Wednesday, July 8, 2015
Dinasti Rothschild
Keluarga Rothschild sudah mengendalikan dunia untuk waktu yang sangat lama, jangkauan mereka sudah mencapai banyak aspek dari kehidupan sehari-hari kita.
Rothschild mengklaim mereka adalah orang Yahudi, namun kenyataannya mereka adalah orang Khazar. Mereka datang dari sebuah negara yang disebut Khazaria, yang terletak di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia yang sekarang dimiliki oleh Georgia.
Alasan mengapa keturunan Khazar mengklaim mereka sebagai orang Yahudi adalah karena pada tahun 740 Masehi, atas perintah dari raja mereka (King Bulan), rakyat Khazaria harus memeluk kepercayaan Yahudi, tetapi tentu saja itu tidak mengubah gen mereka dari Mongolia Asia (Turki) menjadi orang Yahudi.
Saat ini, 90% orang Yahudi di dunia adalah keturunan dari Khazar, atau yang lebih sering disebut sebagai Yahudi Ashkenazi. Orang-orang ini berbohong kepada seluruh dunia bahwa tanah Israel adalah tanah leluhur mereka, padahal kampung halaman sebenarnya dari nenek moyang mereka ada di Georgia yang terletak 800 mile dari Israel.
Jadi, lain kali kalau Anda mendengar Perdana Menteri Israel berpidato tentang penyiksaan terhadap Yahudi, ingatlah ini, setiap Perdana Menteri dari Israel sampai sekarang adalah Yahudi Ashkenazi.
Jadi ketika mereka mengatakan bahwa adalah hak mereka untuk mendirikan negara Israel di tanah leluhur mereka, mereka secara sengaja sedang berbohong padamu, karena mereka sebenarnya tidak berasal dari sana, dan mereka sendiri mengetahuinya, sebab mereka sendirilah yang menyebut mereka sebagai Yahudi Ashkenazi.
Darah keturunan paling kaya dan pemimpin dari Yahudi Ashkenazi di dunia saat ini adalah keluarga Rothschild. Seperti yang akan Anda pelajari di bab ini, Rothschild mendapatkan semuanya ini berkat kebohongan, manipulasi, dan pembunuhan.
Darah keturunan mereka sudah menyebar ke keluarga kerajaan di Eropa, dan nama-nama keluarga berikut: Astor, Bundy, Collins, duPont, Freeman, Kennedy, Morgan, Oppenheimer, Rockefeller, Sassoon, Schiff, Taft, dan Van Duyn.
Sumber :
https://thetruth4world.wordpress.com/2010/11/29/sejarah-dinasti-rothschild/
Penguasa Uang Dunia
ROTHSCHILD : Setan Penguasa Uang Dunia
“Give me control of a nation’s money and I care not who makes her laws”
Meyer Amschel Rothschild (1790). Inilah pernyataan berani dari pendiri keluarga Rothschild (House of Rothschild). Berikan aku kendali atas uang suatu negara dan aku tidak peduli siapa pembuat hukum negara tersebut, begitu kira-kira artian dari kata-kata Rothschild tersebut.
Nama Rothschild adalah yang bertanggung jawab atas sebagian besar atau bisa dikatakan seluruh perang dan makar politik di Eropa dan Amerika, dan akhirnya berdampak pula pada seluruh dunia.
Di masa kini, keturunan dari Rothschild mengadakan rapat dua kali dalam sehari di London untuk mendikte akan seperti apa harga emas di dunia. Mereka juga mendikte apa yang akan dilakukan oleh “Federal Reserve System” terhadap keuangan Amerika Serikat.
Keluarga Rothschild memegang peranan yang sangat besar di kelompok Illuminati Bavaria. Rothschild dan Rockefeller adalah 2 dari 13 keluarga yang mengontrol kelompok Illuminati. Abad 19 sering disebut sebagai abad Rothschild yang diperkirakan mereka menguasai setengah kekayaan dunia. Intelijen dari Amerika dan Inggris mendokumentasikan bukti bahwa House of Rothschild selalu mendanai kedua belah pihak yang berperang sejak Revolusi Amerika.
It is not to be doubted, I know with absolute certainty, that the separation of the United States into two federations of equal powers had been decided upon well in advance of the Civil War by the top financial power of Europe. — OTTO VON BISMARCK, Chancellor, Germany.
Perang Saudara (Civil War) yang terjadi di Amerika Serikat antara bagian utara dan selatan direncanakan dan dibiayai oleh Rothschild (baca tulisan saya sebelumnya “Perang Adalah Alat Pencetak Uang”).
Mendanai pihak selatan melalui Paris Bank miliknya yang diwakili oleh seorang Yahudi bernama Sen John Slidell, sedangkan pihak utara dibiayai oleh Rothschild melalui British Bank miliknya yang diwakili oleh seorang Yahudi bernama August Belmont.
Rencana jahat Rothschild adalah memberi pinjaman kepada kedua pihak untuk mendanai perang, namun akan menjebak kedua belah pihak dengan bunga (riba) atas pinjaman tersebut. Perang besar yang terjadi menghasilkan hutang yang luar biasa besar bagi kedua pihak. Dengan hutang inilah keluarga Rothschild memaksa kedua belah pihak agar menerima Sistem Perbankan Terpusat milik Rothschild dan tujuan akhirnya adalah memiliki hak mencetak uang negara Amerika Serikat.
Keluarga Rothschild juga mendanai Revolusi Rusia yang mana mengambil alih kekayaan gereja ortodoks yang sangat besar. Rothschild berhasil mencegah keturunan sah Tsar Rusia menarik kekayaan dan uang mereka yang disimpan di bank-bank milik Rothschild. Pihak Mounbattan yang didukung oleh dana Rothschild menimbulkan pemberontakan dan peperangan untuk mencegah penarikan kekayaan Tsar Rusia dari bank milik Rothschild.
Uang yang diinvestasikan dalam Revolusi Rusia tidak hanya terbayar langsung dari kaum bolshevis dalam jumlah jutaan dolar emas, tapi juga Rothschild berhasil merampok kekayaan Tsar Rusia dalam jumlah masif yang tidak lagi dapat diambil dari bank-bank miliknya karena keruntuhan kekuasaan Tsar Rusia. Jumlahnya diperkirakan setara dengan 50 miliar dolar saat ini.
Inilah beberapa cara licik dan keji yang dilancarkan oleh Rothschild untuk meraup kekayaan sebesar-besarnya. Sungguh layaknya setan yang menguasai uang dunia.
Bagaimana dengan pendirian negara terlarang Israel? Rothschild lah yang berada di belakang pembentukan negara ini. Rothschild merupakan penggerak utama pembentukan negara Israel. Kekuasaan Rothschild atas negara Israel sangat luas, bahkan di Israel terdapat jalan utama dengan nama Rothschild untuk menghormati perintis negara ini.
Bahkan International Bank of Israel pertama terletak di Rothschild Boulevard 39, Bank Hapoalim (bank Israel yang paling cepat berkembang) terletak juga di Rothschild Boulevard 50.
Sumber :
https://thetruth4world.wordpress.com/2009/01/28/rothschild-setan-penguasa-uang-dunia/
“Give me control of a nation’s money and I care not who makes her laws”
Meyer Amschel Rothschild (1790). Inilah pernyataan berani dari pendiri keluarga Rothschild (House of Rothschild). Berikan aku kendali atas uang suatu negara dan aku tidak peduli siapa pembuat hukum negara tersebut, begitu kira-kira artian dari kata-kata Rothschild tersebut.
Nama Rothschild adalah yang bertanggung jawab atas sebagian besar atau bisa dikatakan seluruh perang dan makar politik di Eropa dan Amerika, dan akhirnya berdampak pula pada seluruh dunia.
Di masa kini, keturunan dari Rothschild mengadakan rapat dua kali dalam sehari di London untuk mendikte akan seperti apa harga emas di dunia. Mereka juga mendikte apa yang akan dilakukan oleh “Federal Reserve System” terhadap keuangan Amerika Serikat.
Keluarga Rothschild memegang peranan yang sangat besar di kelompok Illuminati Bavaria. Rothschild dan Rockefeller adalah 2 dari 13 keluarga yang mengontrol kelompok Illuminati. Abad 19 sering disebut sebagai abad Rothschild yang diperkirakan mereka menguasai setengah kekayaan dunia. Intelijen dari Amerika dan Inggris mendokumentasikan bukti bahwa House of Rothschild selalu mendanai kedua belah pihak yang berperang sejak Revolusi Amerika.
It is not to be doubted, I know with absolute certainty, that the separation of the United States into two federations of equal powers had been decided upon well in advance of the Civil War by the top financial power of Europe. — OTTO VON BISMARCK, Chancellor, Germany.
Perang Saudara (Civil War) yang terjadi di Amerika Serikat antara bagian utara dan selatan direncanakan dan dibiayai oleh Rothschild (baca tulisan saya sebelumnya “Perang Adalah Alat Pencetak Uang”).
Mendanai pihak selatan melalui Paris Bank miliknya yang diwakili oleh seorang Yahudi bernama Sen John Slidell, sedangkan pihak utara dibiayai oleh Rothschild melalui British Bank miliknya yang diwakili oleh seorang Yahudi bernama August Belmont.
Rencana jahat Rothschild adalah memberi pinjaman kepada kedua pihak untuk mendanai perang, namun akan menjebak kedua belah pihak dengan bunga (riba) atas pinjaman tersebut. Perang besar yang terjadi menghasilkan hutang yang luar biasa besar bagi kedua pihak. Dengan hutang inilah keluarga Rothschild memaksa kedua belah pihak agar menerima Sistem Perbankan Terpusat milik Rothschild dan tujuan akhirnya adalah memiliki hak mencetak uang negara Amerika Serikat.
Keluarga Rothschild juga mendanai Revolusi Rusia yang mana mengambil alih kekayaan gereja ortodoks yang sangat besar. Rothschild berhasil mencegah keturunan sah Tsar Rusia menarik kekayaan dan uang mereka yang disimpan di bank-bank milik Rothschild. Pihak Mounbattan yang didukung oleh dana Rothschild menimbulkan pemberontakan dan peperangan untuk mencegah penarikan kekayaan Tsar Rusia dari bank milik Rothschild.
Uang yang diinvestasikan dalam Revolusi Rusia tidak hanya terbayar langsung dari kaum bolshevis dalam jumlah jutaan dolar emas, tapi juga Rothschild berhasil merampok kekayaan Tsar Rusia dalam jumlah masif yang tidak lagi dapat diambil dari bank-bank miliknya karena keruntuhan kekuasaan Tsar Rusia. Jumlahnya diperkirakan setara dengan 50 miliar dolar saat ini.
Inilah beberapa cara licik dan keji yang dilancarkan oleh Rothschild untuk meraup kekayaan sebesar-besarnya. Sungguh layaknya setan yang menguasai uang dunia.
Bagaimana dengan pendirian negara terlarang Israel? Rothschild lah yang berada di belakang pembentukan negara ini. Rothschild merupakan penggerak utama pembentukan negara Israel. Kekuasaan Rothschild atas negara Israel sangat luas, bahkan di Israel terdapat jalan utama dengan nama Rothschild untuk menghormati perintis negara ini.
Bahkan International Bank of Israel pertama terletak di Rothschild Boulevard 39, Bank Hapoalim (bank Israel yang paling cepat berkembang) terletak juga di Rothschild Boulevard 50.
Sumber :
https://thetruth4world.wordpress.com/2009/01/28/rothschild-setan-penguasa-uang-dunia/
Keluarga Rothschild
Keluarga Rothschild (/iconˈrɒθs.tʃaɪld/, bahasa Jerman: [ˈʁoːt.ʃɪlt], bahasa Perancis: [ʁɔt.ʃild], bahasa Italia: [ˈrɔtʃild]), dikenal dengan sebutan Wangsa Rothschild, atau the Rothschilds saja, adalah sebuah dinasti bankir Yahudi-Jerman di Eropa yang mendirikan berbagai bank dan institusi keuangan Eropa pada akhir abad ke-18.
Lima keturunan keluarga cabang Eropa telah diangkat menjadi bangsawan Austria dan diberikan gelar baron Kekaisaran Habsburg oleh Kaisar Francis II pada tahun 1816. Keturunan lainnya dari keluarga cabang Britania diangkat menjadi bangsawan Britania Raya atas permintaan Ratu Victoria.
Selama 1800-an, pada masa puncaknya, keluarga ini diyakini memiliki kekayaan pribadi terbesar di dunia sekaligus kekayaan terbesar dalam sejarah dunia modern. Kekayaan keluarga ini diduga mulai menurun, karena terbagi-bagi ke ratusan keturunannya.
Hari ini, bisnis Rothschild berada pada skala yang lebih kecil ketimbang pada abad ke-19, meski mereka masih bergerak di berbagai bidang, seperti tambang, bank, energi, pertanian campuran, ladang anggur, dan yayasan amal.
Anggota pertama keluarga yang diketahui memakai nama "Rothschild" adalah Izaak Elchanan Rothschild yang lahir pada tahun 1577. Nama ini berarti "Perisai Merah" (Red Shield) dalam bahasa Jerman lama. Naiknya keluarga ini dalam panggung internasional dimulai pada tahun 1744 melalui kelahiran Mayer Amschel Rothschild di Frankfurt am Main, Jerman.
Ia adalah putra dari Amschel Moses Rothschild, (lahir circa 1710), seorang penukar uang yang telah membuat hubungan dagang dengan Pangeran Hesse. Lahir di ghetto (bernama "Judengasse" atau Lorong Yahudi) di Frankfurt, Mayer mengembangkan sebuah lembaga keuangan dan memperluas kekuasaannya dengan memasukkan masing-masing dari lima putranya ke lima pusat keuangan utama Eropa untuk mendirikan bisnis.
Lambang Rothschild terdiri dari kepalan tangan dengan lima panah yang menggambarkan lima dinasti yang didirikan kelima putra Mayer Rothschild, merujuk Mazmur 127: "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan". Motto keluarga ini berada di bawah perisai: Concordia, Integritas, Industria (Harmoni, Integritas, Kerja Keras).
Paul Johnson menulis "[K]eluarga Rothschild bersifat elusif. Tidak ada buku tentang mereka yang mengungkap kisah mereka dan akurat. Berbagai buku omong kosong tentang mereka telah ditulis... Seorang wanita yang berencana menulis buku berjudul Kebohongan Keluarga Rothschild malah membatalkannya dengan berkata: 'Sangat mudah untuk mencari kebohongannya, tetapi sungguh sulit untuk menemukan kebenarannya'".
Ia menulis bahwa, tidak seperti kaum Yahudi istana pada abad-abad sebelumnya, yang telah mendanai dan mengelola wangsa bangsawan Eropa namun sering kehilangan kekayaan akibat kekerasan atau penyitaan, jenis bank internasional baru yang diciptakan oleh keluarga Rothschild tahan terhadap serangan lokal.
Aset-aset mereka disimpan dalam bentuk instrumen keuangan, tersirkulasi ke seluruh dunia dalam bentuk saham, obligasi, dan utang. Perubahan yang dilakukan keluarga Rothschild memungkinkan mereka melindungi properti mereka dari kekerasan lokal: "Sehingga kekayaan asli mereka berada di luar jangkauan pemeras, nyaris di luar jangkauan monarki yang rakus."
Johnson berpendapat bahwa kekayaan mereka mencapai puncaknya karena aktivitas Nathan Mayer Rothschild di London; namun penelitian terbaru oleh Niall Ferguson menunjukkan bahwa laba yang lebih besar dan setara juga diwujudkan oleh dinasti Rothschild yang lain, termasuk James Mayer de Rothschild di Paris, Carl von Rothschild di Napoli dan Amschel Mayer di Frankfurt.
Bagian penting lain dari strategi kesuksesan masa depan Mayer Rothschild adalah menyerahkan kendali atas bank-bank mereka kepada pihak keluarga saja, sehingga memungkinkan mereka menyimpan rahasia penuh mengenai besar kekayaan mereka.
Sekitar tahun 1906, Jewish Encyclopedia menulis: "Praktik yang pertama dilakukan keluarga Rothschild, yaitu membiarkan beberapa saudara mendirikan cabang di berbagai pusat keuangan, diikuti oleh para investor Yahudi lain, seperti keluarga Bischoffsheim, Pereire, Seligman, Lazard, dan lain-lain, dan para investor ini melalui integritas dan kemampuan keuangannya memperoleh kredit tidak hanya dengan confrère (rekan) Yahudinya, tetapi juga dengan persaudaraan bankir pada umumnya.
Ini berarti investor Yahudi memperoleh pangsa keuangan internasional yang terus meningkat selama kuartal pertengahan dan akhir abad ke-19. Pemimpin grup ini adalah keluarga Rothschild...". Ensiklopedia tersebut juga menulis: "Dalam beberapa tahun terakhir, investor non-Yahudi telah mempelajari metode kosmopolitan yang sama, dan, secara keseluruhan, kendali Yahudi pada saat ini lebih sedikit daripada sebelumnya."
Mayer Rothschild berhasil mempertahankan kekayaan keluarga melalui pernikahan buatan secara hati-hati, biasanya antara sepupu pertama atau kedua (sama seperti antarpernikahan kerajaan). Pada akhir abad ke-19, hampir seluruh anggota keluarga Rothschild mulai menikah dengan pihak di luar lingkaran keluarga, biasanya dengan aristokrat atau dinasti keuangan lainnya.
Putra-putranya adalah:
Amschel Mayer Rothschild (1773–1855): Frankfurt, meninggal dunia tanpa anak, diteruskan ke Salomon dan Calmann
Salomon Mayer Rothschild (1774–1855): Wina
Nathan Mayer Rothschild (1777–1836): London
Calmann Mayer Rothschild (1788–1855): Napoli
Jakob Mayer Rothschild (1792–1868): Paris
Nama keluarga Jerman "Rothschild" diucapkan rot-shillt dalam bahasa Jerman, bukan wroth(s)-child seperti dalam bahasa Inggris. Nama keluarga "Rothschild" umum dijumpai di Jerman dan sebagian besar pemilik nama ini tidak punya hubungan sama sekali dengan keluarga ini. Selain itu, nama keluarga Jerman "Rothschild" dan "Rothchild" tidak terkait dengan nama keluarga Protestan "Rothchilds" dari Britania Raya.
Keluarga menurut negara:
Keluarga bankir Rothschild di Jerman
Keluarga bankir Rothschild di Austria
Keluarga bankir Rothschild di Inggris
Keluarga bankir Rothschild di Napoli
Keluarga bankir Rothschild di Perancis
Peperangan Napoleon[sunting | sunting sumber]
Keluarga Rothschild sudah memiliki kekayaan luar biasa sebelum dimulainya Peperangan Napoleon (1803–1815), dan keluarga ini memperoleh keunggulan dalam perdagangan emas batangan pada waktu itu.
Dari London pada tahun 1813 sampai 1815, Nathan Mayer Rothschild memainkan peran penting dalam pendanaan sendiri segala upaya perang Britania Raya, mendanai pengapalan emas batangan ke pasukan Adipati Wellington di seluruh Eropa, serta mengatur pembayaran subsidi keuangan Britania ke sekutu Kontinental mereka. Pada tahun 1815 saja, keluarga Rothschild mengeluarkan £9,8 juta (nilai tukar 1815l sekitar £566 juta hari ini menggunakan indeks harga eceran, dan £6,58 miliar menggunakan pendapatan rata-rata) dalam bentuk pinjaman subsidi kepada sekutu Kontinental Britania.
Para saudaranya membantu mengoordinasikan aktivitas Rothschild di seluruh Eropa, dan keluarga ini mengembangkan jaringan agen, pengapal, dan kurir untuk mengirimkan emas ke seluruh Eropa yang hancur akibat perang. Jaringan keluarga ini juga memberikan Nathan Rothschild waktu dengan informasi politik dan keuangan lebih dulu daripada rekan-rekannya, sehingga memberinya keunggulan di pasar dan pendirian wangsa Rothschild masih bersifat tidak ternilai bagi pemerintah Britania Raya.
Pada satu peristiwa, jaringan keluarga ini memungkinkan Nathan di London menerima berita kemenangan Wellington pada Pertempuran Waterloo sehari sebelum pengantar pesan resmi pemerintah. Kekhawatiran pertama Rothschild mengenai kejadian ini adalah keuntungan keuangan potensial di pasar yang menguntungkannya; ia dan kurirnya tidak langsung membawa berita ini ke pemerintah.
Kesaksian ini kemudian diulang lagi di berbagai tulisan terkenal, seperti tulisan Morton. Awal dari tindakan menguntungkan Rothschild yang paling terkenal dilakukan setelah berita kemenangan Britania Raya diumumkan ke publik. Nathan Rothschild menghitung bahwa berkurangnya pinjaman pemerintah pada masa depan akibat perdamaian akan menciptakan lonjakan pada obligasi pemerintah Britania Raya setelah stabilisasi selama dua tahun, yang akan mengakhiri restrukturisasi ekonomi domestik pascaperang.
Dalam sesuatu yang disebut sebagai tindakan paling berani dalam sejarah keuangan dunia, Nathan langsung membeli seluruh pasar obligasi pemerintah dengan harga yang sangat tinggi sebelum menunggu selama dua tahun, kemudian menjualnya saat muncul celah lonjakan pendek di pasar pada tahun 1817 dengan keuntungan 40%. Karena kekuatan pengaruh keluarga Rothschild yang halus, keuntungan ini merupakan jumlah yang sangat besar.
Nathan Mayer Rothschild awalnya memulai bisnis di Manchester, Inggris, pada tahun 1806 dan perlahan pindah ke London pada tahun 1809, tempat ia menempati 2 New Court di St. Swithin's Lane, City of London, yang masih digunakan sampai sekarang; ia mendirikan N. M. Rothschild and Sons tahun 1811.
Tahun 1818, ia mengatur pinjaman senilai £5 juta kepada pemerintah Prusia dan penerbitan obligasi untuk pinjaman pemerintah menjadi aktivitas utama bisnis banknya. Ia mendapatkan jabatan begitu penting di City of London sampai-sampai pada tahun 1825–6 ia mampu menyuplai koin dalam jumlah yang cukup ke Bank of England agar mereka bisa menghindari krisis likuditas pasar.
"Saya tidak berani menjalankan semua aktivitasnya. Semua direncanakan dengan baik dengan kecerdasan dan ketepatan eksekusi yang luar biasa – tetapi ia menyukai uang dan mendanai Napoleon saat perang." —Baron Baring tentang Nathan Rothschild
Rhodesia adalah lokasi ekspansi aktivitas pertambangan internasional pertama Rio Tinto.
Pada tahun 1816, empat putra Rothschild diangkat sebagai bangsawan pewaris oleh Kaisar Austria Francis I; putra kelima, Nathan, diangkat pada tahun 1818.
Semuanya mendapatkan gelar baron Austria atau Freiherr pada tanggal 29 September 1822. Karena itu, sejumlah anggota keluarga memakai "de" atau "von" Rothschild untuk mengakui gelar bangsawan tersebut. Baron (Ksatria) yang mendapatkan gelarnya dari Kaisar Romawi Suci dikenal sebagai Baron Kekaisaran Romawi Suci, Reichsfreiherr, meski gelar ini kadang disingkat menjadi Freiherr.
Pada tahun 1847, Sir Anthony de Rothschild dijadikan baronet pewaris Britania Raya. Tahun 1885, Nathan Mayer Rothschild II (1840–1915) dari keluarga cabang London diberikan gelar jawatan pewaris Baron Rothschild dalam Jawatan Britania Raya.
Bisnis perbankan keluarga Rothschild mencetuskan adikeuangan internasional selama industrialisasi Eropa dan berperan penting dalam pembangunan sistem rel kereta api di seluruh dunia dan pendanaan pemerintah untuk proyek-proyek seperti Terusan Suez. Selama abad ke-19, keluarga ini membeli sebagian besar properti di Mayfair, London.
Bisnis besar abad ke-19 yang didirikan dengan modal keluarga Rothschild meliputi:
Alliance Assurance (1824) (sekarang Royal & SunAlliance);
Chemin de Fer du Nord (1845)
Perusahaan tambang Rio Tinto (1873) (sejak 1880-an sampai seterusnya, keluarga Rothschild memegang penuh kendali Rio Tinto)
Eramet (1880)
Imerys (1880)
De Beers (1888)
Keluarga ini mendanai Cecil Rhodes untuk menciptakan koloni Rhodesia di Afrika. Sejak akhir 1880-an sampai seterusnya, keluarga Rothschild memegang penuh kendali perusahaan tambang Rio Tinto.
Pemerintah Jepang mendekati keluarga Rothschild di London dan Paris untuk meminta bantuan dana selama Perang Rusia-Jepang. Penerbitan obligasi perang Jepang oleh konsorsium London bernilai £11,5 juta (nilai tukar 1907; £902 juta dalam nilai tukar 2012).
Nama Rothschild semakin dikaitkan dengan kemewahan dan kekayaan besar, dan keluarga ini dikenal karena sering mengoleksi karya-karya seni, kepemilikan istana, serta aktivitas filantropinya.
Pada akhir abad itu, keluarga ini memiliki atau telah membangun sekitar 41 istana (pada perkiraan terkecil) pada skala dan kemewahan yang tak dapat ditandingi oleh keluarga kerajaan terkaya sekalipun. Lloyd George, yang kelak menjadi Perdana Menteri Britania Raya, pada tahun 1909 mengklaim bahwa Lord Nathan Rothschild adalah pria terkuat di Britania Raya.
Pada tahun 1901, tanpa pewaris laki-laki, keluarga Rothschild di Frankfurt bubar setelah berbisnis selama lebih dari satu abad. Tahun 1989, keluarga ini kembali lagi ketika N M Rothschild & Sons, lengan investasi Britania, plus Bank Rothschild AG cabang Swiss, mendirikan kantor bank perwakilan di Frankfurt.
Cabang pertama adalah James Mayer de Rothschild (1792–1868), dikenal sebagai "James", yang mendirikan de Rothschild Frères di Paris. Setelah Peperangan Napoleon, ia memainkan peran besar dalam pendanaan pembangunan rel kereta dan bisnis pertambangan yang membantu Perancis menjadi sebuah kekuatan industri. Putra-putra James, Gustave de Rothschild dan Alphonse James de Rothschild melanjutkan tradisi perbankan dan menjadi penjamin dana perbaikan senilai 5 miliar yang diminta oleh pasukan pendudukan Prusia pada Perang Perancis-Prusia tahun 1870-an. Pada tahun 1980, bisnis di Paris mempekerjakan sekitar 2.000 orang dan memiliki turnover tahunan senilai 26 miliar franc ($5 miliar dalam nilai tukar 1980).
Tetapi kemudian bisnis Paris mengalami keadaan nyaris bangkrut pada tahun 1982 ketika pemerintahan Sosialis pimpinan François Mitterrand menasionalisasikannya dan mengganti namanya menjadi Compagnie Européenne de Banque. Baron David de Rothschild, kelak berusia 39 tahun, memutuskan tinggal dan membangun lagi dengan mendirikan perusahaan baru bernama Rothschild & Cie Banque dengan tiga karyawan saja dan modal $1 juta.
Hari ini, operasinya di Paris memiliki 22 rekanan dan memainkan bagian penting dari bisnis global. Generasi keluarga Rothschild selanjutnya di Paris masih terlibat dalam bisnis keluarga, menjadi kekuatan besar dalam perbankan investasi internasional. Keluarga Rothschild telah memimpin Thomson Financial League Tables dalam persetujuan merger dan akuisisi perbankan investasi di Britania Raya, Perancis, dan Italia.
Putra James Mayer de Rothschild lainnya, Edmond James de Rothschild (1845–1934) sangat aktif dalam filantropi dan seni, dan merupakan pendukung utama Zionisme. Cucunya, Baron Edmond Adolphe de Rothschild, mendirikan bank swasta bernama LCF Rothschild pada tahun 1953.
Sejak 1997, Baron Benjamin de Rothschild memimpin grup ini. Grup ini memiliki aset senilai €100 miliar pada tahun 2008 serta berbagai properti ladang anggur di Perancis (Château Clarke, Château des Laurets), di Australia atau Afrika Selatan. Pada tahun 1961, Edmond Adolphe de Rothschild yang berusia 35 tahun membeli perusahaan Club Med, setelah ia mengunjungi sebuah resor dan menikmati liburannya.
Bunga sahamnya di Club Med dijual pada tahun 1990-an. Pada tahun 1973, ia membeli Bank of California, menjual bunga sahamnya tahun 1984 sebelum bank ini dijual ke Mitsubishi Bank pada tahun 1985.
Cabang kedua didirikan oleh Nathaniel de Rothschild (1812–1870). Lahir di London, ia adalah anak keempat dari pendiri cabang keluarga di Inggris, Nathan Mayer Rothschild (1777–1836). Tahun 1850, Nathaniel Rothschild pindah ke Paris untuk bekerja pada pamannya, James Mayer Rothschild. Tetapi, pada tahun 1853, Nathaniel membeli Château Brane Mouton, sebuah ladang anggur di Pauillac di departemen Gironde. Nathaniel Rothschild mengganti namanya menjadi Château Mouton Rothschild dan kemudian menjadi salah satu label anggur terkenal di dunia. Pada tahun 1868, paman Nathaniel, James Mayer de Rothschild membeli ladang anggur tetangganya, Chateau Lafite.
Di Vienna, Salomon Mayer Rothschild mendirikan sebuah bank pada tahun 1820-an dan keluarga Austria memiliki kekayaan dan jabatan yang luar biasa. Krisis 1929 membawa masalah dan Baron Louis von Rothschild berusaha membantu Creditanstalt, bank terbesar Austria, untuk mencegah kebangkrutannya.
Sayang sekali, selama Perang Dunia II mereka harus menyerahkan bank mereka kepada Nazi dan keluar dari negara itu. Istana-istana Rothschild berupa koleksi istana di Wina yang dibangun dan dimiliki keluarga ini disita, dijarah, dan dihancurkan oleh Nazi. Istana ini terkenal karena ukurannya yang besar dan koleksi lukisan, baju besi, tapestri, dan patung yang banyak (beberapa di antaranya dikembalikan kepada keluarga Rothschild oleh pemerintah Austria pada tahun 1999).
Semua anggota keluarga selamat dari Holocaust, beberapa di antaranya pindah ke Amerika Serikat dan baru kembali ke Eropa setelah perang. Tahun 1999, pemerintah Austria setuju mengembalikan 250 karya seni milik keluarga Rothschild yang dijarah Nazi dan dimasukkan museum negara setelah perang.
Bank C M de Rothschild & Figli mengatur pinjaman besar untuk Negara-Negara Kepausan dan banyak Raja Napoli ditambah Kadipaten Parma dan Kadipaten Agung Toscana. Akan tetapi, pada tahun 1830-an, Napoli mengikuti jejak Spanyol untuk menarik diri secara perlahan dari obligasi konvensional sehingga mulai mempengaruhi pertumbuhan dan keuntungan bank tersebut.
Penyatuan Italia tahun 1861, disertai keruntuhan aristokrasi Italia yang telah menjadi klien utama Rothschild, akhirnya memaksa keluarga Rothschild menutup bank mereka di Napoli akibat perkiraan keberlangsungan bisnis jangka panjang yang semakin menurun.
Pada awal abad ke-19, keluarga Rothschild di Napoli membangun hubungan dekat dengan Vatican Bank dan hubungan antara keluarga dan Vatikan masih berlanjut hingga abad ke-20. Tahun 1832, ketika Paus Gregorius XVI terlihat bertemu dengan Carl von Rothschild, orang-orang yang melihatnya terkejut karena Rothschild tidak diminta mencium kaki Paus, yang pada waktu itu diwajibkan bagi semua orang yang bertemu Paus, termasuk raja.
Solidaritas Yahudi dalam keluarga ini tidak homogen. Sejumlah anggota keluarga mendukung Zionisme, sejumlah lainnya menentang pembentukan negara Yahudi. Lord Victor Rothschild menolak memberi perlindungan atau bahkan membantu pengungsi Yahudi saat Holocaust.
Pada tahun 1917, Walter Rothschild, Baron Rothschild ke-2 adalah orang yang menyampaikan Deklarasi Balfour kepada Federasi Zionis, yang berjanji kepada pemerintah Britania untuk menetapkan Palestina sebagai rumah nasional kaum Yahudi.
Setelah kematian James Jacob de Rothschild tahun 1868, Alphonse Rothschild, putra tertuanya, yang mengambil alih manajemen bank keluarga, adalah pendukung aktif Eretz Israel. Arsip keluarga Rothschild menunjukkan bahwa selama 1870-an, keluarga ini menyumbang hampir 500.000 franc per tahun atas nama Yahudi Timur kepada Alliance Israélite Universelle.
Baron Edmond James de Rothschild, putra termuda James Jacob de Rothschild adalah pendukung permukiman pertama di Rishon-LeZion, Palestina, dan membeli sebagian tanahnya dari tuan tanah Utsmaniyah yang sekarang membentuk sebagian wilayah Israel.
Pada tahun 1924, ia mendirikan Palestine Jewish Colonization Association (PICA), yang membeli lebih dari 125.000 are (22,36 km²) tanah dan mendirikan bisnis. Di Tel Aviv, ia memiliki sebuah jalan, Rothschild Boulevard, yang diberi nama sesuai namanya, dan berbagai permukiman di seluruh Israel yang ia bantu pembangunannya, termasuk Metulla, Zikhron Ya'akov, Rishon Lezion, dan Rosh Pina.
Sebuah taman di Boulogne-Billancourt, Paris, Parc Edmond de Rothschild (Taman Edmond de Rothschild) juga diberi nama sesuai nama pendirinya. Keluarga Rothschild juga memainkan peran penting dalam mendanai infrastruktur pemerintahan Israel. James A. de Rothschild mendanai pembangunan gedung Knesset sebagai hadiah kepada Israel dan gedung Mahkamah Agung Israel disumbangkan kepada Israel oleh Dorothy de Rothschild.
Di luar Ruang Presiden terpampang surat yang ditulis Mrs. Rothschild untuk Shimon Peres (kelak menjadi Perdana Menteri) yang berisi keinginannya untuk menyumbangkan gedung Mahkamah Agung yang baru.
Saat diwawancarai Haaretz tahun 2010, Baron Benjamin Rothschild, anggota keluarga di Swiss, mengatakan bahwa ia mendukung proses perdamaian: "Saya paham ini masalah yang sulit, terutama karena kaum fanatik dan ekstremis - dan saya berbicara tentang kedua sisi. Saya pikir Anda punya kaum fanatik di Israel... Secara umum saya tidak dekat dengan politisi. Saya pernah berbicara dengan Netanyahu. Saya pernah bertemu dengan Menteri Keuangan Israel, namun semakin jauh dari politisi justru saya merasa lebih baik." Tentang identitas keagamaan, ia menyatakan bahwa ia berpikiran terbuka: "Kamu berbisnis dengan semua negara, termasuk negara-negara Arab... kekasih putri tertua saya seorang Saudi. Ia pria yang baik dan jika putri saya ingin menikahinya, saya setuju."
Sejak akhir abad ke-19, keluarga ini semakin merendah hati dengan menyumbangkan banyak istana terkenal, serta berbagai karya seni ke badan amal, sehingga secara umum menghentikan praktik pamer kekayaan. Hari ini, bisnis Rothschild berada pada skala yang lebih kecil ketimbang pada abad ke-19, meski mereka masih bergerak di berbagai bidang, seperti perbankan, manajemen aset, penasihat keuangan, ladang anggur, dan yayasan amal.
Sejak 2003, grup perbankan Rothschild telah dikendalikan oleh Rothschild Continuation Holdings, sebuah perusahaan holding terdaftar di Swiss (di bawah kepemimpinan Baron David René de Rothschild). Rothschild Continuation Holdings sebaliknya dikendalikan oleh Concordia BV, sebuah perusahaan holding master terdaftar di Belanda.
Concordia BV dikelola oleh Paris Orléans S.A., sebuah perusahaan holding terdaftar di Perancis. Paris Orléans S.A. dikendalikan oleh Rothschild Concordia SAS, sebuah perusahaan holding keluarga Rothschild. Rothschild & Cie Banque menjalankan bisnis perbankan Rothschild di Perancis dan daratan eropa, sementara Rothschilds Continuation Holdings AG menjalankan bank-bank Rothschild di tempat lain, termasuk N M Rothschild & Sons di London. 20% saham Rothschild Continuation Holdings AG dijual tahun 2005 kepada Jardine Strategic, yang merupakan anak perusahaan Jardine, Matheson & Co. dari Hong Kong.
Pada bulan November 2008, Rabobank Group, bank investasi dan komersial terbesar di Belanda, mengakuisisi 7,5% saham Rothschild Continuation Holdings AG, dan Rabobank dan Rothschild membuat perjanjian kerja sama di bidang penasihat merger dan akuisisi (M&A) dan penasihat pasar modal ekuitas dalam sektor makanan dan agribisnis.
Diyakini luas bahwa tindakan ini bertujuan membantu Rothschild Continuation Holdings AG memperoleh akses ke dunia modal yang lebih besar, sehingga memperbesar keberadaannya di pasar Asia Timur.
Paris Orléans S.A.adalah perusahaan holding keuangan yang terdaftar di Euronext Paris dan dikendalikan oleh keluarga Rothschild cabang Perancis dan Inggris. Paris Orléans adalah perusahaan utama grup perbankan Rothschild dan mengendalikan aktivitas perbankan Rothschild Group, termasuk N M Rothschild & Sons dan Rothschild & Cie Banque. Karyawannya berjumlah 2.000 orang. Para direktur perusahaan meliputi Eric de Rothschild, Robert de Rothschild, dan Count Philippe de Nicolay.
N M Rothschild & Sons, bank investasi Inggris melakukan sebagian besar aktivitasnya sebagai penasihat merger dan akuisisi. Tahun 2004, bank investasi ini menarik diri dari pasar emas, sebuah komoditas yang telah diperdagangkan para bankir Rothschild selama dua abad.
Tahun 2006, bank ini menempati peringkat kedua dalam nilai M&A di Britania Raya dengan total persetujuan senilai $104,9 miliar. Pada tahun yang sama, bank ini secara terbuka mengumumkan laba tahunan pra-pajak senilai £83,2 juta dengan aset £5,5 miliar.
Hari ini, harga emas masih ditetapkan dua kali sehari pada pukul 10:30 dan 15:00 di kantor N M Rothschild oleh penyimpan emas batangan terbesar dunia - Deutsche Bank, HSBC, ScotiaMocatta, dan Societe Generale. Secara informal, penetapan emas memberikan nilai yang diakui yang dipakai sebagai patokan pemberian harga sebagian besar produk emas dan turunannya di seluruh pasar dunia. Setiap hari pada pukul 10:30 dan 15:00 waktu setempat, lima perwakilan bank investasi bertemu di sebuah ruangan kecil di kantor Rothschild London di St Swithin's Lane. Di tengahnya terdapat ketua, yang secara tradisi ditunjuk oleh bank Rothschild, meski bank ini sendiri sudah menarik diri dari perdagangan emas.
Tahun 1953, seorang anggota keluarga di Swiss, Edmond Adolphe de Rothschild (1926–1997), mendirikan LCF Rothschild Group (sekarang Edmond de Rothschild Group), yang berpusat di Jenewa dengan aset senilai €100 miliar dan memiliki cabang di 15 negara. Meski grup ini lebih berupa badan keuangan yang berkekhususan di manajemen aset dan perbankan swasta, aktivitasnya juga meliputi pertanian campuran, hotel mewah, dan balap kapal pesiar. Komite Edmond de Rothschild Group saat ini dipimpin oleh Benjamin de Rothschild, putra Baron Edmond.
Pada akhir 2010, Baron Benjamin Rothschild mengatakan bahwa keluarga ini tidak terkena dampak krisis keuangan 2007–2010 karena praktik bisnisnya yang konservatif: "Kami berhasil melaluinya, karean manajer investasi kami tidak ingin mengalirkan uang kami ke hal-hal yang tidak masuk akal." Ia menambahkan bahwa keluarga Rothschild masih merupakan bisnis keluarga tradisional berskala kecil dan lebih melindungi investasi klien-kliennya ketimbang perusahaan Amerika Serikat, sambil menambahkan: "Para klien tahu kami tidak akan berspekulasi dengan uang mereka".
Tahun 1980, Jacob Rothschild, Baron Rothschild ke-4 mengundurkan diri dari N M Rothschild & Sons dan mengendalikan secara independen Rothschild Investment Trust (sekarang RIT Capital Partners, salah satu badan investasi terbesar di Britania Raya), yang memiliki aset $3,4 miliar pada tahun 2008.[48] Perusahaan ini terdaftar di Bursa Saham London. Lord Rothschild juga merupakan salah seorang investor besar BullionVault, sebuah platform perdagangan emas.
RIT Capital menyimpan sebagian besar asetnya dalam bentuk emas fisik. Aset-aset lain mencakup investasi minyak dan energi.
Tahun 1991, Jacob Rothschild, Baron Rothschild ke-4 mendirikan J. Rothschild Assurance Group (sekarang St. James's Place) bersama Sir Mark Weinberg. Perusahaan ini terdaftar di Bursa Saham London.
Tahun 2001, puri Rothschild di 18 Kensington Palace Gardens, London, dijual dengan nilai £85 juta, yang pada waktu itu (2001) menjadi properti penghunian dengan nilai jual termahal di dunia. Puri ini terbuat dari marmer dan memiliki luas 9.000 kaki persegi dengan ruang parkir bawah tanah untuk 20 mobil.
Pada bulan Desember 2009, Jacob Rothschild, Baron Rothschild ke-4 menginvestasikan $200 juta uangnya ke sebuah perusahaan minyak Laut Utara.
Bulan Januari 2010, Nathaniel Philip Rothschild membeli sebagian saham kapitalisasi pasar perusahaan tambang dan minyak Glencore. Ia juga membeli saham perusahaan tambang aluminium United Company RUSAL dalam jumlah besar.
Selama abad ke-19, keluarga Rothschild mengendalikan perusahaan tambang Rio Tinto, dan sampai sekarang. Rothschild dan Rio Tinto masih membina hubungan bisnis dekat.
Tahun 2012, RIT Capital Partners mengumumkan bahwa mereka akan membeli 37 persen saham grup penasihat kekayaan dan manajemen aset keluarga Rockefeller. Persetujuan ini, terfokus pada manajemen aset, merupakan pertama kalinya dua keluarga berpengaruh ini bekerja sama. Berkomentar tentang persetujuan ini, David Rockefeller, patriark keluarga Rockefeller saat ini, mengatakan: "Hubungan antara kedua keluarga masih sangat kuat."
Keluarga Rothschild sudah menggeluti industri pembuatan anggur selama 150 tahun. Pada tahun, 1853 Nathaniel de Rothschild membeli Château Brane-Mouton dan mengganti namanya menjadi Château Mouton Rothschild. Tahun 1868, James Mayer de Rothschild membeli tetangganya, Château Lafite, dan memberinya nama Château Lafite Rothschild.
Hari ini, keluarga Rothschild memiliki banyak istana ladang anggur. Properti mereka di Perancis meliputi Château Clarke, Château Clerc-Milon, Château d'Armailhac, Château Duhart-Milon, Château Lafite Rothschild, Château de Laversine, Château des Laurets, Château L'Évangile, Château Malmaison, Château de Montvillargenne, Château Mouton Rothschild, Château de la Muette, Château Rieussec, Château Rothschild d'Armainvilliers. Mereka juga memiliki ladang anggur di Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika Selatan, dan Australia.
Selain itu, Château Mouton Rothschild dan Château Lafite Rothschild diklasifikasikan sebagai Premier Cru Classé -- i.e., Pertumbuhan Pertama, status yang merujuk pada klasifikasi anggur yang berasal dari Bordeaux, Perancis.
Keluarga ini pernah memiliki salah satu koleksi seni pribadi terbesar di dunia, dan sebagian besar karya seni di museum-museum publik dunia adalah sumbangan Rothschild yang kadang, sesuai tradisi kerahasiaan keluarga, disumbangkan secara anonim.
Menurut Daily Telegraph: "Keluarga bankir multinasional ini adalah peribahasa untuk kekayaan, kekuasaan - dan kerahasiaan... Nama Rothschild sudah menjadi sinonim untuk uang dan kekuasaan sampai ke tingkat yang belum pernah bisa dicapai oleh keluarga manapun."
Kisah keluarga Rothschild telah ditampilkan di berbagai film. Film Hollywood tahun 1934 berjudul The House of Rothschild, dibintangi George Arliss dan Loretta Young, berkisah tentang kehidupan Mayer Amschel Rothschild.
Potongan film ini dimasukkan dalam film propaganda Nazi Der ewige Jude (The Eternal Jew) tanpa seizin pemilik hak cipta. Film Nazi lainnya, Die Rothschilds (atau Aktien auf Waterloo) disutradarai oleh Erich Waschneck tahun 1940.
Sebuah musikal Broadway berjudul The Rothschilds, berkisah tentang sejarah keluarga ini sampai tahun 1818, masuk nominasi Tony Award tahun 1971. Nathaniel Mayer ("Natty") Rothschild, Baron Rothschild ke-1 muncul sebagai tokoh figuran di novel sejarah-misteri Stone's Fall karya Iain Pears.
Nama Rothschild disebutkan oleh Aldous Huxley dalam novelnya Brave New World, di antara nama-nama tokoh sejarah berpengaruh, inovator ilmiah, dan lain-lain. Tokoh tersebut, bernama Morgana Rothschild, memainkan peran kecil dalam novel tersebut. Nama Rothschild yang dipakai sebagai sinonim untuk kekayaan luar biasa menginspirasi lagu "If I Were a Rich Man", yang didasarkan pada sebuah lagu dari cerita Tevye the Dairyman, ditulis dalam bahasa Yiddish sebagai Ven ikh bin Rotshild yang berarti "Andai aku seorang Rothschild".
Di Perancis, kata "Rothschild" sepanjang abad ke-19 dan 20 dipakai sebagai sinonim untuk kekayaan tak terbatas, gaya neo-Gothik, dan glamor epikurean. Keluarga ini juga memberi namanya untuk istilah "le goût Rothschild," sebuah gaya hidup yang sangat glamor yang elemen dekoratifnya meliputi istana neo-Renaisans, baju mewah, koleksi senjata dan patung, sensasi horror vacui Victoria, dan karya seni bernilai tinggi. Le goût Rothschild banyak memengaruhi desainer busana seperti Robert Denning, Yves Saint Laurent, Vincent Fourcade, dan lain-lain.
"Ya, kawanku, semuanya terangkum seperti ini: untuk melakukan sesuatu kamu harus menjadi sesuatu terlebih dahulu. Kita pikir Dante itu hebat, dan ia punya berabad-abad peradaban di belakangnya; Dinasti Rothschild kaya dan mereka membutuhkan lebih dari satu generasi untuk memperoleh kekayaan sebanyak itu. Sejumlah hal justru terletak lebih dalam daripada yang kita pikirkan."
—Johann Wolfgang von Goethe, October 1828
Selama lebih dari dua abad, keluarga Rothschild sering dijadikan subjek teori konspirasi. Teori-teori ini muncul dalam berbagai bentuk, seperti mengklaim bahwa keluarga ini mengendalikan kekayaan dan institusi keuangan dunia, atau memulai atau menghentikan peperangan antarnegara.
Berbicara tentang hal ini dan pandangannya, sejarawan Niall Ferguson menulis, "Seperti yang kita lihat, perang cenderung mengguncang harga obligasi yang sudah ada dengan meningkatkan risiko bahwa negara pengutang akan gagal membayar bunga-bunganya andai terjadi kekalahan dan kehilangan teritori.
Pada pertengahan abad ke-19, keluarga Rothschild telah berevolusi dari pedagang menjadi manajer uang, secara hati-hati bergantung pada portofolio obligasi pemerintah mereka yang sangat banyak. Setelah mendapatkan uang, mereka cendeung kehilangan lebih banyak daripada yang diperoleh dari konflik. Keluarga Rothschild telah memutuskan hasil Peperangan Napoleon dengan mengalirkan dana ke pihak Britania. Sekarang mereka hanya duduk di pinggir saja."
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga_Rothschild
Monday, May 11, 2015
Konspirasi Tewasnya Osama Bin Laden
Jurnalis AS: Gedung Putih Berbohong soal Tewasnya Osama Bin Laden
Seorang wartawan AS pemenang hadiah Pulitzer, Seymour Hersh membuat tudingan menghebohkan terkait operasi militer AS yang menewaskan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden.
Pemerintah AS, ujar Hersh, menipu dunia soal kematian Bin Laden sehingga pemerintahan Presiden Barack Obama bisa mengklaim kemenangan perang melawan Al Qaeda. Hersh menuding, pemerintah AS sebenarnya sudah mengetahui posisi Bin Laden, yang diyakini sebagai dalang selangan 11 September di New York, di kota Abottabad, Pakistan.
Di kota itu, Bin Laden selama bertahun-tahun tinggal di sebuah rumah besar yang berlokasi tak jauh dari sebuah akademi militer Pakistan. Abottabad memang dikenal sebagai kota militer Pakistan.
Kemudian Dinas Intelijen AS (CIA) mengetahui posisi Bin Laden setelah seorang pejabat tinggi intelijen Pakistan memberikan informasi itu kepada CIA dengan harapan mendapatkan hadiah uang sebesar 25 juta dolar AS.
Berdasarkan investigasinya, Hersh menyebut pemerintahan Obama sudah melakukan negosiasi dengna pemerintah Pakistan dan dinas intelijen negeri itu ISI sebelum menyerbu kediaman Bin Laden di Abottabad.
Namun, kemudian pemerintahan Obama mengatakan operasi penyerbuan ke Abottabad itu adalah sebuah operasi infiltrasi rahasia.
Dengan mengutip seorang sumber anonim, Hersh mengatakan ISI mematikan aliran listrik ke kediaman Bin Laden sebelum pasukan elite Navy SEAL menyerbu rumah itu demi mencegah intervensi militer Pakistan.
Menurut sejumlah laporan yang dikutip Hersh, tak ada baku tembak dalam penggerebekan itu dan satu-satunya peluru yang dilepaskan adalah yang memutus nyawa Osama bin Laden.
Presiden Obama menyembunyikan kebenaran di balik operasi ini menjelang pemilihan demi meningkatkan popularitas pemerintahannya. Demikian klaim Hersh.
Tudingan Hersh yang ditulis dalam sebuah artikel yang dimuat The London Review of Books, menambahkan jasad Bin Laden juga tak dimakamkam di laut seperti yang selama ini diklaim pemerintah AS. Jasad Bin Laden, klaim Hersh, sebenarnya dimakamkan pemerintah AS di wilayah Afganistan.
Hersh menambahkan, saat berpidato memberikan kabar kematian Bin Laden kepada rakyat Amerika, sebenarnya pidato Obama itu disusun secara terburu-buru.
"Rangkaian pernyataan yang tak akurat ini kemudian menciptakan kekacauan di pekan-pekan selanjutnya," demikian Hersh dalam artikelnya.
"(Tentara Pakistan) diperintahkan untuk meninggalkan kawasan di dekat kediaman Bin Laden begitu mendengar suara helikopter AS mendekat," tambah Hersh.
"Kota itu dalam keadaan gelap. Listrik dipadamkan atas perintah ISI, beberapa jam sebelum penggerebekan terjadi," masih menurut Hersh.
"Faktanya, telah terdapat kesepakatan antara pemerintah Pakistan dan tak ada pembicaraan soal hal-hal yang harus diungkap jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan," tambah Hersh.
Demi pencitraan Obama
Selain kebohongan dalam proses penggrebekan yang menewaskan Bin Laden itu, sumber Hersh juga meragukan klaim pemerintah AS yang menyebut telah menemukan dokumen-dokumen penting di kediaman Bin Laden.
"Gedung Putih harus memberi kesan bahwa Bin Laden masih penting dalam hal operasi. Jika tidak, mengapa harus membunuhnya?" ujar sumber itu.
"Sebuah cerita palsu dibuat, bahwa terdapat jaringan kurir yang datang dan pergi membawa perintah dalam USB. Semua hanya untuk memberi citra bahwa Bin Laden masih penting," tambah sumber tersebut.
"Pasukan SEAL seharusnya menyadari adanya skema besar politik ini. Bin Laden sangat bernilai bagi para politisi, dia menjadi semacam aset pekerjaan," lanjut sang sumber.
Serangkaian kebohongan, kesalahan pernyataan dan pengkhianatan yang sengaja diciptakan ini, menurut sang sumber, memicu reaksi balasan yang tak terelakkan.
"Kerja sama dengan Pakistan mengalami kemunduran hingga empat tahun sebab negeri itu membutuhkan waktu untuk kembali mempercayai AS, khususnya dalam hubungan militer untuk melawan terorisme, sementara terorisme terus tumbuh di seluruh dunia," tambah sang sumber.
"Mereka (Pakistan) merasa Obama telah berkhianat. Pakistan kini kembali bekerja sama dengan AS karena munculnya ancaman ISIS," lanjut sumber itu.
Seorang konsultan operasi komando khusus yang juga dikutip Hersh mengatakan, pembunuhan Bin Laden merupakan sebuah teater politik yang dirancang agar prestasi pemerintahan Obama di bidang militer terlihat cemerlang. Sejauh ini, Gedung Putih belum menanggapi tudingan Hersh lewat artikelnya tersebut.
Sumber :
http://internasional.kompas.com/read/2015/05/11/16462821/Jurnalis.AS.Gedung.Putih.Berbohong.soal.Tewasnya.Osama.Bin.Laden
Seorang wartawan AS pemenang hadiah Pulitzer, Seymour Hersh membuat tudingan menghebohkan terkait operasi militer AS yang menewaskan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden.
Pemerintah AS, ujar Hersh, menipu dunia soal kematian Bin Laden sehingga pemerintahan Presiden Barack Obama bisa mengklaim kemenangan perang melawan Al Qaeda. Hersh menuding, pemerintah AS sebenarnya sudah mengetahui posisi Bin Laden, yang diyakini sebagai dalang selangan 11 September di New York, di kota Abottabad, Pakistan.
Di kota itu, Bin Laden selama bertahun-tahun tinggal di sebuah rumah besar yang berlokasi tak jauh dari sebuah akademi militer Pakistan. Abottabad memang dikenal sebagai kota militer Pakistan.
Kemudian Dinas Intelijen AS (CIA) mengetahui posisi Bin Laden setelah seorang pejabat tinggi intelijen Pakistan memberikan informasi itu kepada CIA dengan harapan mendapatkan hadiah uang sebesar 25 juta dolar AS.
Berdasarkan investigasinya, Hersh menyebut pemerintahan Obama sudah melakukan negosiasi dengna pemerintah Pakistan dan dinas intelijen negeri itu ISI sebelum menyerbu kediaman Bin Laden di Abottabad.
Namun, kemudian pemerintahan Obama mengatakan operasi penyerbuan ke Abottabad itu adalah sebuah operasi infiltrasi rahasia.
Dengan mengutip seorang sumber anonim, Hersh mengatakan ISI mematikan aliran listrik ke kediaman Bin Laden sebelum pasukan elite Navy SEAL menyerbu rumah itu demi mencegah intervensi militer Pakistan.
Menurut sejumlah laporan yang dikutip Hersh, tak ada baku tembak dalam penggerebekan itu dan satu-satunya peluru yang dilepaskan adalah yang memutus nyawa Osama bin Laden.
Presiden Obama menyembunyikan kebenaran di balik operasi ini menjelang pemilihan demi meningkatkan popularitas pemerintahannya. Demikian klaim Hersh.
Tudingan Hersh yang ditulis dalam sebuah artikel yang dimuat The London Review of Books, menambahkan jasad Bin Laden juga tak dimakamkam di laut seperti yang selama ini diklaim pemerintah AS. Jasad Bin Laden, klaim Hersh, sebenarnya dimakamkan pemerintah AS di wilayah Afganistan.
Hersh menambahkan, saat berpidato memberikan kabar kematian Bin Laden kepada rakyat Amerika, sebenarnya pidato Obama itu disusun secara terburu-buru.
"Rangkaian pernyataan yang tak akurat ini kemudian menciptakan kekacauan di pekan-pekan selanjutnya," demikian Hersh dalam artikelnya.
"(Tentara Pakistan) diperintahkan untuk meninggalkan kawasan di dekat kediaman Bin Laden begitu mendengar suara helikopter AS mendekat," tambah Hersh.
"Kota itu dalam keadaan gelap. Listrik dipadamkan atas perintah ISI, beberapa jam sebelum penggerebekan terjadi," masih menurut Hersh.
"Faktanya, telah terdapat kesepakatan antara pemerintah Pakistan dan tak ada pembicaraan soal hal-hal yang harus diungkap jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan," tambah Hersh.
Demi pencitraan Obama
Selain kebohongan dalam proses penggrebekan yang menewaskan Bin Laden itu, sumber Hersh juga meragukan klaim pemerintah AS yang menyebut telah menemukan dokumen-dokumen penting di kediaman Bin Laden.
"Gedung Putih harus memberi kesan bahwa Bin Laden masih penting dalam hal operasi. Jika tidak, mengapa harus membunuhnya?" ujar sumber itu.
"Sebuah cerita palsu dibuat, bahwa terdapat jaringan kurir yang datang dan pergi membawa perintah dalam USB. Semua hanya untuk memberi citra bahwa Bin Laden masih penting," tambah sumber tersebut.
"Pasukan SEAL seharusnya menyadari adanya skema besar politik ini. Bin Laden sangat bernilai bagi para politisi, dia menjadi semacam aset pekerjaan," lanjut sang sumber.
Serangkaian kebohongan, kesalahan pernyataan dan pengkhianatan yang sengaja diciptakan ini, menurut sang sumber, memicu reaksi balasan yang tak terelakkan.
"Kerja sama dengan Pakistan mengalami kemunduran hingga empat tahun sebab negeri itu membutuhkan waktu untuk kembali mempercayai AS, khususnya dalam hubungan militer untuk melawan terorisme, sementara terorisme terus tumbuh di seluruh dunia," tambah sang sumber.
"Mereka (Pakistan) merasa Obama telah berkhianat. Pakistan kini kembali bekerja sama dengan AS karena munculnya ancaman ISIS," lanjut sumber itu.
Seorang konsultan operasi komando khusus yang juga dikutip Hersh mengatakan, pembunuhan Bin Laden merupakan sebuah teater politik yang dirancang agar prestasi pemerintahan Obama di bidang militer terlihat cemerlang. Sejauh ini, Gedung Putih belum menanggapi tudingan Hersh lewat artikelnya tersebut.
Sumber :
http://internasional.kompas.com/read/2015/05/11/16462821/Jurnalis.AS.Gedung.Putih.Berbohong.soal.Tewasnya.Osama.Bin.Laden
Wednesday, May 6, 2015
Simbol Freemason
Freemason, lambang mata satu dan dolar AS
Masyarakat sudah lama dihebohkan dengan lambang yang hanya dimengerti beberapa orang tersebut. Lantas apakah makna sebenarnya dari lambang tersebut?
Dikutip dari berbagai sumber, simbol piramida dan mata satu disebut-sebut terkait dengan Amerika Serikat. Hal itu disinyalir dari uang USD 1 merupakan simbol Freemason.
Benar tidaknya AS memiliki kaitan dengan Freemason masih menjadi perdebatan hingga kini. Namun, memaknai simbol Piramida dan mata satu pada uang 1 USD, terlihat saat menggambarkan sebuah heksagram di atasnya adalah sebuah anagram yang membentuk kata Mason. Beberapa sumber itu mensinyalir, para pendiri AS juga disebut-sebut sebagai anggota Mason.
Pemakaian Piramida dan mata satu simbol pada uang 1 USD merupakan ide presiden AS saat itu, Franklin Delano Roosevelt. Franklin disebut merupakan seorang Mason level 32.
Kelompok ini percaya di lindugi Tuhan. Simbol mata satu adalah sebuah representasi Mason atas The Great Architect of the Universe atau Tuhan.
Sumber :
http://www.merdeka.com/peristiwa/freemason-lambang-mata-satu-dan-dolar-as.html
Masyarakat sudah lama dihebohkan dengan lambang yang hanya dimengerti beberapa orang tersebut. Lantas apakah makna sebenarnya dari lambang tersebut?
Dikutip dari berbagai sumber, simbol piramida dan mata satu disebut-sebut terkait dengan Amerika Serikat. Hal itu disinyalir dari uang USD 1 merupakan simbol Freemason.
Benar tidaknya AS memiliki kaitan dengan Freemason masih menjadi perdebatan hingga kini. Namun, memaknai simbol Piramida dan mata satu pada uang 1 USD, terlihat saat menggambarkan sebuah heksagram di atasnya adalah sebuah anagram yang membentuk kata Mason. Beberapa sumber itu mensinyalir, para pendiri AS juga disebut-sebut sebagai anggota Mason.
Pemakaian Piramida dan mata satu simbol pada uang 1 USD merupakan ide presiden AS saat itu, Franklin Delano Roosevelt. Franklin disebut merupakan seorang Mason level 32.
Kelompok ini percaya di lindugi Tuhan. Simbol mata satu adalah sebuah representasi Mason atas The Great Architect of the Universe atau Tuhan.
Sumber :
http://www.merdeka.com/peristiwa/freemason-lambang-mata-satu-dan-dolar-as.html
Freemason di Indonesia
Sejarah Freemason dan lambang mata satu di Indonesia
Simbol mata satu dan segitiga selama ini diidentikan dengan Freemason. Sejak sebelum Indonesia berdiri, Freemason sudah masuk ke Indonesia. Lantas apa sebenarnya Freemason atau Freemasonry itu?
Dikutip dari berbagai sumber, Freemason adalah sebuah organisasi rahasia alias bawah tanah yang memiliki pengikut di seluruh dunia. Organisasi ini berdiri sejak ratusan tahun silam.
Untuk menjadi anggota Freemason tidaklah mudah. Sebab, Freemason adalah organisasi tertutup dan ketat dalam menerima anggota. Tujuan utama Freemason adalah membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir.
Anda pasti tahu lagu 'Imagine' yang dinyanyikan John Lennon? Konon katanya, lagu tersebut bercerita soal tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai oleh Freemason.
Secara umum tujuan-tujuan pokok Freemason beberapa di antaranya yakni; menghapus semua agama, menghapus sistem keluarga, menjadikan manusia di seluruh dunia dalam sebuah kesatuan. Freemason juga dipercaya bertanggungjawab atas terjadinya tiga revolusi di dunia yakni Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris. Tak cuma itu, konon kabarnya Freemason juga ikut bertanggungjawab atas pecahnya Perang Dunia I. Bahkan, kematian Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln dan John F Kennedy juga dipercaya ada peran dari Freemason.
Di Indonesia, Freemason sudah ada sejak tahun 1736. Saat itu seorang Belanda bernama Jacobus Cornelis Mattheus datang ke Indonesia bersama VOC untuk berdagang di Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia.
Setelah beberapa lama tinggal di Batavia, Jacobus Cornelis mendirikan pusat aktivitas para anggota Freemason (logi). Waktu itu organisasi hanya menerima anggota yang berasal dari warga Belanda yang beranggotakan enam orang yang berasal dari kalangan petinggi militer dan sebagian lagi para pengusaha Yahudi.
Di Tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels akhirnya berhasil membekukan organisasi tersebut. Namun sayang di masa kepemimpinan Daendles berakhir organisasi ini akhirnya muncul kembali dengan membentuk anggota baru dari pedagang Tiongkok dan warga pribumi terutama para ningrat Nusantara.
Perkembangan organisasi ini sangat pesat. Beberapa tokoh-tokoh nasional dikabarkan pernah terlibat sebagai anggota Freemason, di antaranya; Raden Adipati Tirto Koesoemo, R.M. Adipati Ario Poerbo Hadiningrat dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat.
Tahun 1767 pada umumnya dianggap sebagai awal kehadiran Tarekat Mason Bebas yang terorganisir di Jawa. Selain melakukan pertemuan di loji-loji, mereka juga kerap melakukan pertemuan rahasia di kawasan Molenvliet yang kini menjadi Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk membahas mengenai pendirian loji tersebut.
Di tahun 1945-1950-an, loji-loji Freemason mulai banyak berkembang di Indonesia, beberapa orang pribumi juga ikut bergabung dalam kelompok ini. Mungkin pada masa itu, keikutsertaan mereka pada kelompok ini hanya untuk mencari sesuap nasi, atau mencari aman atau bisa pula hanya karena masalah politik.Setelah berdirinya loji-loji Freemasonry, banyak rakyat yang mulai resah akan adanya gedung tersebut, bahkan oleh kaum pribumi gedung itu disebut pula sebagai Rumah Setan. Mengapa disebut Rumah Setan? Sebab, di loji itu para Mason selalu melakukan ritual pemanggilan arwah orang mati.
Setelah Indonesia merdeka, rupanya kegiatan Freemason mengusik Presiden Soekarno. Sang proklamator lantas memanggil tokoh-tokoh Freemason tertinggi Hindia Belanda yang berada di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng) untuk mengklarifikasi hal tersebut pada Maret 1950.
Namun, para Mason mengelak atas tudingan ritual pemanggilan arwah orang mati. Kepada Soekarno, mereka berdalih istilah Rumah Setan yang disematkan warga pribumi kepada loji-loji Freemason kemungkinan berasal dari pengucapan kaum pribumi terhadap Sin Jan (Saint Jean) yang merupakan salah satu tokoh suci kaum Freemasonry.
Namun, Bung Karno tak begitu saja percaya atas dalil mereka. Bung Karno akhirnya pada Februari 1961, membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Pembubaran dan pelarangan tersebut dilakukan Bung Karno dengan mengeluarkan Lembaran Negara Nomor 18/1961.
Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala derivatnya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Blub, dan Bahaisme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.
Namun 38 tahun kemudian, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Keppres Nomor 264/1962 tersebut dengan mengeluarkan Keppres Nomor 69 Tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000.
Sumber :
http://www.merdeka.com/peristiwa/sejarah-freemason-dan-lambang-mata-satu-di-indonesia-splitnews-3.html
Simbol mata satu dan segitiga selama ini diidentikan dengan Freemason. Sejak sebelum Indonesia berdiri, Freemason sudah masuk ke Indonesia. Lantas apa sebenarnya Freemason atau Freemasonry itu?
Dikutip dari berbagai sumber, Freemason adalah sebuah organisasi rahasia alias bawah tanah yang memiliki pengikut di seluruh dunia. Organisasi ini berdiri sejak ratusan tahun silam.
Untuk menjadi anggota Freemason tidaklah mudah. Sebab, Freemason adalah organisasi tertutup dan ketat dalam menerima anggota. Tujuan utama Freemason adalah membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir.
Anda pasti tahu lagu 'Imagine' yang dinyanyikan John Lennon? Konon katanya, lagu tersebut bercerita soal tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai oleh Freemason.
Secara umum tujuan-tujuan pokok Freemason beberapa di antaranya yakni; menghapus semua agama, menghapus sistem keluarga, menjadikan manusia di seluruh dunia dalam sebuah kesatuan. Freemason juga dipercaya bertanggungjawab atas terjadinya tiga revolusi di dunia yakni Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris. Tak cuma itu, konon kabarnya Freemason juga ikut bertanggungjawab atas pecahnya Perang Dunia I. Bahkan, kematian Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln dan John F Kennedy juga dipercaya ada peran dari Freemason.
Di Indonesia, Freemason sudah ada sejak tahun 1736. Saat itu seorang Belanda bernama Jacobus Cornelis Mattheus datang ke Indonesia bersama VOC untuk berdagang di Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia.
Setelah beberapa lama tinggal di Batavia, Jacobus Cornelis mendirikan pusat aktivitas para anggota Freemason (logi). Waktu itu organisasi hanya menerima anggota yang berasal dari warga Belanda yang beranggotakan enam orang yang berasal dari kalangan petinggi militer dan sebagian lagi para pengusaha Yahudi.
Di Tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels akhirnya berhasil membekukan organisasi tersebut. Namun sayang di masa kepemimpinan Daendles berakhir organisasi ini akhirnya muncul kembali dengan membentuk anggota baru dari pedagang Tiongkok dan warga pribumi terutama para ningrat Nusantara.
Perkembangan organisasi ini sangat pesat. Beberapa tokoh-tokoh nasional dikabarkan pernah terlibat sebagai anggota Freemason, di antaranya; Raden Adipati Tirto Koesoemo, R.M. Adipati Ario Poerbo Hadiningrat dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat.
Tahun 1767 pada umumnya dianggap sebagai awal kehadiran Tarekat Mason Bebas yang terorganisir di Jawa. Selain melakukan pertemuan di loji-loji, mereka juga kerap melakukan pertemuan rahasia di kawasan Molenvliet yang kini menjadi Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk membahas mengenai pendirian loji tersebut.
Di tahun 1945-1950-an, loji-loji Freemason mulai banyak berkembang di Indonesia, beberapa orang pribumi juga ikut bergabung dalam kelompok ini. Mungkin pada masa itu, keikutsertaan mereka pada kelompok ini hanya untuk mencari sesuap nasi, atau mencari aman atau bisa pula hanya karena masalah politik.Setelah berdirinya loji-loji Freemasonry, banyak rakyat yang mulai resah akan adanya gedung tersebut, bahkan oleh kaum pribumi gedung itu disebut pula sebagai Rumah Setan. Mengapa disebut Rumah Setan? Sebab, di loji itu para Mason selalu melakukan ritual pemanggilan arwah orang mati.
Setelah Indonesia merdeka, rupanya kegiatan Freemason mengusik Presiden Soekarno. Sang proklamator lantas memanggil tokoh-tokoh Freemason tertinggi Hindia Belanda yang berada di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng) untuk mengklarifikasi hal tersebut pada Maret 1950.
Namun, para Mason mengelak atas tudingan ritual pemanggilan arwah orang mati. Kepada Soekarno, mereka berdalih istilah Rumah Setan yang disematkan warga pribumi kepada loji-loji Freemason kemungkinan berasal dari pengucapan kaum pribumi terhadap Sin Jan (Saint Jean) yang merupakan salah satu tokoh suci kaum Freemasonry.
Namun, Bung Karno tak begitu saja percaya atas dalil mereka. Bung Karno akhirnya pada Februari 1961, membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Pembubaran dan pelarangan tersebut dilakukan Bung Karno dengan mengeluarkan Lembaran Negara Nomor 18/1961.
Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala derivatnya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Blub, dan Bahaisme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.
Namun 38 tahun kemudian, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Keppres Nomor 264/1962 tersebut dengan mengeluarkan Keppres Nomor 69 Tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000.
Sumber :
http://www.merdeka.com/peristiwa/sejarah-freemason-dan-lambang-mata-satu-di-indonesia-splitnews-3.html
Sunday, February 1, 2015
Big Bang dan Inflasi Alam Semesta
Debu Mematahkan Temuan Terbesar tentang "Big Bang" dan Inflasi Alam Semesta
Maret 2014 lalu, para ilmuwan yang tergabung dalam misi BICEP mengklaim telah menemukan gelombang gravitasi mikro yang bergerak melewati ruang dan waktu dari masa sepertriliun triliun triliun setelah Big Bang.
Gelombang gravitasi mikro tersebut merupakan jejak dari inflasi kosmos, sebuah peristiwa di mana alam semesta mengembang dengan cepat segera setelah 13,7 miliar tahun lalu.
Temuan yang merupakan hasil pengamatan area langit miskin debu kosmos bernama "lubang langit" dengan teleskop canggih di Kutub Selatan itu disebut merupakan salah satu hasil riset fisika terbesar abad ini.
Saking pentingnya, temuan itu disebut berpotensi mengantarkan ilmuwannya meraih Nobel Fisika, sama halnya dengan penemuan Higgs boson alias "partikel Tuhan" pada tahun 2012 lalu.
Menemukan gelombang gravitasi mikro berarti ilmuwan mengonfirmasi kebenaran teori inflasi kosmos yang dikemukakan oleh fisikawan Alan Guth dan Andre Linde pada tahun 1980, sekaligus mengungkap rahasia mengapa semesta menjadi begitu besar.
Kini, kajian ulang yang dilakukan oleh tim BICEP dan Plack Consortium mematahkan temuan besar itu. Gelombang gravitasi mikro yang diklaim telah ditemukan ternyata merupakan hasil noise oleh debu galaksi.
"Analisis ini menunjukkan bahwa jumlah gelombang gravitasi mungkin tak lebih dari setelah dari sinyal yang terobservasi," kata Clenn Pyrke dari University of Minnesota, anggota tim Bicep seperti dikutip New York Times, Jumat (30/1/2015)
"Kami tak bisa memastikan apakah masih ada sinyal gelombang gravitasi yang tersisa," kata Pyrke. "Pastinya, kami tak senang, tapi kami ilmuwan dan tugasnya ialah mengungkap kebenaran. Dalam proses ilmiah, kebenaran akan terkuak," imbuhnya.
Debu yang Mematahkan
Untuk membuat temuan besar tahun lalu, tim BICEP menggunakan detektor super sensitif pada teleskop di Antartika. Detektor itu akan mencari cahaya yang datang dari masa awal alam semesta, disebut radiasi gelombang mikro kosmik.
Pada dasarnya, yang dicari adalah pola putaran dalam polarisasi cahaya. Pola inilah yang menjadi dasar prediksi inflasi kosmos, gagasan bahwa semesta segera mengembang setelah Big Bang.
Pola putaran, disebut sebagai mode B, sekaligus juga merupakan jejak dari gelombang gravitasi yang terdapat seiring terjadinya peristiwa besar pembentuk alam semesta hampir 14 miliar tahun lalu.
Mendeteksi mode B bukan hal yang mudah. Dalam proses deteksi, sangat mungkin ilmuwan menemukan mode B "palsu". Itu bisa terjadi ketika gelombang mikro kosmik melewati obyek masif seperti galaksi raksasa. Efek itu harus dikurangi dalam analisis.
Hal lain yang mungkin memicu penemuan mode B "palsu" adalah debu galaksi Bimasakti. Debu tersebut bisa menghasilkan polarisasi cahaya dan pola serupa dengan mode B. Dalam analisis, efek itu harus dihilangkan.
Dalam risetnya tahun lalu, tim BICEP telah menggunakan data selengkap mungkin guna mencegah hasil palsu. Sayang, tim BICEP tak punya akses data pengamatan teleskop Planck milik Badan Antariksa Eropa (ESA).
Planck memetakan gelombang mikro di alam semesta pada sembilan frekuensi sementara tim BICEP hanya pada satu frekuensi. Alhasil, kemungkinan tim BICEP menemukan mode B palsu masih besar.
Tim BICEP dan Planck bekerjasama sejak Juni lalu untuk mengkaji ulang temuan sebelumnya. Lewat kajian ulang itu, tim menemukan bahwa sinyal yang dideteksi tim BICEP tak bisa dipisahkan dengan noise yang mungkin muncul karena debu dan galaksi.
"Hasil kerjasama menunjukkan, deteksi mode B primordial tak lagi kuat begitu emisi dari debu galaksi dihilangkan. Jadi, kita belum bisa memastikan bahwa sinyal memang jejak inflasi kosmmos," kata Jean Loup Puget, pimpinan investigasi instrumen Planck HFI, dikutip BBC, Jumat.
Bukan Akhir
Meski temuan jejak inflasi kosmos ini dipatahkan, misi untuk meneruskan lagi pencariannya masih akan terus dilanjutkan. Sejumlah eksperimen akan digelar untuk mencari mode B dengan teknologi detektor dan teleskop yang lebih canggih.
Michael Turner, kosmolog dari University of Chicago, mengungkapkan, "Kosmos yang mengembang adalah gagasan yang paling penting dalam kosmoslogi setelah Big Bang." Mengungkapnya adalah tantangan bagi para ilmuwan.
http://sains.kompas.com
Maret 2014 lalu, para ilmuwan yang tergabung dalam misi BICEP mengklaim telah menemukan gelombang gravitasi mikro yang bergerak melewati ruang dan waktu dari masa sepertriliun triliun triliun setelah Big Bang.
Gelombang gravitasi mikro tersebut merupakan jejak dari inflasi kosmos, sebuah peristiwa di mana alam semesta mengembang dengan cepat segera setelah 13,7 miliar tahun lalu.
Temuan yang merupakan hasil pengamatan area langit miskin debu kosmos bernama "lubang langit" dengan teleskop canggih di Kutub Selatan itu disebut merupakan salah satu hasil riset fisika terbesar abad ini.
Saking pentingnya, temuan itu disebut berpotensi mengantarkan ilmuwannya meraih Nobel Fisika, sama halnya dengan penemuan Higgs boson alias "partikel Tuhan" pada tahun 2012 lalu.
Menemukan gelombang gravitasi mikro berarti ilmuwan mengonfirmasi kebenaran teori inflasi kosmos yang dikemukakan oleh fisikawan Alan Guth dan Andre Linde pada tahun 1980, sekaligus mengungkap rahasia mengapa semesta menjadi begitu besar.
Kini, kajian ulang yang dilakukan oleh tim BICEP dan Plack Consortium mematahkan temuan besar itu. Gelombang gravitasi mikro yang diklaim telah ditemukan ternyata merupakan hasil noise oleh debu galaksi.
"Analisis ini menunjukkan bahwa jumlah gelombang gravitasi mungkin tak lebih dari setelah dari sinyal yang terobservasi," kata Clenn Pyrke dari University of Minnesota, anggota tim Bicep seperti dikutip New York Times, Jumat (30/1/2015)
"Kami tak bisa memastikan apakah masih ada sinyal gelombang gravitasi yang tersisa," kata Pyrke. "Pastinya, kami tak senang, tapi kami ilmuwan dan tugasnya ialah mengungkap kebenaran. Dalam proses ilmiah, kebenaran akan terkuak," imbuhnya.
Debu yang Mematahkan
Untuk membuat temuan besar tahun lalu, tim BICEP menggunakan detektor super sensitif pada teleskop di Antartika. Detektor itu akan mencari cahaya yang datang dari masa awal alam semesta, disebut radiasi gelombang mikro kosmik.
Pada dasarnya, yang dicari adalah pola putaran dalam polarisasi cahaya. Pola inilah yang menjadi dasar prediksi inflasi kosmos, gagasan bahwa semesta segera mengembang setelah Big Bang.
Pola putaran, disebut sebagai mode B, sekaligus juga merupakan jejak dari gelombang gravitasi yang terdapat seiring terjadinya peristiwa besar pembentuk alam semesta hampir 14 miliar tahun lalu.
Mendeteksi mode B bukan hal yang mudah. Dalam proses deteksi, sangat mungkin ilmuwan menemukan mode B "palsu". Itu bisa terjadi ketika gelombang mikro kosmik melewati obyek masif seperti galaksi raksasa. Efek itu harus dikurangi dalam analisis.
Hal lain yang mungkin memicu penemuan mode B "palsu" adalah debu galaksi Bimasakti. Debu tersebut bisa menghasilkan polarisasi cahaya dan pola serupa dengan mode B. Dalam analisis, efek itu harus dihilangkan.
Dalam risetnya tahun lalu, tim BICEP telah menggunakan data selengkap mungkin guna mencegah hasil palsu. Sayang, tim BICEP tak punya akses data pengamatan teleskop Planck milik Badan Antariksa Eropa (ESA).
Planck memetakan gelombang mikro di alam semesta pada sembilan frekuensi sementara tim BICEP hanya pada satu frekuensi. Alhasil, kemungkinan tim BICEP menemukan mode B palsu masih besar.
Tim BICEP dan Planck bekerjasama sejak Juni lalu untuk mengkaji ulang temuan sebelumnya. Lewat kajian ulang itu, tim menemukan bahwa sinyal yang dideteksi tim BICEP tak bisa dipisahkan dengan noise yang mungkin muncul karena debu dan galaksi.
"Hasil kerjasama menunjukkan, deteksi mode B primordial tak lagi kuat begitu emisi dari debu galaksi dihilangkan. Jadi, kita belum bisa memastikan bahwa sinyal memang jejak inflasi kosmmos," kata Jean Loup Puget, pimpinan investigasi instrumen Planck HFI, dikutip BBC, Jumat.
Bukan Akhir
Meski temuan jejak inflasi kosmos ini dipatahkan, misi untuk meneruskan lagi pencariannya masih akan terus dilanjutkan. Sejumlah eksperimen akan digelar untuk mencari mode B dengan teknologi detektor dan teleskop yang lebih canggih.
Michael Turner, kosmolog dari University of Chicago, mengungkapkan, "Kosmos yang mengembang adalah gagasan yang paling penting dalam kosmoslogi setelah Big Bang." Mengungkapnya adalah tantangan bagi para ilmuwan.
http://sains.kompas.com
Subscribe to:
Posts (Atom)