Saturday, February 2, 2013

Peretas Anonymous Serang Sejumlah Situs Web Pemerintah Indonesia
















Gambar yang digunakan kelompok hacker Anonymous untuk memberi peringatan kepada Pemerintah Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Penangkapan hacker atau peretas situs resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yaitu www.presidensby.info, oleh Tim Cyber Crime Mabes Polri memicu reaksi dari kelompok peretas internasional terkemuka, Anonymous.
Mereka pun menyatakan "perang" terhadap Pemerintah Republik Indonesia dengan menumbangkan situs-situs berdomain ".go.id". Satu per satu situs-situs pemerintah bertumbangan dan dengan target utama kembali melumpuhkan situs Presiden SBY.
Sejak Selasa malam sampai Rabu dini hari, tak kurang dari tujuh domain telah dilumpuhkan dan sebagian di-deface alias diganti tampilan berisi pesan peringatan. Situs-situs yang sudah dilumpuhkan antara lain beberapa sub-domain di situs KPPU, BPS, KBRI Tashkent, Kemenhuk dan HAM, Kemensos, dan Kemenparekraf, bahkan Indonesia.go.id.
"Government of Indonesia, you cannot arrest an idea NO ARMY CAN STOP US #Anonymous #OpFreeWildan #FreeAnon," demikian pernyataan di akun Twitter kelompok peretas tersebut, Selasa (30/1/2013). Kira-kira artinya, "Pemerintah Indonesia, Anda tidak dapat membelenggu sebuah pemikiran. Tidak ada pasukan apa pun yang dapat menghentikan kami."
Wildan disebut sebagai nama peretas situs web resmi Presiden. Sebelumnya, Tim Cyber Crime Mabes Polri menangkap pria berinisial WYA (20), warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan telah diamankan ke Jakarta.
"Memang benar WYA ditangkap oleh tim Mabes Polri," kata Kapolres Jember AKBP Jayadi, Senin lalu, seperti dilansir Antara.
Ia merupakan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang bekerja sebagai operator warung internet (warnet) dan teknisi komputer di salah satu warnet di Jalan Letjen Suprapto, Jember, yang sudah bekerja selama dua tahun.
Presidensby.info yang menjadi salah satu penyampai informasi dan berita tentang kegiatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada masyarakat sempat diretas oleh kelompok yang menamakan dirinya "Jemberhacker Team" pada 9 Januari 2013.
Saat diretas, laman tersebut menampilkan latar belakang hitam dengan tulisan warna hijau di bagian atas "Hacked by MJL007", sementara di bawahnya tertera sebuah logo dan tulisan "Jemberhacker Team" berwarna putih.

Sumber : http://tekno.kompas.com
Editor: Tri Wahono


Wednesday, November 21, 2012

Pembersihan Etnis


Turki Tuduh Israel Lakukan Pembersihan Bangsa di Gaza

Ankara (AFP/ANTARA) - Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa menuduh Israel melakukan pembersihan bangsa di Gaza, dengan menyatakan serangan udara negara Yahudi itu tidak dapat dianggap membela diri.
"Israel melakukan pembersihan bangsa dengan mengabaikan perdamaian di kawasan ini dan melanggar hukum antarbangsa," kata Erdogan, "Ia berusaha menduduki wilayah Palestina selangkah demi selangkah."
Perdana menteri itu menyatakan serangan udara Israel terhadap Gaza tidak bisa dianggap pertahanan diri dan menuduh negara Barat membantu yang disebut negara teroris dengan memaklumi kekerasannya di Timur Tengah.
"Cepat atau lambat, Israel akan menjawab untuk darah tak berdosa, yang ditumpahkannya," katanya.
Pada Senin, Erdogan menyatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa menutup mata pada serangan Israel terhadap rakyat Palestina dan menuduh badan dunia tersebut berstandar ganda terhadap Muslim.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon pada Selasa menyatakan gerakan darat Israel di Gaza akan mengakibatkan pergolakan berbahaya, yang harus dihindari.
Dalam jumpa pers di Kairo sesudah pembicaraan dengan ketua Liga Arab Nabil Elaraby itu, ia juga menyerukan gencatan senjata segera di wilayah kantong Palestina tersebut.
Pada Selasa petang, sekretaris jenderal badan dunia itu dijadwalkan menuju Israel untuk berbicara dengan Perdana Menteri Isarel Benjamin Netanyahu.
Gempuran darat atas Jalur Gaza akan menghilangkan kepercayaan dan dukungan negara lain terhadap Israel, kata Menteri Luar Negeri Inggris William Hague memperingatkan pada Minggu.
Hague kepada televisi Sky News menyatakan, jauh lebih sulit membatasi korban di kalangan rakyat dalam serangan darat dan itu mengancam memperpanjang kemelut.
Pernyataan itu muncul sesudah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan angkatan bersenjata siap "memperluas secara berarti" gerakan terhadap pejuang di Jalur Gaza, yang dikelola Hamas, saat kekerasan memasuki hari kelima.
Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius pada Minggu menyatakan gencatan senjata antara Israel dengan pejuang Gaza adalah kebutuhan mendesak dan Perancis bersedia membantu menengahi gencatan senjata.
"Perang bukan pilihan. Itu tidak pernah menjadi pilihan," katanya kepada wartawan di Tel Aviv, "Ada dua kata kunci: kemendesakan dan gencatan senjata." (ar)

http://id.berita.yahoo.com/turki-tuduh-israel-lakukan-pembersihan-bangsa-di-gaza-133818039.html

Wednesday, November 14, 2012

Misi "Gila" Baumgartner Terjun dari Stratosfer Sukses



BBCFelix Baumgartner
NEW MEXICO, KOMPAS.com — Felix Baumgartner,skydiver asal Austria, berhasil melaksanakan misinya memecahkan rekor skydiving dunia. Berdasarkan laporan AP, Senin (15/10/2012) dini hari WIB, pria tersebut telah mendarat.

Baumgartner terjun dengan balon udara. Penerjunannya akhirnya berhasil dilakukan setelah dua kali penundaan pada Senin (8/10/2012) dan Selasa (9/10/2012). Penundaan sebelumnya terpaksa dilakukan karena faktor angin yang akan mengganggu penerjunan.

Sekitar tiga jam sebelum artikel ini diturunkan, BBC melaporkan bahwa balon udara Baumgartner mulai naik ke atmosfer meninggalkan tempat peluncuran di Roswell, New Mexico, Amerika Serikat. Balon udara akan menuju ketinggian 38,6 km dari permukaan air laut.

Penerjunan Baumgartner hingga kembali mencapai permukaan Bumi ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit. Setengah dari perjalanan itu ditempuh dengan gerak jatuh bebas berkecepatan 1.110 km/jam alias menembus kecepatan suara. Setelahnya, parasut akan dibuka.

Dengan penerjunan ini, Baumgartner memecahkan tiga rekor sekaligus. Pertama adalah menjadi manusia pertama yang bergerak hingga menembus kecepatan suara tanpa bantuan alat apa pun. Otomatis, ia juga menjadi penerjun dengan kecepatan tertinggi.

Rekor lain, Baumgartner juga menjadi penerjun dengan titik penerjunan tertinggi. Rekor titik terjun tertinggi dipegang oleh Joe Kittinger dari US Air Force yang terjun dari ketinggian 31,3 km dari permukaan laut.

Sejumlah tantangan dihadapi Baumgartner. Ia mempertaruhkan nyawanya. Tekanan pada ketinggian penerjunan kurang dari 2 persen dari tekanan di muka air laut. Suhu juga sangat rendah. Jika pakaian khusus rusak, ia bisa terkena gejala ebullism alias darah mendidih.

Belum lagi soal teknik melompat. Jika melompat dengan posisi yang salah, ia akan bergerak dengan berputar-putar. Gerak putaran dengan kecepatan tinggi berpotensi merusak sistem kardiovaskuler, otak, dan mata.

Laporan terakhir AP beberapa menit yang lalu menyatakan bahwa penerjunan telah berhasil. Baumgartner berhasil mendarat di sebuah gurun di wilayah timur New Mexico setelah memulai perjalanan dari ketinggian yang sudah masuk lapisan stratosfer.

AP melaporkan, sesaat setelah pendaratan, Baumgartner mengangkat lengan sebagai tanda kemenangan. Misi pemecahan rekor berhasil dilakukan dengan sempurna. Baumgartner kembali dengan selamat.

http://sains.kompas.com/read/2012/10/15/02250561/Misi.Gila.Baumgartner.Terjun.dari.Stratosfer.Sukses

2028: Akhir Dunia?

"Tidak ada yang radikal tentang hal yang kita bicarakan," tutur jurnalis dan aktivis perubahan iklim Bill McKibben di hadapan 1.000 orang di University of California Los Angeles kemarin malam. "Orang yang radikal bekerja untuk perusahaan minyak."

Pernyataan seperti itu mungkin terdengar berlebihan bagi kebanyakan orang Amerika. Namun, siapa pun yang mengikuti penuh kuliah McKibben akan tahu dia tidak berlebihan.

McKibben berada di Los Angeles sebagai bagian dari tur nasionalnya, "Do the Math". Berdasarkan artikel terbarunya di Rolling Stone, ("Dengan Justin Bieber sebagai model sampulnya," canda McKibben) acara itu pada dasarnya adalah sebuah rangkaian kuliah yang didasarkan pada premis tunggal: perubahan iklim adalah matematika sederhana — dan hasil perhitungan tidak terlihat baik. Jika para pemimpin dunia tidak segera mengambil tindakan: "Planet ini akan hancur."

Matematika iklim, McKibben menjelaskan, bekerja seperti ini. Pemimpin dunia baru-baru ini mencapai suatu perjanjian internasional yang didasarkan pada pemahaman ilmiah bahwa kenaikan suhu global 2 derajat Celsius akan menimbulkan bencana bagi masa depan umat manusia.

Untuk mencapai temperatur global yang mengkhawatirkan itu, bumi melepaskan 565 gigaton karbon dioksida ke atmosfer. Inilah masalahnya: perusahaan bahan bakar fosil saat ini memiliki 2.795 gigaton karbon dioksida dalam cadangan bahan bakar mereka — dan bisnis mereka tergantung pada bahan bakar yang dipasarkan dan digunakan. Pada tingkat konsumsi saat ini, dunia akan melewati ambang batas 565 gigaton dalam waktu 16 tahun.

Untuk mencegah kiamat, industri yang paling menguntungkan dalam sejarah umat manusia justru perlu ditutup.

"Malam ini," kata McKibben, "kita akan mencecar industri bahan bakar fosil."

Bukan hal yang mudah. Industri minyak memberikan keuntungan tahunan sebesar $137 miliar (sekitar Rp1,3 kuadriliun) dan kekuasaan politik. McKibben mencatat, "perusahaan minyak patuh hukum karena mereka bisa mendikte hukum."

Namun, ada beberapa angka yang menguntungkan McKibben. Jajak pendapat terbaru menunjukkan 74 persen orang Amerika sekarang percaya pada perubahan iklim, dan 68 persen menganggap itu sebagai sesuatu yang berbahaya. Masalah yang dihadapi aktivis lingkungan adalah bagaimana menerjemahkan angka-angka itu menjadi tindakan nyata.

Munculah  "Do the Math."

Menggunakan popularitas McKibben sebagai seorang penulis, kegiatan kuliah diubah menjadi mesin politik. Sebelum mengadakan kuliah umum, Do the Math dengan cerdas bekerja sama dengan kelompok-kelompok lingkungan setempat. Sebelum perkuliahan McKibben dimulai, kelompok-kelompok ini diperbolehkan naik ke atas panggung dan berbicara tentang isu-isu setempat yang perlu diperjuangkan. 

Informasi kontak dikumpulkan untuk menjaga penonton selalu mengetahui upaya terbaru tentang isu-isu tersebut. Para penonton ternyata tidak hanya menjadi pendengar kuliah McKibben, mereka tiba-tiba menjadi bagian dari gerakan lokal lingkungan mereka.

Ini adalah strategi cerdas, dan penting — karena masalah perubahan iklim hampir secara eksklusif bersifat politis. Antara energi yang dapat diperbaharui dan teknik yang lebih efisien, teknologi sudah ada untuk mencegah bencana pemanasan global. 

Meskipun penerapannya di Amerika Serikat masih tertinggal, teknologi itu sedang digunakan dalam skala massal di negara-negara lain. Di Cina dengan populasi miliaran dan kesenjangan kekayaan yang luar biasa, 25 persen negara itu masih menggunakan panel surya untuk memanaskan air. Jerman — negara dengan perekonomian kuat di Eropa — selama hampir satu dekade, berhasil mendapatkan setengah energi dari sumber yang berkelanjutan.

Hal yang sama bisa terjadi di Amerika asalkan negara itu memiliki kemauan untuk mewujudkannya. Menurut McKibben, kunci untuk mewujudkan tujuan itu adalah dengan memerangi industri bahan bakar fosil dari akarnya.

Untuk memulainya, dia menyerukan pembebasan global dari perusahaan bahan bakar fosil. "Kami meminta orang-orang yang percaya pada masalah perubahan iklim untuk menghentikan mencari nafkah dari itu. Sama seperti dengan gerakan pembebasan apartheid di Afrika Selatan, kita harus mengeliminasi perusahaan minyak yang dianggap terhormat. "

Melanjutkan aksi protes terhadap proyek-proyek energi yang tidak berkelanjutan juga akan sangat penting. McKibben akan berada di Washington, D.C. pada 18 November untuk memimpin unjuk rasa menentang perubahan iklim dan Keystone Pipeline. "Kita tidak bisa lagi hanya berasumsi bahwa Presiden Obama akan melakukan segala yang dijanjikannya selama kampanye. Kita perlu mendorongnya. "

"Saya tidak tahu apakah kita akan menang. Namun, saya tahu kita akan berjuang.”

http://id.berita.yahoo.com/2028-akhir-dunia.html

Saturday, December 3, 2011

Galapagos Versus Krakatau

KOMPAS.com - Saat ditanya tentang pulau yang paling menarik di Bumi, kebanyakan ahli biologi evolusi klasik akan menjawab Galapagos. Pulau gunung api yang mengapung di Samudra Pasifik, sekitar 972 kilometer dari Ekuador, ini merupakan ibu bagi teori evolusi Charles Darwin. Terasing di lautan, Galapagos telah dikolonisasi oleh spesies dari daratan sejak jutaan tahun lampau, menciptakan berbagai jenis spesies yang khas.
Charles Darwin (1809-1882) menjadi geolog pertama yang mengunjungi Galapagos tahun 1835. Saat itu, dia menemani Kapten Robert Fitzroy menumpang kapal Beagle untuk menyurvei daerah pesisir Amerika selatan (1831-1836). Saat itulah, Darwin mulai dikenal dengan tulisan-tulisan geologisnya sebelum akhirnya dikenal sebagai Bapak Evolusi.
Darwin tidak hanya terpesona oleh fenomena geologis di Kepulauan Galapagos, dia juga terkesima oleh biota unik dan luar biasa yang dia temukan di sana. Pertemuan dari tiga arus, aktivitas inti bumi, dan keterisolasian membentuk perkembangan kehidupan hewan tidak biasa seperti penyu raksasa, iguana, dan berbagai jenis kutilang yang menginspirasi Darwin membangun teori seleksi alam dan berikutnya teori evolusi manusia yang mengguncang dunia. Keragaman hayati Galapagos dianggap sebagai museum hidup dan percontohan evolusi sehingga UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia yang dilindungi.
Namun, di balik keistimewaan spesies di Galapagos, ada lubang yang tak terjawab tentang bagaimana proses kolonisasi terjadi di sana. Kalau suksesi dan evolusi di Galapagos tidak ada catatan kapan mulainya, Krakatau justru sebaliknya. Krakatau menjadi lokasi yang telah dikunjungi ahli-ahli biologi setelah letusan hebat menghancurkan kepulauan ini pada 1883.
Banyak peneliti beranggapan pulau itu steril pascaletusan dan tahap demi tahap kedatangan kehidupan di pulau itu pun dicatat lewat berbagai kunjungan peneliti, khususnya Belanda. "Tahapan kehidupan di Krakatau terdata paling lengkap. Teori-teori suksesi primer di kawasan tropis lahir dari kegiatan penelitian di kompleks Krakatau, begitu juga pengetahuan tentang pembentukan hutan tropis yang kompleks," ujar ahli botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Profesor Tukirin Partomihardjo, yang aktif meneliti vegetasi di Krakatau selama 30 tahun.
Krakatau menyediakan peluang langka bagi peneliti yang ingin mendeteksi evolusi di pulau dalam kurun waktu lebih pendek dan skala ruang terbatas. Bahkan, kemunculan Gunung Anak Krakatau di atas permukaan laut tahun 1929 sekali lagi memberikan kesempatan kepada peneliti mengamati suksesi primer dan dampak dari letusan kepada kehidupan di sekitarnya.
Ahli botani dari Jerman, Alfred Ernst, dalam bukunya, The New Flora of The Volcanic Island of Krakatau (1908) menganalisis bagaimana kehidupan kembali hadir di Krakatau. Ia mendapati ekosistem Krakatau pada tahap lebih primitif daripada yang dilihat Charles Darwin di Kepulauan Galapagos. Krakatau mendemonstrasikan kekuatan alam kembali membangun ekologi yang kompleks dari tabula rasa.(Tim Penulis:Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono)

Peta Terakhir Jelang Letusan Dahsyat Krakatau

KOMPAS.com - Setelah 200 tahun tertidur, pada 19 Mei 1883, Batavia (Jakarta) dikejutkan dengan dentuman keras, melebihi bunyi meriam terkeras. Kaca-kaca jendela bergetar hebat bahkan jam dinding berhenti berdetak karena sapuan gelombang kejut. Abu dan batu apung berjatuhan di Selat Sunda, menggiring orang untuk melongok ke puncak Perbuatan, salah satu puncak di pulau gunung api Krakatau, yang tiba-tiba meletus.

Namun, setelah kegaduhan itu, Krakatau kembali tenang. Pulau dengan tiga kawah itu tidur tenang, dikitari laut biru yang dalam. Setelah hari keempat berlalu dengan damai, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Frederik s'Jacob menyimpulkan saat yang bagus untuk melihat Krakatau dari dekat, melihat apa yang terjadi, dan yang lebih penting lagi: untuk menyimpulkan apakah kejadian serupa bisa terulang kembali. Dia mengutus insinyur pertambangan, AL Schuurman, pergi ke sana.

Berbeda dengan kekhawatiran s'Jacob, perusahaan pelayaran The Netherlands Indies Steamship Company melihat Krakatau sebagai potensi besar untuk mendatangkan turis sehingga dengan sigap menyodorkan kapal wisata, Gouverneur-Generaal Loudon. "Pada Sabtu, 26 Mei, perwakilan perusahaan menempelkan pengumuman di klub Harmonie dan Concordia, mengiklankan 'wisata menyenangkan' dan mengumumkan harga yang kompetitif sebesar hanya 25 guilder," tulis Winchester.

Pada Minggu sore, kapal uap berbobot mati 1.239 ton itu terisi penuh dengan 86 penumpang dan Schuurman berada di antara mereka sebagai wakil dari pemerintah. Setelah berlayar semalaman, kapten Loudon, TH Lindeman, membuang sauh jauh dari pulau itu. Dia meminjamkan perahu kepada Schuurman. Ditemani beberapa orang yang berani dan penuh rasa ingin tahu, Schuurman mendekati pulau dengan susah payah.

"Dengan mengikuti jejak orang yang paling berani atau mungkin yang paling tolol, kami mendaki lebih jauh tanpa halangan apa pun selain abu yang ambles di bawah kaki kami. Jalannya berada di atas bukit dari mana kami bisa melihat beberapa pokok pohon yang patah mencuat dari lapisan abu, beberapa tonggak menunjukkan bahwa cabang-cabangnya direnggut dengan paksa," tulis Schuurman.

Kelompok kecil ini terus merangsek naik dengan nekad hingga mendekati dasar kawah, yang menurut Schuurman tertutup oleh "kerak buram berkilat-kilat," yang kadang-kadang membara merah dan mengeluarkan ”gulungan asap dalam gelembung-gelembung raksasa yang banyak tetapi rapat”. Schuurman akhirnya kembali ke Loudon setelah Lindeman berkali-kali membunyikan klakson.

Dua bulan kemudian Krakatau berangsur dilupakan. Hingga pada 11 Agustus, kapten angkatan darat Belanda, HJG Ferzenaar, diperintahkan menyurvei Krakatau untuk kepentingan topografi militer. Dia melewatkan dua hari di sana dan mencatat ada 14 lubang semburan di atas pulau itu. Ia membuat peta pulau itu secara detial, termasuk titik-titik berwarna merah yang menjadi pusat semburan.

Dia memberi catatan bahwa survei yang lebih rinci "harus menunggu sampai nanti, sebab pengukuran di sana masih sangat berbahaya; setidaknya, saya tidak akan suka menerima tanggung jawab mengirimkan seorang surveyor."

Namun, Krakatau tidak pernah bisa dipetakan lagi. Pada 27 Agustus 1883, pulau ini meledak dan hancur berkeping-keping. Peta Pulau Krakatau yang dibuat Ferzenaar adalah yang terakhir yang pernah dibuat.

Ledakan berkekuatan 21.574 kali bom atom (De Neve, 1984) itu tak hanya menghancurkan tubuh Pulau Krakatau. Kehancuran juga melanda pesisir Banten dan Lampung. Gelombang awan panas dan tsunami melanda, menghancurkan desa-desa di pesisir Banten dan Lampung, serta menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.

Kengerian itu digambarkan oleh Muhammad Saleh dalam Syair Lampung Karam, satu-satunya laporan pandangan mata yang dibuat pribumi tentang letusan Krakatau. Muhammad Saleh lewat bait syairnya menggambarkan di atas langit terlihat seperti bunga api beterbangan seperti bahala yang diturunkan Tuhan dan membuat hati takut bukan kepalang. Kegelapan menyelimuti, guncangan gempa tiada henti, dan datang gelombang menghanyutkan. "Besar gelombang tidak terperi, lalulah masuk ke dalam negeri, berlarian orang ke sana kemari...," tulis Muhammad Saleh.

Petaka Krakatau itu menambah derita rakyat yang beratus tahun disengsarakan ekonomi kolonial dan priyayi pribumi yang mengisap. "Tak disangsikan lagi bahwa wabah penyakit ternak dan wabah demam, serta kelaparan yang diakibatkannya, dan letusan Gunung Krakatau yang menyusul, telah menjadi pukulan hebat bagi penduduk," tulis Sartono Kartodirdjo, dalam buku Pemberontakan Petani di Banten 1888.

Menurut sejarawan terkemuka ini, "... letusan Gunung Krakatau menyebabkan luas tanah yang tidak dapat digarap menjadi lebih besar lagi, terutama di bagian barat afdeling Caringin dan Anyer." Kondisi kesengsaraan yang kemudian bertemu dengan gerakan sosial-keagamaan ini menjadi pemantik kesadaran rakyat untuk melawan Belanda, yang dianggap sebagai pendosa dan biang dari segala kesengsaraan itu.

Dua bulan setelah letusan Krakatau, kerusuhan pecah di Serang. Seorang serdadu Belanda ditikam, pelakunya kabur di tengah keramaian. Kejadian berulang sebulan kemudian. Serentetan perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan hingga pada Juli 1888 muncullah pemberontakan petani Banten.(Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono)

Thursday, December 1, 2011

Kenali Langkah Kecil Cegah Perubahan Iklim

JAKARTA, KOMPAS.com - Green Festival dibuka di Jakarta, Kamis (1/12/2011) di Bentara Budaya Jakarta. Pameran yang terselenggara keempat kalinya ini telah diadakan di Bandung 24-26 November, berlangsung di Jakarta hingga 4 Desember 2011 dan akan digelar di Surabaya 9-11 Desember 2011.

Datang ke Green Festival, pengunjung bisa merefleksikan masalah perubahan iklim serta mendapatkaninsight cara menyikapinya dari skala kecil. Di Green Festival, terdapat zona yang merepresentasikan persoalan pemicu perubahan iklim, yakni air, pohon, energi, sampah, dan transportasi.

Merefleksikan masalah perubahan iklim, di Zona Iklim, pengunjung bisa melihat patung es pinguin bersebelahan dengan beruang kutub. Patung yang perlahan mencair ini merefleksikan konsekuensi pemanasan global dan perubahan iklim bagi lingkungan kutub.

Di Zona Transportasi, pengunjung bisa menyadari bahwa pemakaian kendaraan bermotor bisa berdampak buruk bagi Bumi. Sepeda dipamerkan sebagai alternatif. Di Green Festival, ada pula stand Komunitas Bike to Work yang mengajak menggunakan sepeda dalam aktivitas sehari-hari.

Di Zona Air, ditunjukkan pesan lewat kartun bahwa konsumsi air yang berlebihan juga berdampak buruk bagi lingkungan. Pengunjung diajak mengkonsumsi air secara efisien. Sementara di Zona Sampah, pengunjung diajak mengurangi penggunaan sampah plastik.

Ada beberapa stand yang bisa dikunjungi di Green Festival. salah satunya adalah stand Komunitas Halaman organik yang mengajak memanfaatkan halaman yang terbatas untuk menanam tumbuhan bermanfaat. Tujuannya, mencapai kesehatan raga, jiwa, dan lingkungan.

Green Festival kali ini mengambil tema "Gaya Hidupku untuk Bumi". Nugroho F Yudho, Ketua Pelaksana Green Festival 2011 mengatakan, "Kampanye ini sekaligus mengajak masyarakat menjadikan kegiatan mengurangi efek pemanasan global sebagai gaya hidupnya sehari-hari."

Green Festival terselenggara berkat kerjasama beberapa korporat, diantaranya PT Pertamina PERSERO, Sinarmas APP, PT Tirta Investama (Danone AQUA), Tupperware, Kompas, Metro TC dan jaringan data FeMale Indonesia.