan dan Institut Kesehatan di Roma mengungkap infeksi SARS-CoV-2 ditemukan di 13 subjek.

"Di mana kasus positif paling awal adalah pada 12 September 2019," sebut para peneliti, dikutip dari Xinhua News.

Sementara itu, tidak ada bukti infeksi yang jelas ditemukan dalam 281 sampel yang dikumpulkan antara Agustus 2018 dan Juli 2019, menurut laporan tersebut.

"Kami memperkirakan nenek moyang SARS-CoV-2 dari infeksi manusia yang diketahui muncul pada akhir Juni-akhir Agustus 2019," kata para peneliti.

Asal usul Corona masih menjadi perdebatan hingga kini. Tidak sedikit yang menilai COVID-19 'bocor' dari laboratorium Wuhan. Karenanya, WHO meminta investigasi ulang asal usul Corona di lab Wuhan tersebut, untuk menepis tudingan yang beredar.

Namun, China belum menyetujui permintaan investigasi asal usul Corona tersebut. China berdalih, permintaan tersebut tidak ilmiah dan hanya berkaitan dengan kepentingan politik.

"Kami menentang penelusuran politik... dan mengabaikan laporan bersama (yang dikeluarkan setelah kunjungan tim ahli WHO ke Wuhan pada Januari), kata wakil menteri luar negeri Ma Zhaoxu pada wartawan, dikutip dari Channel News Asia.


Sumber:

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5689092/bocoran-asal-usul-covid-19-dari-studi-terbaru-diungkap-fix-dari-luar-china