Thursday, May 1, 2025

Tak Usah Melawan Letihmu, Biarkan Jasad Berhenti Sejenak dan Mengingat Cara Sembuh

Dalam dunia yang terus berputar cepat, kita diajarkan untuk tidak berhenti. Segalanya harus diselesaikan segera. Tubuh harus kuat. Pikiran harus sigap. Tak jarang kita menafikan tanda-tanda letih yang diberikan jasad, seolah lelah adalah kelemahan yang harus disembunyikan. Padahal, letih adalah pesan lembut dari tubuh: "Aku butuh jeda."

Letih bukan musuh yang harus dilawan. Ia adalah sinyal bahwa jasad telah bekerja melampaui kapasitasnya, dan sekarang ia meminta ruang untuk memulihkan diri. Menolak lelah hanya akan membuat tubuh menjerit lebih keras, entah melalui nyeri yang samar atau sakit yang akhirnya tak bisa lagi diabaikan.

Maka, tak usah melawan letihmu. Biarkan jasad berhenti sejenak. Dalam hening dan istirahat itulah tubuh menemukan kembali iramanya. Pemulihan bukan sekadar soal tidur malam yang cukup, tetapi tentang memberi ruang bagi tubuh untuk mengenali dirinya sendiri—apa yang terasa nyeri, apa yang kurang nutrisi, apa yang terlalu sering diabaikan.

Jasad punya ingatan. Ia tahu cara sembuh, selama kita tidak terus-menerus mengintervensi prosesnya dengan tuntutan tanpa henti. Terkadang yang dibutuhkan bukan obat, tapi kehadiran: napas yang melambat, langkah yang diperlambat, dan hati yang tidak lagi mendesak diri untuk terus berlari.

Cobalah sekali-sekali menyapa tubuhmu dengan kasih. Letakkan tangan di dada, tarik napas dalam, dan tanyakan, "Apa yang kamu butuhkan hari ini?" Barangkali jawabannya bukan produktivitas, melainkan tidur siang. Mungkin bukan lari pagi, melainkan diam di bawah matahari pagi.

Tak usah malu untuk berhenti. Berhenti bukan berarti gagal. Justru dengan berhenti, kita memberi tubuh kesempatan untuk menjadi utuh kembali. Pemulihan tidak datang dari kecepatan, melainkan dari perhatian dan kelembutan.

Biarkan jasadmu berhenti sejenak. Di sanalah, perlahan, ia akan mengingat cara sembuh yang alami dan penuh keajaiban.

No comments:

Post a Comment